Mengambil Ibrah | Kendala penerbangan yang menjadi vitamin jiwa.

Pada suatu kali selesai meeting di kantor pusat

 Berita tentang kecelakaan pesawat selalu menggelitik buat aku. Pengalaman pertama berhadapan dengan jatuhnya pesawat adalah di tahun 1997 ketika pesawat Garuda Indonesia jatuh di Buah Nabar. Salah seorang atasan ibuku di kantornya yang sangat lemah lembut penuh kehangatan baik hati dan tidak sombong merupakan penumpang pesawat yang mengalami kecelakaan tersebut. Ibu Ana kami memanggilnya adalah orang yang sangat manis dan inspiratif. Kecelakaan itu sangat mengejutkan karena berita seperti iitu jarang terjadi sebelumnya. Aku sempat berpikir betapa mengerikannya, ternyata maskapai se- bergengsi itu juga bisa jatuh. Namanya kehendak Allah siapa yang bisa melawannya.  Kita bisa dipanggil sekehendak-Nya.

Pengalaman batin luar biasa terkait mengerikannya penerbangan bermasalah akhirnya aku rasakan juga di sepanjang karirku sebagai perempuan bekerja sebelum ini.  Aku pernah sangat dekat dengan berbagai perjalanan dengan pesawat. Di akhir karirku sebelum memutuskan  resign, hampir setiap hari pasti ada agenda keluar kota. Aku  mencoba hampir semua maskapai penerbangan bahkan sampai bisa tahu masing-masing penerbangan itu dimana letak keunggulan dan kelemahannya berdasarkan pengalaman menjadi penumpang di penerbangan mereka. Bagaimana perilaku para pramugarinya sampai bagaimana tehnik pilotnya mendaratkan pesawat di landasan. Beberapa maskapai penerbangan terkenal dengan makanannya yang enak,  pramugarinya yang cantik dan ramah serta pelayanan pelayanan spesifik yang mungkin tidak terdapat di maskapai penerbangan yang lain. Ciri karakter pramugari dan pramugara di masing-masing maskapai juga berbeda. Ada yang stylish ada yang formal dan  konvensional, ada yang energik dan masakini. Ada maskapai yang sejak berangkat hingga pulang selalu mengumbar pantun, ada juga maskapai yang sangat terkenal dengan image “raja delay”. Maskapai tertentu juga kadang Pilotnya ngasal aja saat mendarat. Ada Pilot maskapai tertentu yang walau cuaca buruk tetap smooth mengendalikan pesawat di udara. Itu jarang sekali didapat. Maskapai bergengsi juga tak selalu hebat.  Maskapai penerbangan yang sangat terkenal di negara ini juga kadang mengalami kendala dalam penerbangan. Cuaca tidak selalu bagus walau skill yang dimiliki pilot sangat berpengaruh pada asik atau tidaknya sebuah penerbangan. Sejak tahun 1967 hingga 1978 pernah terjadi 36 kali jumlah kecelakaan pesawat di Indonesia (sumber : Wikipedia). Penyebabnya ada macam-macam. Kadang-kadang udara dan awan tak selalu bersahabat dengan penerbangan. Pesawat Sriwijaya yang jatuh itupun aku pernah menaikinya.

source by google

Ketika masih bekerja aku rata-rata dalam satu bulan lebih dari 10 kali terbang dengan pesawat. Bisa dibayangkan aneka pengalaman yang aku alami selama pesawat itu terbang di udara. Enak? huft pengalaman terbang yang aku alami tidak selalu manis  ada juga  yang menegangkan. Di satu sisi aku happy karena bisa mendapatkan pelajaran dan pengalaman yang banyak di perjalanan tapi di sisi yang lain  sering merasakan ketakutan di setiap penerbangan. Karena pada dasarnya aku adalah orang yang phobia ketinggian.  Diantara pengalaman buruk yang pernah kualami diantaranya aku pernah merasakan bagaimana tidak bisa landing di Nias karena cuaca sangat buruk dan pesawat terombang-ambing di antara dedaunan pohon kelapa. Angin kencang, disinyalir Pilot yang mengemudikan pesawat itu tak melihat dimana landasan untuk mendarat. Gelap katanya.  Saat itu aku berangkat bersama salah seorang pejabat di kantorku tapi sekarang beliau sudah meninggal dunia. Ada kegiatan sosialisasi disana dan aku yang bertugas menjalankan kegiatan itu. Dalam keadaan kalut tidak bisa kembali ke Medan kami bahkan sempat bercanda :  “Wah kita bisa kehabisan pakaian dalam nih.” canda beliau sambil mencoba menepis rasa takut. Kami berusaha bercanda sambil menatap gelombang  laut yang sangat besar ketika hujan saat itu. Padahal hati sudah sangat kecut. Aku membayangkan apa yang akan terjadi dengan anak-anak dan suamiku jika aku tidak bisa pulang dengan selamat dalam penerbangan saat itu. Tapi itu bukan ketakutan satu-satunya. Kadang untuk menepis rasa takut aku sering menghabiskan waktu selfi gak jelas di bandara. hahahahah

Foto Selfi gak jelas di Bandara untuk menghilangkan rasa takut




Aku terus mengalami berbagai ketakutan di banyak kesempatan lain. Tapi aku harus memberanikan diri,  aku tetap terus terbang dari satu kota ke kota lain demi pekerjaan. Bukan, bukan karena aku ketagihan naik pesawat melainkan karena tanggung jawab terhadap pekerjaan saat itu membuat aku tidak punya pilihan untuk terus terbang. Sebagai orang yang punya komitmen besar terhadap pekerjaan dan tanggung jawab serta loyalitas kepada perusahaan aku dituntut untuk selalu harus bisa mengalahkan rasa takut di atas segala-galanya. Kadang untuk menyenangkan diri sendiri berusaha menanamkan dalam kepala bahwa Allah pasti menjaga jika terus berdoa. Nggak perlu juga mengadu kepada orang lain karena orang lain pun gak akan memberikan solusi. Aku harus berpikir besar dan jadi tegar dengan pekerjaan ini serta  tidak mau terlihat lemah di mata orang-orang hanya gara-gara ketakutan ku melawan awan. Awan nggak selalu cerah awan juga nggak terlalu mendung bahkan bisa terjadi berbagai hal dalam cerah cerianya awan saat itu. Tak ada yang bisa memprediksi sebuah perjalanan jauh. 

Dalam salah satu penerbangan aku pernah merasakan sangat kesakitan ketika otot bahu kurobek di atas pesawat. Ya akibat salahku sendiri aku membawa terlalu banyak beban dalam ransel di punggungku yang kugendong kemana-mana. Lebih dari 12 kg beratnya.  Aku nggak bisa menyalahkan siapa-siapa semua hal yang terjadi padaku akibat kesalahan  diri sendiri bukan orang lain. Ketika tiba tiba otot bahu itu slip aku langsung panas dingin di pesawat. Berdenyut dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tapi gak bisa berbuat apa-apa. Saat itu terjadi aku juga gak tahu bahwa itu akibat otot bahu robek. Huft..   Akibat kejadian itu aku bergantung pada alat alat fisioterapi selama 2 tahun di salah satu rumah sakit besar di kota Medan. Untung aku punya bos baik hati yang mengizinkan untuk memenuhi jadwal fisioterapi terkadang di jam kerja. Yang penting target tercapai dan pekerjaan dibereskan. Sebetulnya aku malas harus mendatangi rumah sakit untuk melakukan rangkaian fisioterapi yang cukup lama durasinya. Selain bergantung pada treatment,  aku harus menjaga gerak badanku tidak boleh duduk terlalu banyak variasinya,  tidak boleh berdiri terlalu lama, tidak boleh terlalu banyak berjalan duduk wajib bersandar dan hanya boleh maksimal durasinya 1,5 jam. Per durasi itu aku harus rebahan dulu agar tidak kenapa-napa.  Tidak boleh membawa beban berat lebih dari 1,5 kg beratnya. Kadang-kadang aku dimarahin dokter jika tiba-tiba saja otot bahu ini meradang karena aku melanggar aturan yang sudah ditetapkan dalam keadaan normal saja kekadang tas yang tersampir di bahuku beratnya 7 kg hahahaha… Namanya juga miss rempong. Segala toilet dan  dapur dibawa buat jaga jaga. hmmm

Terapi lebih dari dua thun membuat bosan
Pernah juga aku harus terbang untuk memenuhi undangan meeting ke kantor pusat. Pesawatku mengalami turbulensi 10 meter jeblos ke bawah sejeblos jeblosnya. Aku pikir itu  adalah hari terakhirku menghirup nafas gratis di dunia ini. Aku memegangi Alquran yang selalu aku bawa kemana-mana dengan sangat erat. Seluruh penumpang merasa ketakutan. Makanan berhamburan kemana-mana lampu pesawat mati aku hanya bisa istighfar dan menyebut nama Allah berpuluh kali menjerit-jerit. Bersama puluhan penumpang yang lainnya kami menyebutkan asma Allah, menyebut nama Yang maha Kuasa dengan cara kami masing- masing. Kepalaku berputar-putar aku berfikir andaikan pesawat jatuh di laut apa yang harus aku lakukan? Andai pesawat ini nyangkut di pohon aku harus apa? dan andai pesawat ini meledak tiba-tiba bagaimana dengan anak-anakku ? Apakah mereka mendoakan aku atau tidak? Pikiranku berkecamuk dan kalut. Badanku jadi panas dingin sungguh pikiranku langsung terhenti tak tahu mau berpikir apa nggak tahu mau berkata apa yang ada hanya ketakutan luar biasa. Aku betul betul berdoa sama Allah : “Kalau aku  mau mati dengan wajar aku mau mati dengan baik-baik aku tidak mau mati dalam keadaan seperti ini ya Allah. Mudahkan mudahkan mudahkan… peliharalah ya Allah”. Aku terus berdoa dalam setiap perjalanan kemanapun aku pergi termasuk saat itu .Aku tidak mau menyulitkan orang lain. Pramugari sudah tiarap kami semua sudah menundukkan kepala aku takut pesawat itu akan meledak saat itu. Tapi alhamdulillah Allah berketentuan lain.  Kami diselamatkan 10 menit kemudian pesawat berada dalam keadaan normal dan lampu pesawat kembali hidup tapi kurang lebih 10 menit  dalam keadaan terombang-ambing itu sangat menakutkan dan membuat aku trauma.

Aku juga bahkan pernah terbang dalam kabut. Saat itu penerbangan Sumatera Selatan dihebohkan dengan kasus pembakaran hutan dan kabut yang tebal luar biasa. Bandara di Jambi sempat ditutup tapi pekerjaanku disana dituntut juga harus berjalan. Aku harus transit di beberapa bandara, turun di Palembang terlebih dahulu kemudian harus  naik mobil travel menuju ke kota Jambi kurang lebih 8 jam. Sungguh perjalanan yang sangat melelahkan. Tapi atas nama tanggung jawab dan pekerjaan usaha untuk maksimal dalam perjalanan itu. Di langit pesawat sangat goyang ketika di darat perjalanan dengan mobil pun sangat pelan pelan sekali karena pandangan sopir ketika mengendarai mobil terhalang oleh kabut. Perjalanan harus menggunakan masker selama berjam-jam itu bikin sesak nafas. Sungguh nggak enak tapi the show must go on. Aku berhasil pulang dengan selamat walau perjalanannya jadi lebih panjang.

“Pak, saya capek saya mau berhenti terbang. Saya capek dan lelah.” Aku pernah berkata begitu kepada atasanku.  Tapi beliau terus  menyemangati dia bilang  : “Kalau bukan kamu terus siapa? kalau kamu ketakutan terus bagaimana pekerjaan kamu. Please jangan cengeng kamu harus kuat menghadapinya! mana Siska yang saya kenal ?” Simpel sih nasehatnya tapi complicated pelaksanaannya. Mengalahkan diri sendiri kan pasti lebih sullit.  Tapi kalimat itu terus memicu dan memacu Aku untuk bisa bangkit mengalahkan ketakutan padahal sebagai perempuan yang normal semandiri - mandirinya Aku tetap punya rasa takut. Biasanya aku suka mengunggah foto sepatu yang aku pakai di setiap penerbangan ke media sosial pribadiku. sebagai pengingat saja bahwa kaki ini sudah cukup lelah berjalan kemana-mana.

foto sepatu, obat mati gaya sebelum terbang hahaha   



Aku juga pernah mengalami pendarahan dalam sebuah penerbangan. Ya, medannya cukup menegangkan. Untungnya itu terjadi saat pesawat sudah hampir landing. Perutku melilit. Aku demam dan meriang menggigi tapi berusaha menahan. yang aku cegah jangan sampai aku pingsan sebelum pesawat mendarat.  Cuaca sangat buruk sehingga perjalanan malam saya saat itu memang agak goyang seperti berjalan di jalanan berbatu lagi terjal.  Aku takut luar biasa tapi tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan sampai tulisan ini Aku upload suamiku nggak pernah tahu bahwa Aku pernah mengalami pendarahan hebat di pesawat. Aku nggak mau bikin suami jadi khawatir. Toh kalau pun aku melaporkan. Berdasarkan pengalaman, aku memang lebih paham soal Rumah Sakit daripada beliau. Karena rajinnya aku mengurusi keluarga yang sakit. Cerita tentang pendarahan itu saksinya hanya 2 orang yaitu Fenty, almarhum adik saya dan Mba Vera, salah satu rekan kerja saya sekantor beda cabang. Beliau memang sangat care kepada saya. Saat aku hidupkan HP disaat riwehnya menuju rumah sakit Mba Vera dan Fenty kebetulan sedang ngechat menanyakan kabarku. Mungkin mereka punya firasat gak enak. Saat itu aku sudah telat datang bulan sebenernya  dan aku berharap itu akan jadi kehamilan kedua yang terus tumbuh tapi ternyata Allah berkehendak lain. Akibat pendarahan yang hebat itu, begitu pesawat landing Aku langsung order taksi menuju ke rumah sakit. Aku disuntik oleh dokter kehamilan itu tak terselamatkan. Dan aku pulang seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. Benar-benar lelah dan malas dan tak punya kekuatan lagi untuk menceritakannya. Keesokan harinya aku sudah bekerja kembali seperti biasa dan beberapa setelah itu aku sudah ada terbang lagi ke kota berikutnya dengan tanggung jawab lain yang berbeda.

Begitulah balada ketika seorang perempuan yang memilih untuk bekerja di luar rumah jauh dari suami dan anak-anaknya. Kita dituntut nggak boleh manja kita dituntut nggak boleh mengeluh. Kepala ini hanya dipenuhi dengan target target target dan kepentingan di luar diri sendiri. Untuk waktu introspeksi bahkan aku nggak punya saking seringnya aku memikirkan hal-hal lain di luar diri.

Selama terbang Aku tidak hanya punya pengalaman buruk. Ada juga rangkaian pengalaman positif. Setidaknya hidayah dalam  proses perjalanan hijrah kudapat di pesawat. Seringkali Aku bertemu dengan Bapak Ibu atau orang-orang lain anak muda yang kami sama-sama sholat di pesawat. Kadang-kadang jam penerbangan itu tidak mengenal waktu bisa bisa bersamaan dengan adzan maghrib atau Isya atau bahkan subuh. Daripada telat aku sering sholat di pesawat . Ibadah ketika berada di dalam pesawat itu kadang membuat Aku lebih merinding daripada kita sholat di darat. Aku merasa lebih khusuk. Merasa jauh lebih dekat kepada Allah ketika sholat dan membaca Alquran di antara gerak awan. Sesekali aku menatap awan sesekali aku membaca kalimat-kalimat di dalam Alquran. Betapa indahnya…

Kadang-kadang Aku merindukan suasana itu. Tapi ketakutan saat ini justru lebih mendera ketika aku sudah 4 tahun tidak lagi terbang. Terlanjur tak biasa. Oh iya pengalaman  terbang yang mengesankan di luar pekerjaan juga aku pernah rasakan. Ketika aku membawa anak-anakku terbang ke Jogja untuk liburan. Ya Walaupun sibuk dengan pekerjaan aku sangat concern untuk memberikan pengalaman-pengalaman baik batin maupun lahiriah kepada anak-anakku. Aku mau semua pengalaman pertamanya aku yang mengajarkannya. Saat itu mereka masih masih SD dan aku yang memang di rumah selalu membuat aktivitas tambahan untuk pengalaman mereka waktu itu sedang ingin menyampaikan materi "Mengenal transportasi darat, laut dan udara yang ada  di Indonesia".  saat itu memang timingnya  tepat membawa mereka melakukan perjalanan dengan pesawat. Sekalian eksplore  destinasi wisata juga yang ada di Jogja saat mengunjungi adik ipar yang kuliah di sana.  Aku ingin sebagai anak laki-laki nantinya mereka akan bisa terbang kemanapun mengejar cita-cita mereka. Tapi itu harus jadi modal untuk bermanfaat bagi orang lain aku nggak ngizinin Kalau mereka hanya sekedar terbang untuk kepuasan batinnya saja. Harus menjadi orang yang bermanfaat dan aku mau memberikan pengalaman itu sejak mereka masih anak-anak. Semoga Allah memampukan mereka.

Ngajak liburan Syaffa Ammar ke Jogja, untung penerbangan bersahabat
Waktu itu penerbangannya nyaman jadi Syaffa ammar bisa sambil nulis pengalaman terbangnya di pesawat.


Yang paling pamungkas, Ilmu tentang riba yang membuat aku meninggalkan pekerjaan lamaku juga aku dapatkan di penerbangan saat aku mau berangkat dari Medan menuju ke Jambi beberapa tahun lalu. Seorang bapak berjanggut dan bercelana cingkrang dengan peci putih menuliskan 4 huruf itu dalam sebuah kertas ketika dia menanyakan padaku tujuan perjalananku. Dia kaget ketika aku bilang aku bekerja di sebuah Bank dan sedang menuju ke Jambi untuk bekerja. Aku, perempuan bergamis, berjilbab lebar berjalan sendirian melewati 3 bandara di pukul 22.00 malam untuk bekerja buat sebuah bank. Rasa herannya disampaikan dalam ekspresi aneh. kalau sedang melakukan perjalanan sendirian dulu aku juga sering menggunakan gamis di perjalanan. Selain untuk belajar aku pikir itu caraku menjaga diri dari gangguan.   Dia terperanjat. Aku tetap santai dan memilih tidak berdebat. . Hehehe.. beliau bercerita bagaimana istrinya yang pendidikannya S2 memutuskan tidak bekerja di luar rumah untuk mengurusi anak-anaknya hingga mengantarkan mereka menjadi penerima  beasiswa yang hebat dari negara lain. Dia menerangkan soal aturan Safar (perjalanan) bagi perempuan. Dia bilang dalam Islam ada kaidah yang harus ditaati bagi seorang perempuan ketika memutuskan akan melakukan perjalanan.  Saat itu aku akan transit di Jakarta dan beliau juga tujuannya ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan.  Aku masih harus berjalan lagi ke Jambi sendirian. Ceritanya membuat aku tidak bisa tidur semalaman ketika aku sudah sampai di kota Jambi. Di jambi,  aku akhirnya bekerja dengan kantung mata karena begadang memikirkan cerita semalam. Aku kembali ketakutan tidak tenang dan mau cepat-cepat pulang. Cerita dalam pesawat itu akhirnya membuat aku terus bergerak tidak berhenti untuk mencari informasi dan belajar tentang Islam, tentang fitrah perempuan dan ibu dalam hidup ini. Cerita singkat itu membuat aku ingin lebih banyak belajar mengaji. Sejak saat itu aku bergerilya dan tak bosan mencari guru sebanyak-banyaknya. Akhirnya rangkaian ketakutan dalam perjalanan itu mengantarkan aku sampai ada di titik hari ini. Mungkin kalau Allah tidak berkali -kali memberikan ketakutan, aku akan merasa sudah puas diri saja. Aku sangat bersyukur Allah masih sayang dan  memberikan kesempatan.

Perjalanan kerja terakhir sebelum resign.

Betapa banyak pembelajaran yang bisa diambil dari sebuah musibah. Termasuk hari ini aku bisa mereview kembali sedikit cerita  perjalanan yang pernah aku lalui kemarin- kemari sebagai bahan introspeksi. Dari berbagai pengalaman itu, aku belajar jadi orang yang dewasa dan bertanggungjawab. Tidak cengeng dan tahu diri. Dari ketakutan itu aku berusaha memperbaiki diri yang jauh dari baik. Aku juga meyakini bahwa maut akan mengintai kita dimanapun kapanpun. tidak hanya dalam sebuah penerbangan.. Hari ini aku bisa merasakan ketakutan para penumpang sebelum pesawat yang hilang dan jatuh itu. Setidaknya aku pernah beberapa kali mengalami ketakutan yang sama. Apapun, harapanku Semoga Allah memberikan ketetapan yang paling baik untuk seluruh penumpang pesawat Sriwijaya Air SJA 182. Semoga ditempatkan di tempat terbaik oleh Allah. Semoga mereka husnul khotimah dan keluarga yang ditinggalkan bisa ikhlas melewati ujian ini.. Amin. 


 





1 komentar:

  1. Terus jadi inspirasi untuk mahasiswa agar gemar membaca bu !!😍

    BalasHapus