Upin Upin the Movie Keris SiAmang Tunggal




Akhirnya memutuskan menonton, yeayyyy!!!
Sebetulnya saat anak anak heboh minta nonton film ini aku pribadi  rada males, kenapa? Karena tak ada budaya menonton film dan televisi di rumahku bersama orang tua sejak kecil hingga besar. Jadi aku tak paham bagaimana menikmati tontonan. Buatku, duduk berjam jam melihat layar itu agak nyeleneh. Maklumlah, waktu kecil aku dibiasakan gak jadi penonton, tapi pekerja. Hahaha… Tapi demi mencoba memahami dan agar anak anak merasa kami memahami dirinya,   akhirnya diagendakanlah pergi ke bioskop untuk nonton film ini dengan catatan jadwal nontonnya harus setelah semua ibadah selesai dilaksanakan . Jadilah kami memilih jam tayang 21.10 wib saat seluruh kewajiban telah tertunaikan. Ibarat kata tinggal menunggu waktunya sahur saja.

Alih alih memilih, kok ya rasanya westing time aja jika harus nonton di bioskop yang jauh dari rumah. Ketika dicek, beberapa bioskop yang menayangkan film ini adalah bioskop mall besar di daerah ringroad. Akhirnya aku memilih Suzuya Marelan karena letaknya tak terlalu jauh walau tadinya sempat under estimate karena gak pernah ke mall ini.  Tapi ternyata setelah tiba disini gak mengecewakanlah.
Walau awalnya bingung bagaimana caranya menikmati  kartun yang  tokohnya digandrungi anak anak di berbagai belahan dunia ini, namun ternyata banyak hal dalam cerita ini yang bisa dijadikan media utk mengedukasi Syaffa Ammar soal nilai nilai diantaranya sopan santun dan adab.

Sepintas cerita
Cerita ini bermula dari keris warisan turun temurun atok dalang yang ditemukan Upin Ipin dalam kotak di gudang Tok Dalang. Konon keris tersebut adalah keris sakti yang berpengaruh terhadap kelangsungan sebuah Negara bernama Inderaloka. Beberapa teman si duo kembar ini mencoba mengambil keris tersebut dari dalam peti karena penasaran, namun gagal. Ketika Upin Ipin mencoba mengangkatnya keris itupun bisa diambil. Nah disitulah cerita ini dimulai. Upin Ipin dan kawan kawannya terbawa dalam suasana dan lokasi yang berbeda jauh dari tpt mereka. Disana, petualangan mereka dimulai dengan bertemu para perompak dan yang lainnya.  Tegang, itu rasa yang mampir di dadaku saat itu, karena film ini benar benar menguras emosi. Agak lumayan banyak adegan perang dan berkelahi ala film upin ipin. Dan agak banyak makhluk makhluk asing berseliweran di film ini. Sebut saja Raja Bersiong dan Re Ri Ang pembantunya.  Kalau saja Syaffa Ammar masih balita, mungkin aku agak repot memberikan pemahaman soal makhluk makhluk ajaib ini. Film ini menggabungkan antara mausia manusia nyata, makhluk ajaib dan cerita cerita rakyat yang sangat terkenal seperti bawang merah bawang putih dan Tanggang anak durhaka. Cara meramunya cukup masuk di akal. Ada saat  di mana Upin dan Ipin terpisah dan kemudian bertemu kembali. Saat itu,  Syaffa dan Ammar menangis menyaksikan nya.  Begitu pula saat adegan bawang merah bersedih karena terpisah dengan bawang putih akibat kesilapan di masa silam, di bagian ini justru aku pula yang menangis. Teringat hubungan kakak adik yang bagai air dicincang tak putus.


Positifnya film ini, cukup banyak ibroh yang bisa diambil dari keseluruhan ceritanya. Film menggambarkan bagaimana mereka berjuang dengan penuh keberanian untuk membela tanah airnya.  Kekompakan mereka sangat kental. Dari sisi cerita,  aku mengacungkan jempol pada pembuat cerita film ini karena sudah dengan begitu kreatifnya menyatukan  bagian demi bagian cerita sejarah yang dibungkus sedemikian rupa menjadi cerita utuh. Selain itu aku juga sangat memuji bagaimana mereka mengangkat cerita sederhana yang berasal dari budaya lokal namun bisa bersaing dengan film lain yang dikemas modern bahkan bisa booming di Negara lain. Disaat  orang sangat bangga budaya asing mereka justru muncul ke permukaan membawa budaya nenek moyang.  Tetap dengan bahasa ibu.

Pesan Moral yang dapat kami sampaikan pada Syaffa Ammar terkait kegiatan kami menonton film ini adalah :

1.   Betapa dalam kesulitan sekalipun, anak kembar plontos ini tetap berusaha menyelamatkan saudara kembarnya.
2.     Cinta tanah air dan menghormati budaya leluhur.
3.     Kreatifitas membangun ide bisa dibangun dari hal hal sederhana.
4.     Kekompakan dan kebenaran akan selalu menang.
5.     Kesombongan akan mengalami kehancuran.
6.     Pentingnya menghormati orang yang lebih tua.
7.     Survive itu tidak mudah tapi harus diusahakan.
8.     Perlu upaya dan keberanian untuk menggapai tujuan.
9.     Orang tua akan berjuang untuk kebahagiaan anak anaknya.

Akibat iklan di bioskop kemarin, sepertinya kami juga akan mengagendakan film lain untuk di tonton di bulan depan karena filmnya seputar dunia anak dan memasak.  Kalian sudah nonton juga kah?



serius




Daftar istilah :

1. Perompak : bajak laut
2. Ibroh : mengambil pembelajaran yang menggugah kesadaran diri sendiri dari sebuah peristiwa yang terjadi pada orang lain.
















Medan, hari ke 9 Ramadhan 1440 H

0 comments:

Posting Komentar