Pada suatu kali selesai meeting di kantor pusat

 Berita tentang kecelakaan pesawat selalu menggelitik buat aku. Pengalaman pertama berhadapan dengan jatuhnya pesawat adalah di tahun 1997 ketika pesawat Garuda Indonesia jatuh di Buah Nabar. Salah seorang atasan ibuku di kantornya yang sangat lemah lembut penuh kehangatan baik hati dan tidak sombong merupakan penumpang pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut. Ibu Ana kami memanggilnya adalah orang yang sangat manis dan inspiratif. Kecelakaan itu sangat mengejutkan karena berita seperti iitu jarang terjadi sebelumnya. Aku sempat berpikir betapa mengerikannya, ternyata maskapai se- bergengsi itu juga bisa jatuh. Namanya kehendak Allah siapa yang bisa melawannya.  Kita bisa dipanggil sekehendak-Nya.

Pengalaman batin luar biasa terkait mengerikannya penerbangan bermasalah akhirnya aku rasakan juga di sepanjang karirku sebagai perempuan bekerja sebelum ini.  Aku pernah sangat dekat dengan berbagai perjalanan dengan pesawat. Di akhir karirku sebelum memutuskan  resign, hampir setiap hari pasti ada agenda keluar kota. Aku  mencoba hampir semua maskapai penerbangan bahkan sampai bisa tahu masing-masing penerbangan itu dimana letak keunggulan dan kelemahannya berdasarkan pengalaman menjadi penumpang di penerbangan mereka. Bagaimana perilaku para pramugarinya sampai bagaimana tehnik pilotnya mendaratkan pesawat di landasan. Beberapa maskapai penerbangan terkenal dengan makanannya yang enak,  pramugarinya yang cantik dan ramah serta pelayanan pelayanan spesifik yang mungkin tidak terdapat di maskapai penerbangan yang lain. Ciri karakter pramugari dan pramugara di masing-masing maskapai juga berbeda. Ada yang stylish ada yang formal dan  konvensional, ada yang energik dan masakini. Ada maskapai yang sejak berangkat hingga pulang selalu mengumbar pantun, ada juga maskapai yang sangat terkenal dengan image “raja delay”. Maskapai tertentu juga kadang Pilotnya ngasal aja saat mendarat. Ada Pilot maskapai tertentu yang walau cuaca buruk tetap smooth mengendalikan pesawat di udara. Itu jarang sekali didapat. Maskapai bergengsi juga tak selalu hebat.  Maskapai penerbangan yang sangat terkenal di negara ini juga kadang mengalami kendala dalam penerbangan. Cuaca tidak selalu bagus walau skill yang dimiliki pilot sangat berpengaruh pada asik atau tidaknya sebuah penerbangan. Sejak tahun 1967 hingga 1978 pernah terjadi 36 kali jumlah kecelakaan pesawat di Indonesia (sumber : Wikipedia). Penyebabnya ada macam-macam. Kadang-kadang udara dan awan tak selalu bersahabat dengan penerbangan. Pesawat Sriwijaya yang jatuh itupun aku pernah menaikinya.

source by google

Ketika masih bekerja aku rata-rata dalam satu bulan lebih dari 10 kali terbang dengan pesawat. Bisa dibayangkan aneka pengalaman yang aku alami selama pesawat itu terbang di udara. Enak? huft pengalaman terbang yang aku alami tidak selalu manis  ada juga  yang menegangkan. Di satu sisi aku happy karena bisa mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang banyak di perjalanan tapi di sisi yang lain  sering merasakan ketakutan di setiap penerbangan. Karena pada dasarnya aku adalah orang yang phobia ketinggian.  Diantara pengalaman buruk yang pernah kualami diantaranya aku pernah merasakan bagaimana tidak bisa landing di Nias karena cuaca sangat buruk dan pesawat terombang-ambing di antara dedaunan pohon kelapa. Angin kencang, disinyalir Pilot yang mengemudikan pesawat itu tak melihat dimana landasan untuk mendarat. Gelap katanya.  Saat itu aku berangkat bersama salah seorang pejabat di kantorku tapi sekarang beliau sudah meninggal dunia. Ada kegiatan sosialisasi disana dan aku yang bertugas menjalankan kegiatan itu. Dalam keadaan kalut tidak bisa kembali ke Medan kami bahkan sempat bercanda :  “Wah kita bisa kehabisan pakaian dalam nih.” canda beliau sambil mencoba menepis rasa takut. Kami berusaha bercanda sambil menatap gelombang  laut yang sangat besar ketika hujan saat itu. Padahal hati sudah sangat kecut. Aku membayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak dan suamiku jika aku tidak bisa pulang dengan selamat dalam penerbangan saat itu. Tapi itu bukan ketakutan satu-satunya. Kadang untuk menepis rasa takut aku sering menghabiskan waktu selfi gak jelas di bandara. hahahahah

Foto Selfi gak jelas di Bandara untuk menghilangkan rasa takut




Aku terus mengalami berbagai ketakutan di banyak kesempatan lain. Tapi aku harus memberanikan diri,  aku tetap terus terbang dari satu kota ke kota lain demi pekerjaan. Bukan, bukan karena aku ketagihan naik pesawat melainkan karena tanggung jawab terhadap pekerjaan saat itu membuat aku tidak punya pilihan untuk terus terbang. Sebagai orang yang punya komitmen besar terhadap pekerjaan dan tanggung jawab serta loyalitas kepada perusahaan aku dituntut untuk selalu harus bisa mengalahkan rasa takut di atas segala-galanya. Kadang untuk menyenangkan diri sendiri berusaha menanamkan dalam kepala bahwa Allah pasti menjaga jika terus berdoa. Nggak perlu juga mengadu kepada orang lain karena orang lain pun gak akan memberikan solusi. Aku harus berpikir besar dan jadi tegar dengan pekerjaan ini serta  tidak mau terlihat lemah di mata orang-orang hanya gara-gara ketakutan ku melawan awan. Awan nggak selalu cerah awan juga nggak terlalu mendung bahkan bisa terjadi berbagai hal dalam cerah cerianya awan saat itu. Tak ada yang bisa memprediksi sebuah perjalanan jauh. 

Dalam salah satu penerbangan aku pernah merasakan sangat kesakitan ketika otot bahu kurobek di atas pesawat. Ya akibat salahku sendiri aku membawa terlalu banyak beban dalam ransel di punggungku yang kugendong kemana-mana. Lebih dari 12 kg beratnya.  Aku nggak bisa menyalahkan siapa-siapa semua hal yang terjadi padaku akibat kesalahan  diri sendiri bukan orang lain. Ketika tiba tiba otot bahu itu slip aku langsung panas dingin di pesawat. Berdenyut dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tapi gak bisa berbuat apa-apa. Saat itu terjadi aku juga gak tahu bahwa itu akibat otot bahu robek. Huft..   Akibat kejadian itu aku bergantung pada alat alat fisioterapi selama 2 tahun di salah satu rumah sakit besar di kota Medan. Untung aku punya bos baik hati yang mengizinkan untuk memenuhi jadwal fisioterapi terkadang di jam kerja. Yang penting target tercapai dan pekerjaan dibereskan. Sebetulnya aku malas harus mendatangi rumah sakit untuk melakukan rangkaian fisioterapi yang cukup lama durasinya. Selain bergantung pada treatment,  aku harus menjaga gerak badanku tidak boleh duduk terlalu banyak variasinya,  tidak boleh berdiri terlalu lama, tidak boleh terlalu banyak berjalan duduk wajib bersandar dan hanya boleh maksimal durasinya 1,5 jam. Per durasi itu aku harus rebahan dulu agar tidak kenapa-napa.  Tidak boleh membawa beban berat lebih dari 1,5 kg beratnya. Kadang-kadang aku dimarahin dokter jika tiba-tiba saja otot bahu ini meradang karena aku melanggar aturan yang sudah ditetapkan dalam keadaan normal saja kekadang tas yang tersampir di bahuku beratnya 7 kg hahahaha… Namanya juga miss rempong. Segala toilet dan  dapur dibawa buat jaga jaga. hmmm

Terapi lebih dari dua thun membuat bosan
Pernah juga aku harus terbang untuk memenuhi undangan meeting ke kantor pusat. Pesawatku mengalami turbulensi 10 meter jeblos ke bawah sejeblos jeblosnya. Aku pikir itu  adalah hari terakhirku menghirup nafas gratis di dunia ini. Aku memegangi Alquran yang selalu aku bawa kemana-mana dengan sangat erat. Seluruh penumpang merasa ketakutan. Makanan berhamburan kemana-mana lampu pesawat mati aku hanya bisa istighfar dan menyebut nama Allah berpuluh kali menjerit-jerit. Bersama puluhan penumpang yang lainnya kami menyebutkan asma Allah, menyebut nama Yang maha Kuasa dengan cara kami masing- masing. Kepalaku berputar-putar aku berfikir andaikan pesawat jatuh di laut apa yang harus aku lakukan? Andai pesawat ini nyangkut di pohon aku harus apa? dan andai pesawat ini meledak tiba-tiba bagaimana dengan anak-anakku ? Apakah mereka mendoakan aku atau tidak? Pikiranku berkecamuk dan kalut. Badanku jadi panas dingin sungguh pikiranku langsung terhenti tak tahu mau berpikir apa nggak tahu mau berkata apa yang ada hanya ketakutan luar biasa. Aku betul betul berdoa sama Allah : “Kalau aku  mau mati dengan wajar aku mau mati dengan baik-baik aku tidak mau mati dalam keadaan seperti ini ya Allah. Mudahkan mudahkan mudahkan… peliharalah ya Allah”. Aku terus berdoa dalam setiap perjalanan kemanapun aku pergi termasuk saat itu .Aku tidak mau menyulitkan orang lain. Pramugari sudah tiarap kami semua sudah menundukkan kepala aku takut pesawat itu akan meledak saat itu. Tapi alhamdulillah Allah berketentuan lain.  Kami diselamatkan 10 menit kemudian pesawat berada dalam keadaan normal dan lampu pesawat kembali hidup tapi kurang lebih 10 menit  dalam keadaan terombang-ambing itu sangat menakutkan dan membuat aku trauma.

Aku juga bahkan pernah terbang dalam kabut. Saat itu penerbangan Sumatera Selatan dihebohkan dengan kasus pembakaran hutan dan kabut yang tebal luar biasa. Bandara di Jambi sempat ditutup tapi pekerjaanku disana dituntut juga harus berjalan. Aku harus transit di beberapa bandara, turun di Palembang terlebih dahulu kemudian harus  naik mobil travel menuju ke kota Jambi kurang lebih 8 jam. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan. Tapi atas nama tanggung jawab dan pekerjaan usaha untuk maksimal dalam perjalanan itu. Di langit pesawat sangat goyang ketika di darat perjalanan dengan mobil pun sangat pelan pelan sekali karena pandangan sopir ketika mengendarai mobil terhalang oleh kabut. Perjalanan harus menggunakan masker selama berjam-jam itu bikin sesak nafas. Sungguh nggak enak tapi the show must go on. Aku berhasil pulang dengan selamat walau perjalanannya jadi lebih panjang.

“Pak, saya capek saya mau berhenti terbang. Saya capek dan lelah.” Aku pernah berkata begitu kepada atasanku.  Tapi beliau terus  menyemangati dia bilang  : “Kalau bukan kamu terus siapa? kalau kamu ketakutan terus bagaimana pekerjaan kamu. Please jangan cengeng kamu harus kuat menghadapinya! mana Siska yang saya kenal ?” Simpel sih nasehatnya tapi complicated pelaksanaannya. Mengalahkan diri sendiri kan pasti lebih sullit.  Tapi kalimat itu terus memicu dan memacu Aku untuk bisa bangkit mengalahkan ketakutan padahal sebagai perempuan yang normal semandiri - mandirinya Aku tetap punya rasa takut. Biasanya aku suka mengunggah foto sepatu yang aku pakai di setiap penerbangan ke media sosial pribadiku. sebagai pengingat saja bahwa kaki ini sudah cukup lelah berjalan kemana-mana.

foto sepatu, obat mati gaya sebelum terbang hahaha   



Aku juga pernah mengalami pendarahan dalam sebuah penerbangan. Ya, medannya cukup menegangkan. Untungnya itu terjadi saat pesawat sudah hampir landing. Perutku melilit. Aku demam dan meriang menggigi tapi berusaha menahan. yang aku cegah jangan sampai aku pingsan sebelum pesawat mendarat.  Cuaca sangat buruk sehingga perjalanan malam saya saat itu memang agak goyang seperti berjalan di jalanan berbatu lagi terjal.  Aku takut luar biasa tapi tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan sampai tulisan ini Aku upload suamiku nggak pernah tahu bahwa Aku pernah mengalami pendarahan hebat di pesawat. Aku nggak mau bikin suami jadi khawatir. Toh kalau pun aku melaporkan. Berdasarkan pengalaman, aku memang lebih paham soal Rumah Sakit daripada beliau. Karena rajinnya aku mengurusi keluarga yang sakit. Cerita tentang pendarahan itu saksinya hanya 2 orang yaitu Fenty, almarhum adik saya dan Mba Vera, salah satu rekan kerja saya sekantor beda cabang. Beliau memang sangat care kepada saya. Saat aku hidupkan HP disaat riwehnya menuju rumah sakit Mba Vera dan Fenty kebetulan sedang ngechat menanyakan kabarku. Mungkin mereka punya firasat gak enak. Saat itu aku sudah telat datang bulan sebenernya  dan aku berharap itu akan jadi kehamilan kedua yang terus tumbuh tapi ternyata Allah berkehendak lain. Akibat pendarahan yang hebat itu, begitu pesawat landing Aku langsung order taksi menuju ke rumah sakit. Aku disuntik oleh dokter kehamilan itu tak terselamatkan. Dan aku pulang seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. Benar-benar lelah dan malas dan tak punya kekuatan lagi untuk menceritakannya. Keesokan harinya aku sudah bekerja kembali seperti biasa dan beberapa setelah itu aku sudah ada terbang lagi ke kota berikutnya dengan tanggung jawab lain yang berbeda.

Begitulah balada ketika seorang perempuan yang memilih untuk bekerja di luar rumah jauh dari suami dan anak-anaknya. Kita dituntut nggak boleh manja kita dituntut nggak boleh mengeluh. Kepala ini hanya dipenuhi dengan target target target dan kepentingan di luar diri sendiri. Untuk waktu introspeksi bahkan aku nggak punya saking seringnya aku memikirkan hal-hal lain di luar diri.

Selama terbang Aku tidak hanya punya pengalaman buruk. Ada juga rangkaian pengalaman positif. Setidaknya hidayah dalam  proses perjalanan hijrah kudapat di pesawat. Seringkali Aku bertemu dengan Bapak Ibu atau orang-orang lain anak muda yang kami sama-sama sholat di pesawat. Kadang-kadang jam penerbangan itu tidak mengenal waktu bisa bisa bersamaan dengan adzan maghrib atau Isya atau bahkan subuh. Daripada telat aku sering sholat di pesawat . Ibadah ketika berada di dalam pesawat itu kadang membuat Aku lebih merinding daripada kita sholat di darat. Aku merasa lebih khusuk. Merasa jauh lebih dekat kepada Allah ketika sholat dan membaca Alquran di antara gerak awan. Sesekali aku menatap awan sesekali aku membaca kalimat-kalimat di dalam Alquran. Betapa indahnya…

Kadang-kadang Aku merindukan suasana itu. Tapi ketakutan saat ini justru lebih mendera ketika aku sudah 4 tahun tidak lagi terbang. Terlanjur tak biasa. Oh iya pengalaman  terbang yang mengesankan di luar pekerjaan juga aku pernah rasakan. Ketika aku membawa anak-anakku terbang ke Jogja untuk liburan. Ya Walaupun sibuk dengan pekerjaan aku sangat concern untuk memberikan pengalaman-pengalaman baik batin maupun lahiriah kepada anak-anakku. Aku mau semua pengalaman pertamanya aku yang mengajarkannya. Saat itu mereka masih masih SD dan aku yang memang di rumah selalu membuat aktivitas tambahan untuk pengalaman mereka waktu itu sedang ingin menyampaikan materi "Mengenal transportasi darat, laut dan udara yang ada  di Indonesia".  saat itu memang timingnya  tepat membawa mereka melakukan perjalanan dengan pesawat. Sekalian eksplore  destinasi wisata juga yang ada di Jogja saat mengunjungi adik ipar yang kuliah di sana.  Aku ingin sebagai anak laki-laki nantinya mereka akan bisa terbang kemanapun mengejar cita-cita mereka. Tapi itu harus jadi modal untuk bermanfaat bagi orang lain aku nggak ngizinin Kalau mereka hanya sekedar terbang untuk kepuasan batinnya saja. Harus menjadi orang yang bermanfaat dan aku mau memberikan pengalaman itu sejak mereka masih anak-anak. Semoga Allah memampukan mereka.

Ngajak liburan Syaffa Ammar ke Jogja, untung penerbangan bersahabat
Waktu itu penerbangannya nyaman jadi Syaffa ammar bisa sambil nulis pengalaman terbangnya di pesawat.


Yang paling pamungkas, Ilmu tentang riba yang membuat aku meninggalkan pekerjaan lamaku juga aku dapatkan di penerbangan saat aku mau berangkat dari Medan menuju ke Jambi beberapa tahun lalu. Seorang bapak berjanggut dan bercelana cingkrang dengan peci putih menuliskan 4 huruf itu dalam sebuah kertas ketika dia menanyakan padaku tujuan perjalananku. Dia kaget ketika aku bilang aku bekerja di sebuah Bank dan sedang menuju ke Jambi untuk bekerja. Aku, perempuan bergamis, berjilbab lebar berjalan sendirian melewati 3 bandara di pukul 22.00 malam untuk bekerja buat sebuah bank. Rasa herannya disampaikan dalam ekspresi aneh. kalau sedang melakukan perjalanan sendirian dulu aku juga sering menggunakan gamis di perjalanan. Selain untuk belajar aku pikir itu caraku menjaga diri dari gangguan.   Dia terperanjat. Aku tetap santai dan memilih tidak berdebat. . Hehehe.. beliau bercerita bagaimana istrinya yang pendidikannya S2 memutuskan tidak bekerja di luar rumah untuk mengurusi anak-anaknya hingga mengantarkan mereka menjadi penerima  beasiswa yang hebat dari negara lain. Dia menerangkan soal aturan Safar (perjalanan) bagi perempuan. Dia bilang dalam Islam ada kaidah yang harus ditaati bagi seorang perempuan ketika memutuskan akan melakukan perjalanan.  Saat itu aku akan transit di Jakarta dan beliau juga tujuannya ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan.  Aku masih harus berjalan lagi ke Jambi sendirian. Ceritanya membuat aku tidak bisa tidur semalaman ketika aku sudah sampai di kota Jambi. Di jambi,  aku akhirnya bekerja dengan kantung mata karena begadang memikirkan cerita semalam. Aku kembali ketakutan tidak tenang dan mau cepat-cepat pulang. Cerita dalam pesawat itu akhirnya membuat aku terus bergerak tidak berhenti untuk mencari informasi dan belajar tentang Islam, tentang fitrah perempuan dan ibu dalam hidup ini. Cerita singkat itu membuat aku ingin lebih banyak belajar mengaji. Sejak saat itu aku bergerilya dan tak bosan mencari guru sebanyak-banyaknya. Akhirnya rangkaian ketakutan dalam perjalanan itu mengantarkan aku sampai ada di titik hari ini. Mungkin kalau Allah tidak berkali -kali memberikan ketakutan, aku akan merasa sudah puas diri saja. Aku sangat bersyukur Allah masih sayang dan  memberikan kesempatan.

Perjalanan kerja terakhir sebelum resign.

Betapa banyak pembelajaran yang bisa diambil dari sebuah musibah. Termasuk hari ini aku bisa mereview kembali sedikit cerita  perjalanan yang pernah aku lalui kemarin- kemari sebagai bahan introspeksi. Dari berbagai pengalaman itu, aku belajar jadi orang yang dewasa dan bertanggungjawab. Tidak cengeng dan tahu diri. Dari ketakutan itu aku berusaha memperbaiki diri yang jauh dari baik. Aku juga meyakini bahwa maut akan mengintai kita dimanapun kapanpun. tidak hanya dalam sebuah penerbangan.. Hari ini aku bisa merasakan ketakutan para penumpang sebelum pesawat yang hilang dan jatuh itu. Setidaknya aku pernah beberapa kali mengalami ketakutan yang sama. Apapun, harapanku Semoga Allah memberikan ketetapan yang paling baik untuk seluruh penumpang pesawat Sriwijaya Air SJA 182. Semoga ditempatkan di tempat terbaik oleh Allah. Semoga mereka husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan bisa ikhlas melewati ujian ini.. Amin. 


 






 


Ketika grup Blogger Sumut ramai membicarakan tema tulisan untuk diunggah saat Hari Blogger Nasional, saya cuma silent reader doang yang maju mundur mau nulis hahha akibat jam  mengajar yang sedang padat dan saat ini saya berada di dalam sebuah riset bersama Asosiasi. At least, saya lagi riweh ke lapangan buat ambil data dan bergelut dengan catatan lapangan setelahnya. Tapi, dalam hati ingin sekali ikut berpartisipasi dengan kawan-kawan.

Gag mood” jadi alasan untuk mengkambinghitamkan rasa malas. Namun akhirnya dengan mengerahkan segenap jiwa, Voila … akhirnya Saya terbitkan tulisan ini. Saya berusaha mengingat lagi apa saja yang saya kerjakan selama pandemi ..

 

Stay at Home, Work from Home

Sejak empat tahun lalu saya memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan sebagai banker, saya memang sudah komit untuk "pulang ke rumah" mendedikasikan diri untuk kepentingan pasangan dan anak-anak. Qadarullah, muncul pandemi tujuh bulan belakangan ini. Di saat orang banyak yang merasa stres dengan kondisi akhir ini, entah kenapa Saya justru bersyukur karena  keadaan ini sangat mendukung komitmen yang saya tetapkan. Semuanya terasa lebih mudah. Keluar rumah hanya untuk belanja atau keperluan lainnya yang berstatus gawat darurat saja itu membuat saya menjadi memutar akal untuk lebih kreatif. Saya lebih bisa memanjakan anak dan pasangan dengan membuat menu makanan baru yang meningkatkan semangat makan mereka.Saya punya banyak waktu menemani anak - anak belajar yang berani, memberikan ekstra ilmu yang sesuai dengan kesukaan mereka. Salah satu dari kembar saya bisa meningkatkan prestasi di dunia tulis dan baca puisi dimana saya sendiri bertindak sebagai mentornya. Sebagai mantan orang panggung saya bisa mengeluarkan semua ilmu yang pernah saya coba untuk meningkatkan potensi belajar anak saya. Saya menciptakan suasana belajar dan berkomunikasi yang bahagia di rumah. Paling enggak saya refresh dan terapkan ilmu pengelolaan kelas  yang saya dapat saat kuliah untuk praktek belajar di rumah. Alhamdulillah anak anak jadi lebih mandiri dan menikmati belajar daring

“Kami mau terus belajar di rumah aja sama Mama, Ma ..” pengakuan mereka. Hestek stay at home dan work from home akhirnya membuat bonding antara saya dengan suami semakin kuat. Kami bisa membahas proses dan materi belajar daring bersama, makan bersama setiap hari, dan lain - lain. Buat saya, ini benar benar sebuah nikmat. Saya bisa memaksimalkan tanggung jawab saya di rumah dalam kesulitan ini.        

Job Influencer

Sesungguhnya saya juga grogi jika disebut influencer hahahha tapi Alhamdulillah ada saja pekerjaan yang terkait dengan pekerjaan tersebut. Kemaren sempat berfikir pandemi akan sepi job tapi ternyata enggak hahahha .. ada sajalah walau tak banyak.

 


Buka outlet usaha di rumah

Membuka outlet di rumah juga merupakan rencana sudah lama sekali dirancang. Tidak besar karena concernnya bukan pada perbesaran dan perkembangan. Sejak awal Saya menjadikan bisnis sebagai alat berbagi buat orang lain. Saya bisa berbagi melalui kelas kelas masak, kelas kerajinan dan yang lain yang terkait dengan usaha saya. Usaha ini juga bisa menjadi jembatan pembuka kerjasama dengan berbagai pihak. Beberapa pesantren, komunitas, hotel, dan beberapa kampus memutuskan bekerjasama dengan mumubutikue. Tidak hanya Medan bahkan Banda Aceh. Wujud kerjasamanya juga macam –macam. Alhamdulillah lagi saat pandemi saya malah bisa menambah pekerja 3 orang lagi.   Saat perusahaan raksasa mem PHK karyawan bahkan pailit, setidaknya saya  bisa dipercaya Allah menjadi jalan rezeki orang yang ada di dekat saya. Jadi gak perlu menunggu  omset milyaran untuk bisa berbagi. Saya berbisnis dengan cara saya sendiri. Walau ada cibiran dalam setiap prosesnya, walau menurut orang ini adalah  usaha abal-abal, it's okey, Saya bertanggung jawab apapun hanya-mata hanya pada Allah. Saya tidak perduli dengan pandangan manusia. Selain kepuasan batin, usaha ini juga mendapat kebanggaan lain yang membuka jalan baru. PIRT mumubutikue keluar di tengah pandemi. Untuk mengambilnya pun dengan protokoler kesehatan penuh. Allah memang punya rahasia besar buat masing-masing umatnya.  Kami diberi kesempatan menerima pendampingan dari lembaga independen yang tidak hanya dikenal secara Nasional tapi juga Internasional. BUsiness and Export Development Organization (BEDO) memilih kami menjadi salah satu UKM yang diberikan pendampingan dan bantuan usaha. Tentunya sesuai kapasitas kami. Sebagai binaan salah satu dinas, ternyata kami juga mendapatkan kesempatan menerima bantuan dari pemerintah. Dari bantuan tersebut kami berkesempatan menambah kapasitas produksi. Kami juga akhirnya bisa memenuhi permintaan pelanggan untuk produk tambahan baru seperti masker etnik berciri khas Sumatera utara dan konektor masker. Outlet di rumah hanya lapak yang menandakan kami masih berjalan terus. Sebahagian besar percaturan dagang dilakukan secara online dan dikerjakan oleh tim mumubutikue. Saya bisa fokus lebih banyak menghandle suami dan anak anak.

Di gerai sederhana, dari rumah kami terus belajar

Kelas Online dan Seluruh Aktivitas Mengajar

Pandemi ini setidaknya mengubah gaya hidup secara keseluruhan termasuk gaya mengajar dan belajar mahasiswa. Sebagai pengajar di dua kampus, saya harus menyesuaikan diri dengan cepat. Jika sebelumnya saya belajar bagaimana mengelola kelas secara offline, saat ini saya harus membaca berbagai referensi untuk proses belajar secara online. Ilmu ini tidak hanya berguna bagi peserta didik tapi juga kurikulum belajar online anak saya. Saya mendapatkan beberapa kesempatan menjadi narasumber webinar kampus untuk bidang kewirausahaan. Agar seimbang saya juga mendaftar di beberapa webinar yang terkait bidang keilmuan saya. Karena semua dari rumah, saya jadi bisa memaksimalkan seluruh peran saya dibantu support system.  Selain webinar, saya juga membimbing Tugas Akhir mahasiswa termasuk menjadi dosen penguji di sidang tugas akhirnya. Saya jadi bisa benar –benar mewujudkan cita-cita almarhumah ibu saya agar saya memilih berprofesi sebagai pendidik. Sebagai pendidik, walau terjadi pandemi  harus tetap melaksanakan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu mengajar, penelitian dan pengabdian masyarakat. Saya bersama teman teman dosen sempat melakukan kegiatan pengabdian masyarakat pada ibu ibu di salah satu kelompok agar bisa membuat menu menuvmakanan  baru yang sehat untuk keluarga di rumah selama pandemi.

 

Berkontribusi Dalam Riset BEsar

Lima belas tahun sudah saya keluar dari almamater. Tidak hilang kontak , tapi saya hanya silent reader dalam grup WA. Sungguh saya tidak menyangka ketika salah seorang kakak senior, berpengalaman dalam riset riset antropologi, mengajak saya bergabung dalam tim riset berskala Nasional. Asosiasi Antropologi Indonesia pusat bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana melakukan riset antropologi terkait Covid 19. Suami saya sangat mendukung saya menerima tawaran ini. "Biar pinter katanya hehheheh" .. Jadi hingga akhir tahun kami akan berjuang ke lapangan untuk proses pengambilan data. Tetap menjaga penuh protokoler kesehatan. Semoga riset ini bermanfaat bagi ilmu pengetahuan kedepannya.  Terus terang awalnyasaya tidak yakin bergabung dalam tim kecil ini bersama kerabat junior dan senior beserta abangda professor dosen saya dulu. Namun, mereka ternyata mempercayai saya.


Ikut kelas tahsin 

Produktif tidak melulu soal ekonomi saja. Memenuhi kebutuhan ruh agar terjadi keseimbangan jiwa juga hal yang sangat penting diantara semuanya. Alhamdulillah saya didekatkan dengan komunitas yang memberikan vibrasi luar biasa hebat untuk bisa belajar dengan lebih baik. Pandemi memberikan saya waktu memperbaiki bacaan Al qur'an saya. Saya mau meninggal dalam keadaan husnul khotimah. Saya ingin lebih baik lagi mempelajari kitab suci saya dan Allah kirimkan guru yang bisa mendukung keinginan saya. Tidak ada yang kebetulan.Semua adalah rancangan terbaik dari Allah.

 

Bikin kajian rutin bersama kawan kawan di rumah

Semangat berdiskusi dengan sahabat sefrekwensi mengantarkan saya akhirnya bertemu dengan keluarga baru yang mendukung langkah hijrah saya. Sudah lama sekali ingin membuat kajian khusus teman teman akhwat di rumah. Tapi belum ada jalannya. Gayung bersambut, Umi Kurniasari Mulia, guru spiritualku bersama Komunitas Ibu Mengajar menyambut niat baik ini. Akhirnya kami membuat agenda rutin yang mengaji hal yang terkait dengan kualitas diri sebagai muslimah. Kami beri nama aktivita rutin ini “ngos-ngosan” artinya Ngobrol-Ngobrol Santai. Walau santai, kami tetap ingin topik obrolannya bernas sehingga bisa mengisi jiwa jiwa yang kosong. Allah Maha Besar, dari minggu ke minggu peserta kajian ini semakin banyak.Semoga Allah berkahi terus langkah kami untuk belajar menjadi istri dan ibu yang lebih baik.

 

Bikin kanal youtube baru

Kemarin suami tetiba ngajakin MEMBUAT kanal youtube baru. Menurutnya, banyak hal dari kami berdua yang mungkin bisa menginspirasi orang lain. Karena banyak hal amazing yang kami lalui dalam proses kebersamaan kami, dan dinamikanya juga tidak mudah. Tapi Alhamdulillah lagi 13 tahun tak terasa kami sudah bersama. Kami ingin kebersamaan kami ada jejak digitalnya. Bismillah, satu demi satu kami dapat menyelesaikan konten ini berdua, berdiskusi berdua dan diedit .. sendirian oleh Bapak Juragan hahahha .. Saya memilih goyang telunjuk saja hahaha .. Milih background, milih lagu dan lain lain .. hahhaha 

 

Kejarlah akhiratmu maka duniamu akan mengikut

Walau masih dalam proses belajar yang terseok-seok, setidaknya saya terus belajar mengedukasi diri sendiri untuk tetap istiqomah mendahulukan apa yang harusnya jadi prioritas.


“Barang siapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada batasan kebahagiaan pun di akhirat.” (QS. Asy-Syura: 20)

Allah mengatakan dalam surat Al Qashash ayat 77:

وابتغ فيما آتاك الله الدار الآخرة ولا تنس نصيبك من الدنيا وأحسن كما أحسن الله إليك ولا تبغ الفساد نصيبك من الدنيا وأحسن كما أحسن الله إليك ولا تبغ الفساد في السحرب مني الميل

Dan pada layanan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan perhatian baiklah (kepada orang lain) rawat Allah telah baik, kepadamu, dan janganlah kamu yang rusak di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak suka orang-orang yang kerusakan.

Dan barang siapa yang mengejar akhirat Allah akan memberikan urusan dunianya dengan mudah, seperti dalam firmannya:

{وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا} {وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ}

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menyimpan jalan keluar. Dan rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. ” (QS. Ath Tholaq: ​​2-3).

Dari ayat di atas dapat memperoleh keuntungan dari menjadi orang yang bertaqwa adalah Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap masalah yang muncul dan akan memberikan rejeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Semoga Allah pantaskan kita jadi manusia lebih baik dan Allah takdirkan kita segera keluargaku dari pandemi berkepanjangan ini.

 

 


 

Rompi batik hijau oleh sopou batik sibolatangan,
Bros by @mumubutikue_craft

Masih ingat kalau kami punya bengkel batik simalungun bernama Sopou Batik Sibolatangan?

Barangkali kawan kawan sudah lupa. Karena sejak fokus mengurusi produk makanan di gerai @MumuButikue praktis Saya gak pernah lagi ngiklanin @mumubutikue_craft karena sudah di handle oleh tim craft sendiri.

Begitu juga sopou batik sibolatangan yang dijalankan oleh Bou Risnawaty Damanik, ibunda mertua saya. Tapi, walau gak pernah diiklanin alhamdulillah bengkel batik kami di kampung gak jalan ditempat. Sekarang sudah menjadi binaan di salah satu dinas di Simalungun, perhatian pemerintah daerah setempat mulai bergerak ke arah yang positif. Alhamdulillah sudah ada karyawan sekitar 5 orang yang bekerja secara reguler dan tetap produksi walau pandemi. Karena walau gak memakai metode pemasaran yang canggih, Allah lebih mengirimkan pembeli dari belahan bumi lain diluar pulau Sumatera bahkan sampai ke Makasar.

Sopou Batik Sibolatangan diresmikan oleh jajaran perwakilan pemerintah daerah Simalungun tahun 2014. Saat itu, kami sekeluarga besar ingin mencoba menciptakan lapangan kerja baru di daerah Sibolatangan, Simalungun. Puluhan tahun masyarakat disana rata-rata bermata pencaharian berladang. Cita - citanya dulu, bengkel batik ini dapat  menjadi salah satu destinasi wisata alternatif. Harapan kami saat itu, tempat ini dapat berkembang dan menjadi lokasi kunjungan wisatawan baik lokal maupun Internasional untuk belajar budaya simalungun dan batik. Tak tanggung-tanggung, kami mengundang Bupati Simalungun ketika peresmian, walau hanya mampu menyuguhkan jagung dan kacang rebus. Alhamdulillah undangan antusias waktu itu.Tidak hanya jajaran pemerintah daerah tapi juga perwakilan TNI dan Polri. Kami sangat bahagia ketika pejabat daerah mencanting kain sebagai pengganti prasasti peresmian macam di televisi. Saat itu acara berlangsung penuh kekeluargaan. Selain bercerita soal batik, kami juga saling melempar canda sambil berjualan kain tentunya. Kain produksi pertama habis diborong para undangan.

Setelah hari itu, kami mulai membuat pinar pinar ke dalam kain. Hanya untuk konsumsi pribadi. Untuk menjaga konsistensi, sebelum merekrut karyawan, kami sekelurga, adik, ipar, cucu ikut belajar mencanting dan memproses kain batik itu. Dan masing masing kami harus membuat kain kain sendiri dan memakainya di acara keluarga. Sungguh menyenangkan. masih teringat dulu, kain pertama ciptaan Saya dan suami adalah kain yang kami persembahkan untuk jagoan kembar kami untuk acara arisan dan pengajian keluarga besar. Waktu itu Kami memilih motif bodad marsipokat Yang mengandung makna musyawarah untuk  mencapai mufakat. Harapannya agar anak anak kami kelak  tahu asalnya dan suka bersilaturahim.



Kain batik sibolatangan hingga saat ini dibuat dengan peralatan serba manual dan terbatas, hasilnya tentu tidak secanggih batik printing dan belum sesempurna batik batik di pulau Jawa, tapi setidaknya karya seni yang dibuat dengan niat baik lillahita'ala itu tetap diberikan Allah pengapresiasinya. Alhamdulillah tak tau Saya berapa lembar kain batik sudah diproduksi entah ratusan entah ribuan atau sudah puluhan ribu catatannya ada sama Opung yang menjalankannya. Ha ha ha...



Ada 50 pinar (motif) yang kami terima resmi dari Dewan Pimpinan Pusat / Presidium Partuha Maujana Simalungun dulu  ketika usaha ini baru mulai akan diperjuangkan. Niat awalnyya  ingin mengabadikan motif asli Simalungun ke dalam media kain agar bisa dikenal oleh anak cucu kelak. Setidaknya masing masing pinar mengandung filosofi luar biasa. Saya akan mencoba menuliskan cerita pinar ini secara lengkap dalam tulisan terpisah.

50 pinar dari Partuha Maujana


Sejak usaha Sopou batik Sibolatangan dirintis, kain kain yang lahir dari bengkel batik ini sudah menjadi berbagai bentuk produk. baju, rompi, gamis, topi, masker, dompet dan lain-lain.

Foto dokumentasi pribadi

Salah satu kreasi batik sibolatangan adalah  tas tangan    milik Saya pribadi. Dibuat dari kain sopou batik sibolatangan dengan  pinar gundur mangulappa  yang artinya buah kundur yang tumbuh subur. Pinar ini melambangkan marwah yang tinggi, kesuburan dan penangkal hewan berbisa. Motif lain yang digabungkan dalam kain ini adalah bunga raya sayur martua yang melambangkan hubungan harmonis seia sekata, umur yang panjang, kekuatan spiritual dan kedewasaan. Motif motif yang tertuang dalam kain kain sopou batik sibolatangan ini mungkin bisa jadi gambaran bagaimana kami berupaya untuk saling menyayangi dan saling mendukung dalam sebuah keluarga besar. 

 


Tas tangan ini dijahit oleh Tante kesayangan baik hati serba karena mesin jahit Saya gak mendukung untuk mengemix dan mencocokkan kain dengan bahan kulit. Bisa patah jarumnya hahaha ... jadi Saya minta tolong dibikinin. Modal tunjuk. Alhamdulillah usia tas tangan ini kurang lebih sudah 6 tahun.    Sering Saya pakai ke kondangan kalau pas mecing bajunya hahaha ...

 

Saya tidak sedang ingin merayakan, cuma jikalah hari ini dianggap momentum, setidaknya kelak  keluarga kami bisa cerita bahwa di keluarga ini  pernah lahir karya batik yang gak cuma bisa dipakai sendiri aja tapi orang lain juga. Semoga sopou batik sibolatangan bisa terus berinovasi dan berkembang sesuai ketetapan Allah. Insya Allah.. 

Kalau kerabat pembaca, suka pakai batik gak? Paling suka batik dari daerah mana sih? Bagikan di kolom komentar ya ...

 

Salah satu produksi sopou batik sibolatangan