Nyaris Gagal, Malah Menghasilkan Bentuk Produk Baru

Tumpeng Getuk, salah satu produk andalan Mumubutikue

Sebagai UKM yang berproduksi dengan segala keterbatasannya, Mumubutikue tak lepas dengan berbagai kendala dalam prosesnya. Mulai dari human error, bahan baku yang tak mendukung hingga kondisi cuaca yang kurang pas dengan produk tertentu. Roti misalnya, kadang cuaca panas akan berpotensi membuat produksi roti jauh lebih sempurna dibandingkan ketika hari sedang hujan. Proses pengembangan ragi relatif lebih lambat ketika hawa dingin. 
Jam penjemputan produk oleh customer juga menjadi issue tersendiri. Bagaimanapun, orderan yang diambil siang hari lebih santai pengerjaannya dibandingkan yang harus diambil pagi –pagi sekali. Namun, kami tidak memungkiri, sebagai usaha yang menjual fresh food dan makanan khas daerah, kami lebih banyak menerima orderan pagi hari. Untuk perayaan ulang tahun kantor, peresmian gedung hingga selamatan keluarga biasanya selalu membutuhkan kehadiran produk makanan tradisional kami yang unik. Salah satunya produk tumpeng getuk. Ini adalah makanan dalam tampah berhias yang berisi getuk semacam nasi tumpeng tinggi menjulang bertingkat disajikan bersama pisang rebus, ubi rebus dan grontol jagung. Kami mengemasnya seperti tumpeng nasi. Alhamdulillah produk ini laku keras. Bahkan kadang dibeli oleh keluarga kecil yang hanya ingin menghabiskan weekend bersama. Salah satu bahan baku yang cukup sulit dijamin dalam tumpeng getuk ini adalah ubi kayu jenis ubi roti. Produksi yang made by order, membuat kami harus pintar pintar menjalin komunikasi dengan penyedia ubi roti yang baik. Kami memiliki langganan pemasok ubi roti bernama Kak Miranda. Boru batak yang ramah sekali. Jarang kami mendapatkan ubi yang kualitasnya jelek. Namun bukan berarti selalu mulus. Karena Kak Miranda kadang menerima ubi dari supplier juga pagi buta sehingga tak sempat memeriksa kondisi ubi satu persatu. Beberapa kali kami pernah gagal membuat getuk yang tinggi karena ubi yang kami terima dari Kak Miranda gonyeh. Pernah ketika kami harus menjadi narasumber yang mendemonstrasikan bagaimana menghias tumpeng sederhana dalam kegiatan Dharmawanita di instansi tempat suami bertugas, ubinya mengulah. Encer bahkan tidak bisa dibentuk. 
Saat itu, kami terpaksa mengambil keputusan agar ubi yang seharusnya bertingkat dibentuk menjadi sebaran bola-bola ubi yang kemudia dirangkai dan dihias. Peserta harap maklum karena kami mencoba menjelaskan kendala yang terjadi. Pagi ini qadarullah terjadi lagi. Malamnya, saat ubi yang kami beli di tempat Kak Miranda dikupas kulitnya kami sudah berdebar cemas karena ubinya lebih keras daripada biasanya. Beberapa batang bahkan harus dibuang karena kami yakini berapa lamapun dimasak dia tidak akan bisa diolah menjadi getuk. Ketika akan ditumbuk menjadi getuk, ternyata jumlah ubi tidak mencukupi. Selesai menunaikan ibadah sholat subuh, Saya meminta bantuan suami untuk membeli ubi tambahan. Tumpeng getuk dijanjikan akan diambil pukul 07.00 pagi. Jam sudah menunjukkan pukul 05.30. wib.Bukan waktu yang panjang untuk memproses ubi tersebut menjadi getuk. Tapi Bismilllah kami percaya Allah akan memberikan solusi seiring masalah yang dihadiahkannya. Kami berusaha positif thinking. Ubi dimasak kemudian ditumbuk. Namun, akhirnya ketakutan kami menjadi kenyataan. Ubi tak mau berdiri. Lemas dan letoy. Kami panik karena kepepet oleh deadline. Kami sudah menukar cetakan sebanyak 5 kali. Namun tak ada perubahan. Getuk tetap lemas dan tidak bisa berdiri. Bahkan sampai daun pisang pelapis habis terpakai membentuk ubi, gagal juga. 

Tumpeng Getuk Ideal yang tegak berdiri sangat berpengaruh pada kualitas ubi yang dipakai

Akhirnya kami mengambil cetakan bulat saja. Inisiatif memang diperlukan dalam berwirausaha karena usaha makanan semacam ini memang sangat dekat dengan resiko. Sebagai pemanis kami menghias getuk menjadi bentuk mawar. Sebelum ini dilakukan kami membaca literatur tentang sejarah bunga mawar. Filosofi dan perjalanannya bagus juga. Paling tidak akan ada cerita indah dalam gagalnya kami membentuk tumpeng getuk sebagaimana mestinya pagi ini. Kami kemudian menaburkan getuk berhias bunga mawar di atas getuk yang polos. Masyaallah tabarakallah akhirnya setelah diposting banyak yang DM dan nge-chat menanyakan soal harga dan bagaimana proses pemesanannya. Alhamdulillah. Hari kami tak benar benar rusak akibat tumpeng getuk error. Bentuk yang didapat dari kendala proses membuat tumpeng kali ini adalah seperti gambar di bawah. Beda daripada biasanya namun menurut hemat kemi tetap keren. Kami sengaja menuliskan pengalaman ini untuk menyemangati para sahabat UKM yang sedang berjuang dengan usahanya hari ini atau yang ingin berusaha namun belum dimulai. Pahamilah bahwa tak ada masalah tanpa solusi. Namun, sebagai owner, kita harus bisa bertanggungjawab terhadap kepuasan pelanggan. Feeling untuk melayani dan melakukan yang terbaik harus dijadikan passion yang benar benar terintegrasi dalam diri masing masing. Hari ini kami berhasil melewati kendala ubi gonyeh . Mungkin kali lain Allah sediakan pengalaman yang berbeda. Modal yang pastinya ambyar, harus beli ubi beberapa kali demi mendapatkan ubi yang baik, itu membuat kalut juga setidaknya. Namun jika kita berserah pada Allah, hasbunallah waa nikmal waqil. Allah sebaik-baiknya penolong. Getuk mawar, demikian produk ini akhirnya kami namai untuk membedakan tumpeng getuk biasa dengan mawar getuk luar biasa ini hahaha…Apapun, jika dilakukan dengan ikhlas maka yang akan datang menghampiri kita adalah kebaikan. 

Bisa saja, berusaha keras pun kita untuk meraih peluang, menciptakan produk bagus, jika Allah belum menghendaki ya tidak akan menjadi apa-apa. Tapi, pada akhirnya jika Allah bilang kun faa ya kun maka akan terjadilah walau tak disangka.
Semoga produk yang didapat dari kendala nyaris gagal total ini dapat diterima .Amin..

Getuk Mawar, nyaris gagal malah menemukan bentuk yang baru


1 komentar: