Bersama Peserta Kelas Daur Ulang Kain Perca

Hari Sabtu dan Minggu adalah waktu yang cukup menyenangkan buat banyak orang. Di akhir Minggu seperti inilah biasanya orang –orang pada umumnya beristirahat, atau mungkin liburan bersama keluarga sebelum akhirnya kembali bertemu Hari Senin kembali.
Keluarga kami sendiri tidak melulu menikmati weekend dengan tamasya atau tiduran saja. Kadang-kadang, para juragan mengisi weekend dengan olahraga bersama, main tenis, ngejamz, atau buka praktek pertukangan di rumah. Benerin kursi lapuk, menyelesaikan pesanan meja handmade permintaanku, atau ngecat angklung hahaha.
Sejauh ini suasana akhir minggu kami selalu diupayakan bernilai manfaat. Minggu kemarin, aku berkesempatan kembali diundang untuk menjadi narasumber pelatihan wirausaha praktek memberdayakan sampah kain menjadi barang siap jual. Kegiatan dilakukan di Panti Asuhan Putri Aisiyah yang beralamat di Jl. Santun Medan.

Support kegiatan TDA Peduli             
Komunitas TDA dibangun atas dasar kepedulian terhadap kondisi perekonomian bangsa. Sebagai salah satu pengurus Komunitas TDA Medan 6.0, jauh dari lubuk hati yang terdalam aku pribadi sangat ingin berkontribusi lebih dengan segala keterbatasanku. Seluruh kawan kawan di komunitas ini memberikan kontribusi terbaiknya dibidang keahlian masing –masing. Intinya, semua  berupaya menebarkan manfaat tidak hanya untuk usaha diri sendiri tapi juga untuk kemaslahatan umat dan perbaikan di masyarakat. Tujuan ini diusung oleh setiap bidang yang menjadi bagian komunitas tersebut. Di komunitas TDA (Tangan Di Atas) ada program yang diberi nama TDA peduli. Saat ini TDA peduli digawangi Kak Hidayati, Senior di komunitas pengusaha besar di Indonesia yang anggotanya mencapai ribuan orang yang tersebar di 7 negara. TDA peduli ini mengurusi kegiatan sosial komunitas. Pernah, untuk kegiatan TDA Peduli ini, komunitas bekerjasama dengan ACT, Opick, dan artis lain melaksanakan pengumpulan dana untuk disumbangkan ke Palestina.  Pernah juga memberikan bantuan ke Sinabung berupa bahan pangan. Sebelum membuat program tahun 2020 ini TDA  Peduli juga melakukan serangkaian panjang selama setahun di komunitas tukang  becak di lingkungan  Masjid Taqwa Polonia. Kegiatan nya selain pengajian, keterampilan memasak, motivasi bisnis selama 1 tahun kepada 28 orang lebih tukang becak. Diharapkan dilakukan setahun kegiatan sosial dan berbagi secara nyata ini membuahkan hasil terutama kehidupan tukang becak di lokasi tersebut yang secara penghasilan jauh berkurang sejak kehadiran ojek online. 
Kak Hidayati sebagai keeper bidang ini membuat program tahunan sebagai berikut :


No
Bulan
Kegiatan
Materi
1
Desember 2019
Kelas Motivasi
Memulai Usaha
2
Januari 2020
Kelas Ketrampilan
Membuat bros dari bahan kain perca
3
Februari 2020
Kelas Menulis
Belajar menulis blog
4
Maret 2020
Kelas memasak
Membuat nugget pisang
5
April 2020
Kelas Tausiyah
Pengenalan diri sebagai muslimah
6
Mei 2020
LIBURAN LEBARAN
7
Juni 2020
Kelas Ketrampilan
Membuat kreasi  dari bahan planel
8
Juli 2020
Kelas Memasak
Membuat bronis kukus
9
Agustus 2020
Kelas Ketrampilan
Membuat kreasi  dari bahan daur ulang
10
September 2020
Kelas Memasak
Membuat kreasi  dari martabak mini manis
11
Oktober 2020
Kelas Ketrampilan
Membuat kreasi  dari pita
12
November 2020
Kelas Ketrampilan
Merajut
13
Desember 2020
Kelas Coaching
Manajemen usaha


Tahun ini, TDA Peduli mengundangku untuk menjadi narasumber pelatihan handycraft guna memanfaatkan kain perca bekas jahit buat anak yatim piatu di Panti Asuhan Putri Aisiyah Jl. Santun. Sudah dua kali kami bersama Kak Hidayati mampir kesana memberikan pelatihan membuat bross dari kain. Mungkin jika Allah meridhoi, aku juga akan membantu Kak Hidayati menyelesaikan program ini setahun kedepan.

Apa dan Dimana Panti Asuhan Puteri Aisiyah itu?
Panti asuhan Aisiyah tempat kami setahun ini melakukan kegiatan pengabdian terletak di jalan Santun No. 17 Sudirejo I, Medan. Panti ini milik Organisasi Aisiyah yang berada di bawah naungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah. Di Medan sendiri ada 5 panti asuhan milik organisasi Muhammadiyah yang tersebar di seluruh kota Medan. Di Panti ini tak kurang dari seratus orang anak perempuan yatim piatu dan terlantar dirawat dan dididik  mulai usia pra-Sekolah Dasar hingga jenjang perkuliahan. Panti Asuhan Aisiyah  Medan memenuhi seluruh kebutuhan anak anak yang tinggal disini mulai dari makanan hingga sekolahnya. Panti ini sangat terbuka dengan bantuan bantuan adri pihak eksternal. Saya pribadi bersama keluarga yang kebetulan merupakan pengurus di salah satu ranting organisasi ini melihat potensi yang besar jika anak-anak disini diedukasi dengan baik. TDA Peduli juga memliki pemikiran yang sama. Niat tulus dari TDA ingin setidaknya dengan menjalankan program pemberdayaan selama satu tahun disini dapat melahirkan pengusaha diakhir programnya. Setiap bulan di minggu kedua kami datang membawa ilmu berbeda beda. Setidaknya, dari sekian banyak anak yang menetap disini dan ikut hadir di Minggu kedua setiap bulannya mereka dapat menemukan passion nya masing masing untuk mengembangkan dirinya lebih lagi ditambah ilmu yang didapat dari sekolah.
Ngapain Aja  Kegiatan Mumubutikue bersama  TDA Peduli di Panti Asuhan tersebut?
Sesi tahun 2020 ini sudah kami mulai pemanasan di bulan Desember 2019 kemarin. Di akhir tahun kemarin kami meberikan sesi motivasi bagi anak anak panti tersebut. Di dalam sesi motivasi wirausaha kami meminta mereka menemukan visi dan misi hidupnya di dunia ini. Menurutku, tanpa visi dan misi tentu seseorang akan sulit menetapkan strategi yang akan dia ambil dalam menjalani hari hari dalam kehidupannya. Setelah mereka menemukan tujuan hidupnya, kami mulai memberikan rangkaian kegiatan selama setahun dengan variasi bentuk dan bidang agar dapat memenuhi kebutuhan masing masing minat dan bakat. Tentunya kami menyesuaikan dengan kapasitas diri kami dibantu kawan kawan lain yang sudah sukses lebih dahulu. Di pertemuan kedua kami memberikan mereka kelas membuat bross kain tingkat dasar. Kelas ini dimulai pukul 10.00 WIB. Seperti biasa acara dibuka oleh ibu Zubaidah, kepala Panti Asuhan. Sekitar 40 anak perempuan sudah datang untuk belajar memanfaatkan kain perca. Rentang usianya tidak sama. Ada yang masih kelas 1 SD ada juga yang sudah menginjak bangku SMA. Aku berusaha menyesuaikan gaya bahasa dan cara menyampaikan materi pelatihan. Tentu cara berfikir lintas usia itu tak sama. Tingkat antusiasme mereka juga berbeda. Ada yang semangat sekali ingin belajar, ada yang kurang berminat namun terpaksa mengikuti karena tidak ada pilihan. Aku berusaha memahami mereka. Gesture nya memberikan informasi yang sangat penting. Aku memutuskan fokus pada yang serius saja agar kelas ini tidak terpengaruh secara keseluruhan.
Fokus pada yang antusias
Akhirnya kelas tersebut aku bagi dalam 3 kelompok besar dengan anggota yang dicampur secara usia. Harapannya agar mereka saling mem-backup satu sama lain. Dibantu Yola, timku di mumubutikue, kami mulai mebagikan peralatan dan bahan untuk membuat bross. Kak Hidayati membantu membagikan kain perca. Mereka berebutan. Hahahaha. Ini menambah cairnya suasana sehingga tidak terlalu kaku. Aku senang mereka bisa menikmati kegiatan ini. Aku memang menyukai kelas yang interaktif, santai tapi tetap fokus. Langkah demi langkah membuat bross mulai dilakukan. Sesekali aku mendatangi masing masing kelompok untuk mengecek hasil kerja mereka. Beberapa kali mereka bertanya tentang tehnik menjahit, tehnik melipat kelopak dan lain-lain. Banyak bertanya itu biasa. Artinya ada proses pembelajaran dalam bertanya itu. Mereka memang jarang berinteraksi dengan alat –alat yang kubawa kemarin.  Bahkan ada yang itu pertama kalinya mereka memegang jarum jahit.  
Kelas berjalan terus, “Kak pinjam guntinglah..” kata si kecil.  Di kelompok lainnya mereka sibuk memilih kain yang akan dipakai untuk bros. Sekelompok lagi malah sibuk menempel manik manik ke kain sebagaimana yang sudah diajarkan.

 
Peluang Usaha Baru untuk Anak Panti
Harapan terhadap kelas ini
Limbah kain cukup berbahaya bagi lingkungan. Pernah saya baca di http://www.jktdalang.blogspot.com bahwa karakteristik limbah kain sebagai berikut :
·         Sulit menyatu kembali dengan lingkungan alam
Limbah garmen yang berupa sisa potongan kain akan sulit hancur meskipun sudah bertahun-tahun lamanya tertimbun didalam tanah, terlebih lagi jika kain itu terbuat dari bahan serat sintetis dan bukan serat alami.
·         Dapat merusak biota yang ada didalam tanah dalam jangka waktu tertentu
Akibat dari tidak dapat terurainya limbah garmen seiring berjalannya waktu maka hal ini dapat membawa dampak berupa rusaknya biota tanah dimana limbah garmen itu dibuang.
·         Apabila dibakar asapnya bisa mencemari udara
Pembakaran limbah garmen dalam jumlah yang besar akan berdampak pada lingkungan udara disekitarnya. Asap dan bau yang ditimbulkannya bisa mengganggu pernafasan dan iritasi mata.
·         Bisa menjadi media berkembangnya bibit penyakit
Gumpalan-gumpalan limbah garmen yang bercampur dengan jenis sampah lainnya merupakan media yang baik bagi berkembangnya bibit-bibit penyakit.
·         Bisa menyumbat saluran-saluran air yang pada akhirnya bisa menimbulkan banjir
Limbah garmen yang menggumpal bersama tanah dan sampah plastik bisa menyumbat selokan-selokan dan saluran air lainnya, sehingga pada akhirnya bisa menimbulkan banjir.
·         Membutuhkan lahan yang luas sebagai tempat pembuangannya
Limbah dari industri garmen ada dalam volume yang besar sehingga penanganannya membutuhkan lahan yang luas pula. Hal ini akan menjadi kesulitan tersendiri jika industri garmen penghasil limbah itu berada pada daerah yang padat penduduknya, dimana tidak tersedia lagi lahan yang cukup untuk penimbunan limbah tersebut.

Satu – satunya solusi agar limbah sisa penjahit ini bisa mengurangi dampak buruk bagi lingkungan adalah dengan memanfaatkannya menjadi produk layak jual. Kenapa memilih ide daur ulang kain? Karena aku bersama mumubutikue_craft sudah membuktikan usaha ini bisa berkembang.  Modalnya juga murah. Aku dulu memulainya dengan modal tak lebih dari Rp. 200.000,-

Peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk memulai usaha ini cukup sederhana yaitu :
1.      Lem tembak dan isinya
2.      Gunting
3.      Jarum jahit dan benang jahit.
4.      Kain perca
5.      Jika sudah berkembang bisa menambahnya dengan aplikasi lain untuk mempercantik.
 
Produk yang mereka hasilkan dari kelas ini
Akhirnya kelas ini berakhir sudah setelah beberapa jam kami belajar bersama membuat produk. Jika ada kesempatan lain kita akan membuka pelatihan advanced untuk aktivitas ini. Besar sekali harapanku, dari kelas singkat yang berskala kecil di Panti Asuhan menghasilkan pengusaha atau handycrafter baru yang akan mewarnai kancah penjualan aksesoris daur ulang di Indonesia.
Semoga kedepannya aku bisa memanfaatkan weekend dengan aktivitas lain yang jauh lebih bermanfaat lagi. Kalau Emak pembaca atau Ayah?  aktivitas weekend seperti apa yang suka dikerjakan? Sharing yuk..






Sejak pagi aku berkutat dengan dokumen dan arsip pribadi. Mumpung masih libur, aku mau membereskan dan bersih- bersih lemari aja. Sudah lumayan berdebu dokumen file nya walau tersimpan di dalam lemari.
“Si tukang krutuk ini,” ejek suamiku sambil berlalu ke belakang. Dia selalu memanggilku begitu hahaha karena aku sejenis makhluk pengumpul dan penyimpan. Beda jauh dengan dia yang ijazah saja hampir hanyut kena banjir jika gak disimpankan. Sejak kami menikah, dia baru mudah mencari aneka berkas penting karena sudah aku tata dalam sebuah bundel khusus. Maklum lah, aku anak arsiparis dan pustakawan hahaha. Jadi dari orok terbiasa dengan aktivitas simpan menyimpan arsip. Kami memang dilatih khusus oleh orang tua soal ini.
Bergelut dengan dokumen lama ini, aku menemukan seluruh kliping dan koleksi prangko yang aku punya sejak SD. Dulu, salah satu aktivitas wajib kami bersama orang tua rutin membuat kliping dan mengurus prangko.  Aktivitas membuat kliping ini masih aku jalani hingga punya bayi.  Temanya macam- macam, dulunya aku rutin meng-kliping berita-berita tentang diriku di media cetak. Maklumlah, sebagai manusia  yang sombong, sebagai anak muda kreatif berprestasi di zamannya aku langganan masuk koran dan majalah. Wakakakaka…
Berbicara soal hobi unik, menurutku membuat kliping dan koleksi prangko ini merupakan salah duanya. Di tahun 90-an, kedua aktivitas ini sangat populer. Seiring dengan berjalannya waktu, berkembangnya media digital, pelan- pelan kegiatan ini seakan mati suri.  Jika diamati, yang melakukan kedua hobi ini rata-rata sudah senior dan sepertinya bukan dari generasi milenial.
“Sudah gak zamannya kirim surat” banyak yang mengungkapkannya begitu.
“Buat apa lagi kliping, wong  data bisa disimpan secara digital. Jadul banget nek!” ada juga yang bilang begini.
Tapi dimataku  hobi membuat kliping dan koleksi prangko itu sangat unik. Boleh cerita sedikit ya tentang keduanya.

Membuat Kliping
Dalam kamus Bahasa Inggris kliping tertulis Clipping yang artinya guntingan surat kabar atau koran.
Kliping ini merupakan salah satu aktivitas atau kegiatan yang di dalamnya terdapat usaha menggunting bagian atau sisi tertentu yang ada pada sebuah koran, buku, majalah atau novel untuk kemudian ditempelkan pada kertas karton atau pada buku biasa. Kliping diambil dari artikel-artikel, ulasan-ulasan, tanggapan-tanggapan hasil wawancara, dan sebagainya yang berisi berbagai jenis ilmu pengetahuan yang dijadikan koleksi dokumentasi dan perpustakaan.
Di rumah kami kliping biasanya ditempel pada kertas HVS recycle. Dalam rangka memanfaatkan kertas salah ketik orang tua agar tidak sia-sia hehe.  Banyak juga orang membuat kliping dengan ornamen yang menarik, berwarna- warni.  Kalau kami sederhana saja. Fungsinya memang hanya sebagai pendukung kegiatan literasi di rumah dan sebagai kumpulan informasi diri pribadi. Jika pun ada tentang orang lain biasanya tetap berkaita dengan dunia kami saat itu untuk referensi dan motivasi kami dalam berkarya. Kumpulan kliping kami dulu seputar seni, teater, tari, tokoh inspiratif, pemerintahan, dunia antropologi, arsip, perpustakaan dan resep masakan.
Di bawah ini sedikit contoh kliping yang pernah aku buat. Sengaja diambil yang memang liputan prestasi dan manggung, kan niatnya mau nyombong wakakakaka. Wajah sengaja di blur karena sebagai artis terkemuka pada zamannya perempuan ini berbaju kurang bahan dan tidak menutup aurat. Malu sama langit dan bumi.


Di bawah ini koleksi kliping milik pribadiku :
 
Jelek jelek pernah satu panggung dengan Miss Universe 2003 Amelia Vega

Malam puncak Pemilihan Putri Sumut yang dihadiri Miss Universe 2003 Amelia Vega dan Putri Indonesia Dian Krishna

Lay out kliping juga harus diperhatikan agar bagus

 Dulu, kata Papaku, tidak perlu membubuhi perekat terlalu banyak untuk membuat kliping. Cukup diujung saja.

Aktivitas membuat kliping kami yakini melatih syaraf motorik agar tidak kaku..

Sebaiknya memotong dengan pisau cutter, memakai gunting tidak rapih
Beberapa koleksi klipingku tidak rapi guntingannya sebab sehari bisa diinstruksikan membuat minimal dua puluh kliping aneka topik oleh almarhum Papaku. Tapi aktivitas yang awalnya dilakukan terpaksa, kemudian menjadi nikmat dan hobi. Aku pribadipun, sekarang tak punya waktu lagi membuat kliping. Walau anak-anakku masih didorong untuk menjalankan aktivitas ini dengan model yang berbeda. Bentuknya lebih seperti majalah dinding. Namun tetap mencari, menempel dan menggunting berita. Sesekali dari koran, sesekali dari internet. Menurutku, ini penting sebagai media belajar alternatif untuk anak anakku. Rasanya, setelah membuat tulisan ini ingin menggiatkan kembali aktivitas ini di rumah.           


Koleksi Prangko
Prangko Indonesia

Prangko (bukan perangko) adalah : secarik kertas berperekat sebagai bukti melakukan pembayaran jasa layanan pos yaitu mengirim surat. Biasanya berbentuk persegi dan bergambar.
Prangko merupakan karya seni yang mengungkapkan berbagai aspek kehidupan negara penerbitnya.
Prangko Singapore

Prangko pertama kali diperkenalkan oleh Rowland Hill di Inggris pada tanggal 1 Mei 1840,  oleh  karena itulah, sampai sekarang negara Inggris mendapat perlakuan khusus, yaitu tidak perlu mencantumkan nama negara di atas prangko yang diterbitkannya. Prangko resmi pertama ini bergambar Ratu Victoria dengan harga satu penny. Prangko ini dicetak dengan tinta hitam dikenal dengan nama The Penny Black. Prangko jenis ini berharga puluhan juta rupiah sekarang.
Cikal bakal Rowland Hill membuat prangko adalah ketika suatu hari beliau melihat seorang gadis menerima kiriman surat yang diantarkan seseorang dari kekasihnya. Namun, karena gadis tersebut tidak memiliki uang untuk membayar, gadis itu cuma membaca surat tersebut kemudian mengembalikannya kepada petugas pengantar dengan alasan tidak punya uang. Padahal, gadis tersebut sudah membaca kode khusus yang ditulis kekasihnya di surat tersebut. Ketika terpilih menjadi anggota parlemen, Hill berpikir untuk meningkatkan pendapatan negara dengan pengiriman surat menyurat ini, hingga terciptalah prangko.
Perangko Perancis
Mengapa di Indonesia peminat prangko tidak seperti diluar negeri? Menurutku karena kurang edukasi dari pemangku kepentingan. Sehingga sekarang  banyak yang awam dengan hal ini. Padahal di luar negeri bahkan ada menjadikan ini profesi.
Kegemaran mengumpulkan prangko dan benda pos lainnya disebut Philately. Berasal dari bahasa Yunani philos yang artinya sahabat, atelia yang artinya pembebasan.
Aku ingat betul, dulu ketika masih mengkoleksi prangko, aku sibuk berkomunikasi dengan sahabat pena baik dari dalam maupun luar negeri demi prangko dan kartu pos unik. Tapi pengalaman itu sungguh menyenangkan. Tapi aku dulu tak bergabung dengan komunitas filatelist.
Di Indonesia komunitas filateli besar salah satunya adalah PFI (Persatuan Filateli Indonesia) Komunitas ini termasuk yang cukup aktif diseluruh dunia. Setidaknya dari kurun waktu 1995-2011 Indonesia mengikuti 45 event filateli tingkat dunia. Indonesia sendiri sudah dua kali menjadi tuan rumah World Stamps Exhibition di Bandung yaitu  tahun 1996 dan tahun 2017. Mudah mudahan hari filateli dunia tanggal 29 Maret tahun ini juga dapat menjadi jembatan bagi perdamaian di dunia.
Sebahagian kecil prangko koleksi pribadiku


Kedua hobi ini unik dan membawa manfaat khususnya bagi perkembangan literasi dan edukasi. Namun, sepertinya saat ini tak cukup banyak yang melestarikannya. Bahkan bisa dikatakan menurut sebahagian orang awam sedang mati suri. Menurut anda, apakah keduanya akan bisa bangkit kembali? Masihkah para milenial membutuhkannya? Silahkan beri pendapat di kolom komentar yaa..










Mungkin kami salah satu dari segelintir keluarga yang saat ini kurang menikmati keramaian. Ber-empat menghabiskan waktu bersama dalam banyak hal adalah kesepakatan yang kami buat sejak 10 tahun pernikahan walau implementasinya tak semudah menetapkan aturannya. Terus terang, aku butuh 10 tahun untuk bisa nge-blend dengan kondisi ini. Sense of belonging ini muncul seiring dengan pertambahan usia dan kedekatan yang kami bangun satu sama lain sejak lama. Aku yang dulunya sangat menyukai suasana di luar rumah, travelling, nongkrong, akhirnya terpengaruhi oleh suami yang sangat anti hingar bingar. Budaya ini akhirnya menular ke anak-anak kami. Main ludo, kartu,  tebak-tebakan, monopoli, membaca buku, kuis dadakan, cela-celaan, siram –siraman, olahraga bersama adalah beberapa aktifitas yang sering kami lakukan di rumah. Terlebih saat weekend, dimana tim mumubutikue biasanya liburan pulang ke kampong masing-masing, kami di rumah saja main sambil makan –makan tentunya.
 
Cemilan selesai makan, Sponge cake pandan keju
Menu Mager (Males Gerak)
Mala mini lagi malas makan nasi.   Berdasarkan hasil musyawarah dengan para juragan, akhirnya aku membuat menu kulit ayam kriuk  dan dimsum kaki ayam. Bahannya memang  udah ready di kulkas. Yang penting, walau di rumah, kami serasa makan di resto hahahha…
Pengen resepnya?? Boleeehhh..

1.       Kulit ayam kriuk
Kulit ayam kriuk

Anak anakku penikmat ayam goreng kekinian. Dari paha hingga kulit, dari goreng tepung hingga sambal mereka pasti suka ayam berbagai versi.  Pernah kami mencoba restoran ayam goreng lokal yang menyediakan kulit garing, mereka gandrung habis. Iseng hari ini aku bikin kulit ayam kriuk buat menyenangkan mereka.

Bahan :
-          Kulit ayam 500 gr
-          Tepung ayam goreng (merknya sesuai kesukaan saja)
-          Air secukupnya
-          Minyak untuk menggoreng (hingga terendam).

Cara Membuat :
-          Kulit ayam dicuci bersih, direbus  dengan bawang putih geprek selama 15 menit.
-          Setelah minyak ayam keluar, tiriskan kulit ayam rebus siram kembali dengan air hangat agar sisa air rebusan luruh.
-      Ambil lebih kurang tiga sendok bumbu ayam, siram dengan air lebih kurang 6-7 sendok hingga tepung mencair namun tidak terlalu encek.
-          Letakkan tepung sisa yang kering dalam wadah lain.
-          Masukkan kulit ayam basah ke dalam tepung yang diberi air,kemudian lumuri tepung kering, lakukan proses itu dengan mengulang 2-3 kali. Di lumuran terakhir, remas remas ayam bertepung sekitar 10 kali.
-          Panaskan minyak, masukkan kedalam minyak panas ayam yang sudah dilumuri tepung dan diremas –remas tersebut hingga terendam minyak.
-          Setelah kuning kecoklatan, silahkan angkat dari penggorengan dan tiriskan.\
-          Siap disantap dengan saos.

2.       Dimsum Kaki Ayam
Dimsum kaki ayam


Dulu, ketika masih rajin melanglang buana, aku suka sekali makan dimsum kaki ayam ini di resto seafood raja dimsum yang terkenal itu. Sekali makan bisa sampai 4 porsi hahaha soalnya isinya dikit. Tapi seiring berjalannya waktu, kekhawatiran terhadap makanan di luar rumah, akhirnya nyobain bikin sendiri. Alhamdulillah semua suka di rumah.

Bahan :
-          Kaki ayam 500 gr
-          Minyak makan untuk menumis 2 sendok makan
-          Bawang putih iris 3 siung
-          Cabe iris 3 buah
-          Kecap Inggris 1 sendok makan
-          Minyak wijen 2 sendok makan penuh
-          Kecap asin 1 sendok teh
-          Saus Tiram 2 sendok makan
-          Saos tomat 3 sendok
-          Kecap manis 1 sendok the
-          Gula sejumput
-          Angkak 6 sendok makan penuh
-          Air secukupnya
-          Wijen (jika mau)

Cara membuat :
-        Kaki ayam direbus  selama 15 menit dengan air ditambah jahe sebesar ruas jari dan dua suing bawang putih geprek untuk menghilangkan lemak.
-       Setelah selesai direbus, tiriskan kaki ayam dan masukkan ke dalam air es hingga terendam (include  es batunya juga tidak apa apa). Ini dilakukan untuk melembutkan kaki ayam.
-          Tumis bawang putih iris hingga wangi.
-          Masukkan air satu gelas.
-          Masukkan cabe iris.
-          Tiriskan kembali kaki ayam kemudian masukkan ke dalam rebusan bahan tersebut.
-          Tutup kaki ayam masak dengan api kecil selama 10 menit.
-          Siap dihidangkan (taburi dengan wijen jika suka).

Selamat mencoba..



*Daftar Istilah
Angkak adalah : beras putih yang telah mengalami proses fermentasi oleh jamur monascus purpureus dan menjadi warna merah kecoklatan.Angkak dapat menurunkan kadar kolesterol.

source by google

Diputer, dijilat, dicelupin!

Begitulah kira kira jatuh bangun berdarahnya mau melunasi hutang atas nama Allah. Bukannya apa apa, takut dihisab amalan gak cukup buat dianggarkan di kampung akhirat nanti.. Naudzubillah..


Euforia Tahun Baru.

Saatnya mulai libur rada panjang buat sebahagian orang. Rata –rata  timeline media sosial penggunanya memamerkan perjalanan liburan. Ramai yang bikin story di Instagram lagi piknik di pantai, lagi mandi- mandi di waterboom, lagi di taman bunga, bahkan ke luar negeri. Senang melihatnya. Namun, kelihatannya tak cukup baik buat segelintir netizen pembaca berita. Terlebih buat orang orang yang memberikan piutang khususnya hutang secara pribadi... fiuhhh..  Ini gak mudah. Melihat orang yang hutangnya belum diselesaikan tapi mengunggah perjalanan holiday sakitnya tuh disini (pegang jempol kaki) hahahha..
Terus terang tulisan ini tidak hendak menyindir siapapun. Malas melakukan aksi sindir menyindir, bukan gue banget. Cuma melihat ramainya unggahan soal “yang boleh jalan jalan hanya yang gak punya hutang” ini membuatku tergelitik ingin berbagi tips berdasarkan pengalamanku menyelesaikan hutang. Siapa tahu ada cara yang bisa dicopi paste oleh orang lain. Karena aku sungguh gak suka berhutang. Kayak ada yang ngeganjel.  Cerita ini juga bukan untuk mengumbar kehebatan atau aib keluarga, murni sekedar berbagi cerita saja. Harapannya ada manfaat dari cerita tak hebat ini. Sekali lagi aku  tidak menyalahkan orang punya hutang. Cuma jika boleh mengingatkan, hendaknya disesuaikan kemampuan menyelesaikannya dan bertanggung jawab, itu aja. Karena orang lain, pun punya kebutuhan. Setiap hari aku mendoakan semua orang yang pernah memberikan pinjaman kepada kami di saat saat genting dulu. Bahkan ada yang meminjamkan uangnya tanpa diminta. Buatku itu mahal harganya. Mereka percaya aku bisa mengembalikan uang mereka padahal waktu itu aku betul betul sempit. Kepercayaan orang lain itulah yang membuatku berjuang melunasi semua hutang hutang. Dibantu oleh suami yang rela menyumbangkan semua harta yang dia punya untuk mendukungku menyelesaikan kewajiban –kewajiban pada orang lain walau gak mudah.

Defenisi hutang di mataku

Hutang itu bukan kewajiban (ketika ada, bayarnya jadi kewajiban)
Hutang bukan kebutuhan
Hutang lahir karena cara orang memandang dunia dan kehidupan ini salah (salah benar masing masing orang beda)
Karena kalau bicara anjuran,  hidup itu cukup disederhanakan saja.  Karena Allah sebetulnya sudah cukupkan rezeki kita.
Tapi kan gak enak ya hidup di dunia ini lempeng aja. Haahhaa
Jadi hutang bisa terjadi karena pembentukan gaya hidup yang tidak sesuai.

Hutang terjadi karena hidup berdasarkan standar yang dibentuk orang lain.  Misal,  banyak yang bilang
"Zaman sekarang kalau gak punya hutang mana bisa." atau
"Zaman sekarang kalau gak hutang beli mobil gimana caranya?."

Tapi mungkin akan lebih baik kalau paradigma yang dibangun seperti ini :
Duit belum cukup beli mobil,  yaudah sih naik sepeda motor aja. Toh kendaraan itu fungsinya sama sekedar mengantarkan dari suatu tempat ke tempat lain.  Kalau belum mampu beli motor ya wes naik ojek online kan bisa. Yang penting gak ngutang.

Atau, duit cuma Rp. 10.000 ya sudahlah makan mie instan aja yang penting cukup gak ngutang.
Tapi kan bisa mencari pembenaran dengan bilang :  "Kasihan anak anak makannya gak bergizi."  Padahal Emak dan Bapaknya yang gak tahan melihat orang makan di restoran,  masak iya kita makan di rumah aja seumur hidup.  Hahaha... Eh, ngomong-ngomong perkara makan ini blom pernah dengar ya cerita yutuber tingkat Asia yang beken itu konon pernah makan roti sampah toko yang akan dibuang saking berusaha menyesuaikan uang yang minim dengan kebutuhan.  Pada akhirnya dia   bisa kaya juga dibuat Yang Maha Kuasa, Mungkin Tuhan  kasi setimpal dengan ibadahnya yang lebih banyak dari orang lain.

Tapi kehidupan ini gak enak kalau protagonis gitu.  Ketika semua orang naik mobil,  kita masak iya gak naik mobil juga.  Alasannya, "Anak- anak kasihan kena hujan."  hehehe..
Padahal Ayah dan Ibunya yang gak kuat sebelahan sama mobil bagus di lampu merah.
Emak sama Bapaknya yang gak kuat kalau arisan ditanyain "naik apa?"  trus jawabannya naik angkot.

Sama kayak bisnis, banyak yang bilang : "Kalau gak ngutang bisnis gak berkembang lah."
Memang Allah itu tergantung prasangka hambanya ya.  Kalau manusia mikir ngutang jalan terbaik ngembangkan bisnis ya akan di kun fa ya kun  kan seperti itu  hehehe...
Trus nanti statement ini dibantai sama orang yang pandangannya berbeda inilah itulah bla bla..  Jawaban orang akan subjektif semua tergantung kepentingan masing masing Hahaha..
Gak papa.. Kita gak sedang UAS, jadi gak ada salah benar. Yang ada kau begitu aku begini. Sama saja... Kayak lagu Broery Marantika. Eh pada kenal gak yah hahaha.

Sebahagian orang memang terlalu sibuk membentuk nilai harga diri sesuai standart orang lain.
Ada juga yang sangat mendewakan hawa nafsu. Hidup sederhana itu memang tak gampang makanya pahalanya besar.  Padahal ketika itu semua dilepas hidup jadi lebih mudah. Eniwei, gaya hidup memang jauh lebih mahal dibandingkan biaya hidup
Maka waspadalah..


Kenapa Aku bisa jadi "kolektor"  hutang?
Aku adalah orang yang tidak bergaya hidup  berlebihan. Dibilang sangat hemat juga enggak sih. Lebih kepada menyesuaikan kebutuhan dengan isi kantong sebagaimana diajarkan almarhum ibuku.
Ibu kami meninggal dunia tahun 2006 akibat kanker stadium lanjut. Sebelum meninggal, beliau dirawat di Rumah Sakit Dharmais Jakarta selama 6 bulan. Menjalani 24 kali kemoterapi dan berkali kali masuk ICU. Beberapa kali saat di Medan, Mama, begitu kami sehari-hari memanggilnya dirawat di RS. Santa Elizabeth Medan. Walaupun ditanggung oleh perusahaan BUMN tempat beliau bekerja, namun kami tidak memungkiri, berkali kali berobat di dalam dan luar negeri, naik pesawat, menginap di hotel, sewa apartemen, bayar perawat khusus disaat aku dan adikku pergi bekerja, diapers, dan lain lain nya tak heran membuat hutang kami jadi membengkak. Namun, aku dan adikku bekerja keras untuk upaya  penyelamatan. Kami berdua bahu membahu demi kesembuhan Mama. Hingga Akhirnya tahun 2006 November, Mama berpulang.
Sejak itu Papa stress. Disaat Mama dipanggil yang Maha Kuasa, Papa memasuki usia pensiun. Kondisi kami tak lagi sama. Kami yang dulunya kemana- mana pergi ber- empat, seakan patah sayap. Terlebih kemudian aku menikah sesuai wasiat Mama di hari- hari terakhirnya, Papa semakin merasa kesepian walau kami masih tinggal bersama. Setahun lebih tujuh bulan kondisi ini berjalan tubuh Papa tiba- tiba menguning, aku menganjurkan Papa memeriksakan diri ke dokter. Tak puas dengan hasil pemeriksaan di satu dokter, kami mencari second opinion. Hingga terjawab teka- teki penyakit Papa. Beliau divonis mengidap kanker pankreas stadium lanjut. Kehilangan soulmate, pensiun, kesepian tak mudah pastinya. Dokter bilang, stress tingkat tinggi dipercaya menjadi pemicunya. Tiga minggu kesana kemari berobat, masuk ICU, operasi pengangkatan kanker, dan segala rangkaian tahapannya, akhirnya Papa menyerah. Qadarullah papa menghembuskan nafas terakhirnya di RS. Haji tahun 2008.
Kesulitan kami tak hanya  sampai disitu. Kami yang kebetulan juga merawat nenek yang sudah stroke harus berlapang dada ketika tiga bulan kemudian Nenek kami, Ibu dari Papa meninggal dunia. Habis sudah keluarga kecil ini. Punah. Tinggal aku berdua dengan adikku yang saat itu belum menikah. Kondisi tak mudah ini pun akhirnya menitipkan penyakit lupus pada adikku. Cerita lengkapnya sudah pernah aku tuliskan di blogku. Silahkan baca cerita ini https://www.siskahasibuan.com/2019/01/10-tahun-bersama-lupus-part-5-end.html

Inilah alasan hutang itu tercipta. Dua belas tahun bersahabat dengan penyakit mematikan membuat kami terpuruk parah dulu. Bukan untuk gaya hidup. Bukan untuk kesenangan dunia. Lebih kepada kebutuhan keluarga yang harus diselesaikan bersama. Alhamdulillah Allah kasi kesempatan Aku menyelesaikan tugas ini sendiri untuk mengedukasi bahwa sebagai manusia penuh dosa, sebagai anak sulung yang hormat dan sayang pada orang tua, sebagai kakak kandung yang cinta adiknya. Aku hanya bisa mendedikasikan diri untuk menyelesaikan hutang keluarga yang tercipta dari kondisi tersebut. Jumlahnya gak terlalu banyak lah cuma hampir satu Milyar. Hahahahaha….. Plafond biaya berobat dari perusahaan tidak mencukupi untuk membayar tagihan yang ada. Belum biaya lain lain  untuk operasional, pengobatan lintas kota, lintas negara dan sebagainya. Selama proses itu, aku gak pernah berfikir mereka akan meninggal dunia semua. Yang kucita citakan adalah mereka akan hidup lebih lama bersama. That’s why aku berupaya melakukan berbagai metode penyembuhan mulai dalam kota, pergi ke ibukota sampai ke luar negara. Tapi Allah berkehendak lain. Mereka dijemput satu persatu meninggalkanku.  Aku gak bisa memberikan apa- apa buat mereka yang telah lebih dulu pergi meninggalku,  cuma bisa berupaya sekuatnya, entah tingkah lakuku di dunia bisa meringankan beban kedua orang tua dan adikku. Dimataku mereka orang- orang baik, harapannya, mereka diizinkan Allah masuk ke surga jannatunna’im. Katanya, hutang itulah yang susah pertanggungjawabannya di akhirat sana, agar hisab mereka tidak menjadi berat,  maka aku harus bekerja keras menyelesaikan hutang keluarga ratusan juta itu walaupun hampir 10 tahun.


Hutang dan Pola asuh.
Mengapa orang memilih berhutang? Rata rata orang jika diajukan pertanyaan seperti ini jawabannya karena kepepet. Kadang saya mikir. Kenapa kita mengenal kata kepepet ini? Bukankah sebagai manusia kita hanya dianjurkan untuk bersyukur, ikhlas dan sabar atas semua cobaan? Susah sih, tapi bukan berarti mustahil. Ini soal biasa dan tak biasa saja.
Menurutku, perkara hutang ini berkaitan dengan kebiasaan dan pola asuh keluarga. Karena, belakangan ini, aku mengenal cukup banyak sahabat yang hidup dengan kesederhanaan tapi tetap bahagia tanpa ingin berhutang sedikitpun. Artinya, semua manusia berpotensi hidup tanpa hutang jika mau. Masalahnya, kebanyakan dari kita cari pembenaran. “Mana ada hari gini orang hidup tanpa hutang” ini ungkapan yang paling sering diungkapkan orang. Jujur, walau dalam kesempitan, dulu kami gengsi pinjam uang dari orang lain. Bukan mau takabur, tapi memang tak terbiasa sejak kecil.
Beberapa aturan yang dulu jadi budaya di rumah kami seperti di bawah ini :
1.       Boleh punya mimpi tapi harus tahu diri.  Jadi, kami diberi kesempatan untuk membuat rencana hidup semaksimalnya, namun  disesuaikan dengan kapasitas diri.
2.       Tidak boleh saling meminjam barang walau kakak adek atau ibu anak. Bikin label kepemilikan barang. Kebiasaan ini akhirnya membuat saya tumbuh menjadi orang yang  tidak tertarik dengan hak milik orang lain.
3.       Mengembalikan sesuatu pada tempatnya. Pembiasaan hal ini menumbuhkan sikap disiplin. Akibatnya bisa merember pada hal hal lain misalnya membayar tagihan listrik tepat waktu, membuat pembukuan keuangan keluarga, sehingga akhirnya kondisi keuangan bisa dikontrol pengeluarannya. Soal ketat atau tidak, hemat atau boros, itu sih pilihan masing-masing orang.
4.       Pemahaman soal pertanggung jawaban di akhirat. Dipahamkan soal ini sejak kecil oleh orang tua akhirnya membuat kami berhati hati dalam melangkah dan mempergunakan uang.
5.       Bangga pada milik sendiri dengan bersyukur. Jangan menganggap milik orang lain lebih indah. Setiap milik kita insyaallah lebih baik karena pemberian allah.
6.       Keluarga adalah support system, bonding time harus terus menerus sepanjang hayat sehingga kesulitan yang satu menjadi kesulitan bersama sehingga berupaya cari solusi bersama.
7.       Hubungan darah bukan untuk saling membunuh melainkan untuk saling menguatkan. Dengki silahkan campakkan jauh jauh.
Setidaknya sejak aku mengenal diriku, ayah ibuku adalah orang yang sangat serius menumbuhkan nilai-nilai ini di rumah. Bahkan ditularkan juga pada anak didiknya yang cukup banyak yang menetap di rumah. Namun, pengawasan terhadap berjalan tidaknya nilai nilai ini juga sangat perlu dimonitor dan di evaluasi secara berkala. Kami secara rutin diingatkan jika ada hal hal yang terlupa. Alhamdulillah.. setidaknya, walaupun bertanggungjawab sedemikian besarnya, aku tetap menyelesaikannya dengan bahagia tanpa paksaan. Dan Allah Maha baik menghadiahkan suami yang punya frekwensi yang sama soal ini. Sehingga kewajiban ini jadi lebih ringan dilakukan bersamanya karena dia begitu lapang dada menerimanya.

Caraku melunasi hutang hampir satu milyar (akhirnya).
Aku membutuhkan waktu hampir sepuluh tahun untuk benar benar menyelesaikannya. Sebab ibarat kata orang tua, masalah kami dapat bedapat (beruntun).. hahaha… Banyak hal yang aku kerjakan dalam proses panjang itu. Sembari masalah tetap datang bertubi-tubi. Apa saja yang sku lakukan dulu? 9 hal yang aku ingat betul seperti yang aku paparkan di bawah ini :

1.       Bekerja pintar. Cari bidang yang memungkinkan mendapatkan insentif di luar gaji. Untuk ini asah kemampuan dan saya memilih divisi marketing. Susun target kerja over limit agar mendapatkan insentif di atas rata-rata. Aku dulu, sampe pernah insentifnya bisa beli sepeda motor matic secara cash. Tapi yaa berdarah-darah dulu menyelesaikan targetnya hehehe... Tapi gak papa, usaha takkan menghianati hasil. Percayalah Allah tidak tidur melihat ikhtiar hambanya. 
2.       Introspeksi, berbicara dengan diri sendiri, kenali diri dan cari passion lain yang bisa dikembangkan selain tugas utama. Setiap hari aku bersimpuh, menangis, memohon, memasrahkan diri, terserah Allah lah mau membalas dengan cara apa yang penting Allah tahu kebutuhanku itu tak kan selesai jika tidak diselesaikan-Nya.
3.       Setelah menemukan passion sebenarnya, breakdown skill lain di luar pekerjaan utama untuk memperoleh pendapatan tambahan. Jujur, aku sempat memakai tes stiffin  untuk membantu mengambil keputusan.
4.       Amati peluang pasar dan usaha yang diterima masyarakat.
5.       Saat itu aku menemukan passion ku adalah bidang industri kreatif, fashion dan kuliner.
6.     Aku menyadari bahwa skillku  antara lain menjahit, mengajar, memasak, make up, mengatur sesuatu.
7.       Mulai menyusun target yang harus dicapai setiap harinya. Bikin daily to do list dan rencana tabungan yang harus disimpan setiap hari. Jumlah hutang dibagi target hari yang dirancang akan melunasi hutang. Misalnya hutang satu juta ingin dilunasi dalam 2 bulan maka saya buat target 1.000.000 : 60 (target hari melunasi hutang) = 16.666 (kurang lebih 17.000 perhari. Maka aku harus merancang kira kira kegiatan apa yang bisa aku lakukan untuk menghasilkan uang 17.000 perhari untuk cicilan hutang (belum termasuk kebutuhan lain saat itu)
8.       Patuh pada rule yang sudah ditetapkan pada diri sendiri.
9.      Kegiatan menghasilkan uang yang kutemukan dalam diriku yang saat itu dilakukan setiap hari adalah sbb :
-    Menjual baju dari supplier di salah satu pusat belanja. Untuk bisa menjadi reseller saat itu, aku berhasil membuat Bu Jum, toke itu meminjamkan barang untuk dijual kembali padahal tidak saling kenal mulai harga Rp. 500.000 hingga 40 juta rupiah dalam satu kali transaksi tanpa modal sepeser pun. Modalnya cuma kepercayaan saja. Aku berusaha tepat  waktu dan jujur. Dulu belum berkembang bisnis online sepertisekarang sehingga cara berjualanku juga masih sangat konvensional.
-   Make up pengantin, wisuda, penerima tamu, dan lain lain (terkadang disertai dengan  merancang baju, kreasi jilbab, menjual aksesoris yang tepat dll.
-         Menjual sarapan pagi untuk orang kantoran dan bekal sekolah
-         Menjual makanan beku (nugget) dan bumbu serbaguna frozen untuk keluarga.
-         Menjual cake pesanan.
-         Menjual snackbox, kue, tumpeng dan lain lain.
-         Membuat kelas kreasi jilbab, membuat kue sederhana, membuat batik.
-         Membuat set taplak meja, kursi, tutup gallon dll.
-         Catering pesta, maulid  dan  tujuhbelasan.
-         Wedding organizer
-         Event organizer.
-         Membuat souvenir pernikahan.
-         Menjual bross.
-         Mengajar pelatihan keterampilan.

 Aku selingi usaha ini semua dengan sedekah sesuai kemampuanku,  Alhamdulillah sedikit demi sedikit semuanya selesai. Suamiku mengajarkan, konsep menabung dalam Islam ya bersedekah, bukan menumpuk harta.

Yang harus diperhatikan dalam proses ini semua adalah bagaimana memperjuangkan  penghargaan terhadap diri sendiri dan meningkatkan kekuatan mental. Kami dulu sampai tak berani datang ke arisan keluarga saking harus menjaga finansial agar tidak meleleh. Demi menjaga hati agar tetap utuh pada tempatnya. Cukup banyak bully  yang kami terima. Baik dari keluarga hingga kawan yang tidak sefrekwensi. Aku pribadi pernah dituduh kemaruk, gila dunia, dan haus uang. Tapi mereka yang komen toh gak pernah bantu seribu perakpun saat aku kesulitan. Hahaha… Ya salam.. Setidaknya, perjalanan ini semua mengajarkan aku untuk menahan mulut ketika ingin komen terhadap tingkah orang lain. Walau kadang suka belum benar juga. pinomat usaha itu ada. Menuliskan cerita ini membuat aku membayangkan sahabat -sahabatku tersayang yang memang sangat peduli terhadap kondisiku. Siang malam dalam doaku, walau kami jarang bertemu, aku dokan mereka mendapatkan berkah terbaik dari Allah. Berlimpah rezekinya sebagaimana mereka membaginya padaku tanpa diminta.

Akhirnya masa sulit itu berlalu. Intinya tekad yang kuat untuk keluar dari sebuah kondisi yang tidak nyaman dan tak sesuai hati nurani. Kata Allah : " Tidak akan berubah nasib suatu kaum jika tidak diubahnya sendiri."
Sebaik- baiknya balasan hanya dari Allah. Perjalanan ini tidaklah hebat, cuma aku berharap  semoga sahabat pembaca semua dimudahkan Allah untuk bebas dari hutang piutang di dunia dan akhirat. Amin.


 QS. Surat Al-Baqarah Ayat 155 :
"Dan kami akan benar-benar menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan dan kekurangannya harta karena kesulitan dalam mendapatkannya atau hilang sama sekali. Dan dari jiwa dengan terjadinya kematian atau mati syahid dijalan Allah, dan dengan berkurangnya buah-buahan kurma, anggur, dan biji-bijian karena sedikitnya hasil panen atau rusak. Dan berilah kabar gembira -wahai nabi- kepada orang-orang yang bersabar dalam menghadapi persoalan ini dan persoalan-persoalan yang serupa dengan apa-apa yang membahagiakan mereka dan menyenangkan mereka berupa kesudahan yang baik di dunia dan akhirat." 
(Tafsir al-Muyassar)