Sukses Di Mataku


Pemimpin Keluarga Masa Depan, Syaffa Ammar yang sedang belajar bisnis saat Mumubutikue launching produk Biskuit Kopi di Festifal Kopi Internasional Danau Toba, Parapat


Sukses adalah…
Dalam KBBI defenisi sukses adalah : berhasil atau beruntung.
Bicara soal keberuntungan Dan keberhasilan tentu setiap orang beda beda parameter nya. Tergantung bagaimana dia dibentuk dan siapa lingkungan yang membentuknya.
Jika hidup bersama orang orang kapitalis, tentu ukuran sukses sesuai paradigma kapitalis juga. Jika hidup di lingkungan santri maka pola pikir dan budaya sukses yang terbentuk adalah sesuai bacaan dan ilmu para santri pula.
Dari banyak literatur, ukuran sukses manusia sekarang ini sangat dipengaruhi kapitalis. Mengapa? Karena banyak orang di dunia ini dibentuk dari nilai nilai yang dianut pendahulunya dan nyaman dengan nilai tersebut.
Sistem yang terbangun saat ini menggiring kearah sana. Sukses menurut kapitalis itu ukurannya sbb :

1. Akses terhadap kesehatan yang lebih baik
Kapitalisme memberi pilihan lebih banyak. Bisa mengkonsumsi makanan rendah lemak, makanan organic dan makanan tradisional. Orang bisa menikmati rekreasi di berbagai taman hiburan meski sifatnya berbayar sekalipun. Orang pun termotivasi untuk hidup sehat berkat media yang marak di tengah masyarakat kapitalis, yang identik dengan kehidupan demokrasi yang lebih baik. Ini membuat orang hidup lebih sehat dalam skema kapitalisme, karena mudahnya upaya membuka peluang bisnis dan usaha.
2. Manusia memiliki derajat yang sama
Apapun latar belakang keluarga kita, setiap orang di sistem kapitalisme memiliki hak dan peluang yang sama untuk menjadi sukses dan besar. Prinsip paling mendasar dari kapitalisme adalah semakin keras upaya yang dilakukan maka semakin besar pula hasil yang bisa didapatkan. Salah satu contoh kesuksesan di sistem kapitalisme ditunjukkan oleh Li Ka Shing yang kabur dari Cina Daratan di tahun 1940 dan masuk ke Hong Kong tanpa membawa uang dan harta benda sepeser pun. Ditinggal mati ayahnya, Li kecil harus meninggalkan bangku sekolah di usia 14 tahun dan kerja 16 jam setiap harinya di sebuah pabrik plastik. Kemudian akibat kerja kerasnya dan ketelitiannya yang tinggi  membuatnya berhasil mendirikan Cheung Kong Industries di tahun 1950an dan saat ini memiliki kekayaan sebesar 26,5 miliar dolar AS.
3. Tidak bertentangan dengan naluri dan watak manusia
Salah satu argumen mengatakan bahwa kapitalisme sangat cocok dengan manusia karena sesuai dengan watak manusia pada umumnya, yakni kerakusan.  Tidak bisa dipungkiri bahwa perekonomian global digerakkan oleh mereka yang haus akan kekayaan pribadi dan ingin meraup keuntungan besar agar semua kebutuhan mereka terpenuhi. Tidak hanya itu, sifat tamak akhirnya berhasil menciptakan kompetisi yang merupakan hal terpenting dan paling bertanggung jawab atas kemajuan manusia sebagai makhluk hidup yang berpikir. Kompetisi ini banyak sekali contohnya. Misalnya pembuatan mobil jeep. Ternyata produk ini diciptakan Amerika Serikat guna memenuhi kebutuhannya selama Perang Dunia II.
4. Kebebasan
Tawaran yang diberikan sistem ekonomi kapitalis sangat menarik bagi sebahagian orang, salah satunya seseorang itu  bebas menjadi  manusia yang dia inginkan tak perduli bagaimana latar belakangnya, menyalahi aturan atau tidak.  Hal semacam ini tidak mungkin dicapai dan dipenuhi oleh negara yang berbasis sosialisme. Apa yang diinginkan oleh negara, itulah yang harus dilaksanakan oleh warganya. Tidak suka dan tidak mau memenuhi keinginan negara, jawabannya hanya berupa persekusi, hukuman dan sanksi.
5. Memungkinkan adanya pertumbuhan
Hal lain yang diberikan oleh kapitalisme adalah memungkinkan pertumbuhan ekonomi secara eksponensial. Fakta paling mendasar perekonomian adalah semakin besar uang yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan, maka semakin besar dana yang bisa diinvestasikan untuk memenuhi produksi, yang pada akhirnya memungkinkan pendapatan lebih besar. Jadi, selama tidak ada masalah dan bencana di perusahaan tersebut, pertumbuhan ekonomi masih sangat mungkin terjadi dan dicapai selama mau bekerja keras dan cerdas.

Sebagai Umat Islam, apakah ukuran sukses seperti ini sudah benar dan cukup? Wawlahua'lam. Kembali lagi ukuran cukup tidak cukup kita diatur oleh ilmu  dan kita yang dipegang oleh masing masing individu. Jika yang dipegang adalah buku buku karya manusia, tokoh tokoh lintas agama, tentu dunia yang  hanya merupakan perhiasan ini mengukur sukses lebih kepada kemewahan tanpa batas, asset yang tidak habis hingga 21 keturunan, dan lain lain yang pada akhirnya kita tidak bawa ke liang lahat.
Hari ini, sukses di mata manusia kebanyakan ukurannya jumlah yang mampu dihasilkannya perdetik. SubhanAllah. Hidup ini memang benar benar pilihan.
Main lumpur, main api ataupun main air,  masing masing ada konsekwensinya. Main lumpur berpotensi kotor, main api bisa terbakar, main air juga bisa hanyut.

Proses Aku Mengenal Sebenar-benarnya “Sukses”

Buku, turut membentuk pola pikir dan habit yang terbangun dalam kehidupanku.  Dalam proses perjalanan hidupku yang tidak mudah, patuh pada perintah orang tua, mengabdi pada keluarga, menjadikan aku butuh referensi banyak untuk mendukung setiap keputusan. Beda zaman dan lingkungan, beda pula jenis buku bacaanku.  Dalam perjalanan hidupku, sebagai anak perempuan dari papa mamaku sebetulnya banyak mengalami kekecewaan. Sejak kecil, Aku dibentuk menjadi anak perempuan mandiri, harus bisa mengerjakan baik pekerjaan perempuan maupun laki laki karena faktanya, papaku yang notabene adalah orang Mandailing dimana buat suku ini anak laki laki adalah segalanya justru tidak memiliki anak laki laki. Bagi mereka aku harus tumbuh menjadi orang yang sangat kuat agar bisa menjadi pembela bagi adikku yang juga perempuan dan keluarga. Setelah Aku tumbuh mandiri, berprestasi dan menjadi orang yang speak up, Mama justru ingin aku kembali kepada fitrah perempuan yang fokus pada pendidikan anak, patuh pada suami dan berkarya dari rumah. Banyak kesempatan yang bagi sebahagian orang adalah kesempatan langka, tidak bisa aku rasakan. Sempat menolak beasiswa sekolah diJepang, memutuskan tidak mengambil kesempatan kuliah Di UI padahal sudah lulus waktu itu, hingga batal bekerja di Singapore hanya gara gara menurut pada mama yang tidak ridho anak perempuan hidup di luar rumahnya.
"Ika sekolah harus setinggi tingginya, tapi selagi Masih Ada pekerjaan Di Dalam rumah, Gak perlu ika bekerja dilaut, apalagi sampai kr langit Sana. Kelak, ika lebih dibutuhkan Dan membutuhkan keluarga daripada itu semua", perintah mama waktu itu. Padahal, ia bekerja Di perusahaan BUMN untuk membantu papa menghandle perekonomian keluarga. Dan Aku yang mengidolakannya, tentu sangat ingin jadi seperti dia. Huft! Sempat tak ikhlas dengan keputusan itu, kemudian aku yg beranjak dewasa akhirnya menurut saja.
Walaupun pada satu periode mama akhirnya berdamai ketika aku memutuskan ingin bekerja di bank
 Setelah melaksanakan sholat memohon petunjuk barangkali selama dua puluh jam tanpa henti, pukul 4 pagi mama mendatangi kamarku sambil bilang : "Seumur hidup ika mengabdi pada keluarga ini, menurut sama mama dan papa tidak membantah sedikitpun, Gak adil rasanya mama menghalangi langkah ika yg mau belajar kerja. Walau mama kurang setuju sama institusinya, yaudahla karena ika sudah dewasa, bisa menanggung dosa sendiri, silahkan lakukan kemauan ika, tapi, jangan lupa kembali ke mama dan papa kalau ika ingin pulang"

Waktu itu, Aku bangga luar biasa karena mampu membuktikan diri bahwa aku bisa. Menurutku waktu itu, itulah bentuk kesuksesan seorang anak di mata orang tua. Lulus kuliah dengan nilai baik dan bekerja di perusahaan yang punya nama baik secara mandiri tanpa bantuan orang lain.
Salahnya aku, Aku tidak melibatkan Allah dalam kondisi itu. Saat itu, Aku masih berfikir, Aku bisa melakukan semuanya karena kemampuanku, karena ilmu yang aku punya dan Karena aku bekerja keras.
Salah? Mungkin iya. Karena aku juga tumbuh dan berkembang dengan nilai nilai seperti itu. Agama is agama, life is life. Ibadah tidak bersinergi dengan kehidupan. Kenapa tidak bersinergi? Karena takut dan tidak siap untuk mensinergikannya. Jika diintegrasikan nilai nilai agama dalam kehidupan, maka banyak hal hal yang sebelumnya bebas dilakukan jadi mulai tak bisa lagi dikerjakan. Karena APA Yang diatur dalam agama belum tentu bisa diwujudkan dalam kehidupan nyata.
Makanya memang, Kita butuh mental Yang sangat kuat untuk menerima ilmu. Terlebih orang orang yang sebelumnya dekat dengan kehidupan hedon seperti Aku. Beruntung, Aku masih dikasi Allah kesempatan bertemu hidayah tanpa diminta. Disinilah Aku meyakini bahwa tingkah laku itu investasi dunia akhirat. APA APA yang terjadi pada diriku hari ini, mungkin sumbangan dari berbagi kebaikan Yang dilakukan orang tuaku semasa hidupnya.

Kata Allah dalam QS Arra'du 13 :  “Tidak akan  berubah nasib suatu kaum jika dia tidak mengubahnya sendiri.”

Ayat ini sering digadang gadang orang. Tapi tak mudah mengejawantahkannya. Butuh kemauan dan tekad yang kuat untuk bisa menjadikannya kenyataan.

Sukses itu harus berkaitan dengan fitrah

Dalam banyak buku yang Aku baca  sejak dulu, tak pernah disebutkan sukses itu merupakan kehendak Allah, melainkan seserius apa kita mempraktekkan teknik teknik menuju kesuksesan yang sudah dirumuskan para ahli hahaha
Hanya dengan bekerja keras, mengelola pola pikir, kita akan sukses. Tak ada Allah dalam buku buku yang aku baca itu. Tak satu kalimatpun menyatakan bahwa kita hanya mampu berencana, tapi semua ketentuan ada di tangan Allah. Sekali lagi, life is life, ibadah adalah aktivitas yang berbeda lingkup dengan aktivitas lain dalam kehidupan.
Seiring dengan berjalannya waktu, sudah berganti lingkungan juga, Aku mulai belajar mengubah diri dan pola pikir yang berbeda dari sebelumnya. Kalau dulu Aku hanya menjalankan agama dengan sebagaimana adanya yang diajarkan orang tua saja, sekarang mulai menjadi kebutuhan sehingga sudah harus belajar benar benar jika ingin mengetahui tentang sesuatu. Yang pertama kali aku perbaiki adalah akhlak ku terhadap Allah. Belajar kembali soal fitrah perempuan, untuk apa perempuan diciptakan Allah dimuka bumi ini, dan sebagainya. Buatku sangat penting memperbaiki diri sendiri agar Aku bisa dengan bahagia menularkan hal hal baik untuk anak anakku. Kesadaran sebagai manusia berTuhan, terus Aku pelihara hingga kapanpun dan sedang proses mengajak anak anak juga. Kalau suami? Oh itu guru buat kami. Justru diri dan pola hidup suamiku lah yang jadi inspirasinya. Aku menyaksikan bertahun tahun bagaimana dia berTuhan. Bagaimana Allah ada Dalam setiap langkah kehidupannya tidak hanya dalam ritual ibadah saja. Ini salah satu PR besar buat Aku menjadikan anak anakku seperti itu juga.
Semuanya harus dikembalikan kepada fitrah.

Apa sih fitrah itu? Fitrah itu berasal Dari Bahasa Arab Yang berarti membuka atau menguak. Fitrah mempunyai makna asal kejadian, keadaan yang suci dan kembali ke asal.
Dalam hadist riwayat Bukhari, Rasul bersabda : "Setiap manusia dilahirkan ibunya atas fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani Dan Majusi." Terus terang pelajaran ini pertama kali aku dapat dari suamiku di awal awak pernikahan kami. Ini juga jadi cikal bakal ilmuku dalam menghandle Syaffa Dan Ammar. Dalam pandangan Islam, orang tua harus terus menumbuhkembangkan anak agar tetap memegang teguh pada Tauhid dan menjadi Muslim yang baik serta bangga pada Rasulullah dunia dan akhirat. Untuk bisa mendudukkan hal hal ini, tidak bisa disubkan kepada orang lain. Tidak cukup hanya dengan membayar uang sekolah ya saja lantas ketauhidan bisa menjadi darah daging dalam tubuhnya. Dibutuhkan peranan orangtua sepanjang masa mulai dia kecil. Menghafal, menjalankan ritual agama tidak jaminan ruhnya juga mendapatkan vitamin yang sama.
Dan untuk mendidikkan ini pada generasinya, seorang ibu harus berhasil mendidik dirinya sendiri terlebih dahulu.


Suksesnya seorang Aku dimataku

Sebelum tulisan ini diunggah, Aku sempat sharing dengan banyak sahabat perempuan soal ukuran sukses. Guruku, Umi Kurniasari Mulia bilang untuk etape pra akil baligh Aku bisa  masuk ke dalam kategori ibu yang sukses. Walaupun tetap PR besar mensukseskan masa akil baligh hingga dewasa anakku nanti.
Untuk menyelesaikan PR PR ku sejak dulu, Aku berusaha realistis, tidak memaksa, menyesuaikan kapasitas diri sambil terus belajar memantaskan diri dan berusaha membuat langkah langkah yang  lebih  kongkrit dalam prosesnya. 

Misalnya :  bercita cita memiliki anak yang soleh. Menurut Aku, statement ini harus diikuti aksi yang nyata. Gak cukup hanya mengantarkannya masuk sekolah mahal saja trus tenang tenang cari duit dengan alasan duitnya buat anak.
Adab dulu baru ilmu

Soleh itu ukurannya apa? Apakah sholat 5 waktu, puasa Ramadhan, zakat, itu sudah cukup? Nah, untuk lebih kongkrit dalam mewujudkan perkara anak soleh ini aksi yang aku lakukan pada tahap pra akil baligh anak anak antara lain :

1. Ibu berupaya sholat di awal waktu disaksikan oleh anak
2. Ibu melibatkan Allah dalam setiap perkataan dan perbuatan dihadapan anak.
3. Ibu mengaji di setiap selesai sholat subuh Dan maghrib dihadapan anak.
4. Ibu rutin bersedekah ditemani anak
5. Ibu menghitung zakat yang harus dikeluarkan dibantu anak
6. Ibu menjelaskan alasan alasan bertindak Karena Allah kepada anak
7. Ibu sahur dan mengerjakan puasa Ramadhan dan puasa sunnah lainnya dihadapan anak.
8. Ibu mengajak anak menyiapkan panganan berbuka puasa sambil bercerita tentang makanan halal dan haram kepada anak.
 
Membuka, menutup outlet dan mengikuti proses operasional Mumubutikue, menjadi media belajar Syaffa Ammar untuk memahami bagaimana orang dewasa menjemput rezeki halal.

Sambil menanamkan perihal seperti ini, ibu juga harus punya banyak waktu untuk mengawasi dan memastikan informasi seperti ini tidak hanya selesai pada tahap mendengar saja tetapi juga melakukan dengan sepenuh hati dan ikhlas.

Atau hal konkrit lain yang harus dilakukan misalnya statement “ingin tunduk patuh pada suami”
Buktinya apa? Kalau yang aku lakukan untuk mewujudkan ini dalam keluarga kami :
- Menurunkan nada suara lebih rendah dari sebelumnya.
- Melepaskan pekerjaan yang sudah lama dijalani untuk pulang ke rumah agar bisa mengabdi pada  keluarga sebagaimana mestinya.
- Lebih berhati hati mempergunakan uang dari sebelumnya. Diupayakan mempergunakan harta suami hanya untuk hal hal yang tidak berat hisabnya di kemudian hari.
- Memperbaiki diri terus menerus lillahi ta’ala agar benar benar bisa tercipta suasana damai dalam rumah tangga, dan anak anak terkontaminasi kearah yang lebih baik.
- Tidak mengulangi kembali hal hal yang menimbulkan ketidaknyamanan dan keresahan pada suami.
Dan lain lain. 
Di mataku, masalah patuh ini bukan sekedar minta izin keluar rumah lagi, karena aku sudah lebih dari cukup untuk di sebut dewasa sehingga hal hal semacam itu sudah menjadi hal yang seharusnya tidak perlu dipertanyakan lagi.

Dengan melakukan semuanya apakah Aku sudah sukses? Sampai di etape ini lumayanlah karena untuk menghadapinya Aku sudah berani meninggalkan pekerjaan sebelumnya untuk menjemput rezeki  yang dalam banyak literatur insyaallah lebih halal, setidaknya sekarang aku lebih merdeka dalam mengambil keputusan yang akhirnya bisa disesuaikan dengan fitrahku sebagai ibu. Tapi kalau benar benar sukses terus terang belum hahaha.. karena masih banyak tugas di depan Yang jauh lebih berat yang belum tahu akan aku jalani sebaik apa.
Tapi walaupun belum sukses benar mengerjakannya Aku puas bahwa ukuran suksesku hari ini tak lagi buku buku populer yang pengarangnya saja jangankan pengikut Rasul, mengenal saja tidak. Setidaknya Aku bersyukur ukuran sukses dimataku sekarang patokannya Alquran dan sunnah walau ternyata mewujudkannya Masyaallah susahnya.

Jadi saat ini sukses dimataku untuk seorang perempuan adalah  jika dia sudah menyelesaikan tugas tanggung jawabnya sebagai anak, sebagai saudara kandung, kemudian berhasil mengalahkan dirinya sendiri untuk tunduk patuh pada suaminya, mendukung pergerakan suaminya dengan ikhlas, menjadi madrasah bagi anaknya dengan fokus maksimal dan menghiasi rumahnya dengan kedamaian. Setelah itu, perkara hasil yang didapat keluarganya, murni hak prerogatif Allah.

Bagaimanapun kami sekeluarga sedang belajar bersama menerapkan bahwa agama itu bukan hanya hiasan mulut dan jari semata. Betapa dengan bersama sama, kami sangat menikmatinya.
Aku demikian, bagaimana dengan kalian? Semoga kita diberi kesempatan untuk menjadi sukses sebagai anak, istri dan ibu dunia akhirat. Amin.

6 komentar:

  1. Awq nti belajar sama mamika, cemana nti oza gede,, sering2lah kenjemadi nih keknya

    BalasHapus
  2. Macam kenal sama yg difoto foto itu ya..

    BalasHapus
  3. Membaca artikel kakak, membuat awak teringat pas lagi di kede nunggu mama pulang. Ibu-ibu ada yang berstatement
    "Enak kali rasanya liat anak orang sukses begitu, anakku cuma di rumah aja.."


    Tetiba awak baper,
    Apakah emak awak berpikir sama dengan ibu itu ya?

    Ya Allah jadi baper berkepanjangan. Semoga emak awak lebih maju dari hanya berpikir kapitalis. Sukses cuma diukur dari banyaknya duit, karir melejit

    BalasHapus
  4. Lengkap x ulasannya Kak... Kebayang nnti Syaffa & Ammar jd pengusaha sukses sesuai doa dan harapan mamanya ya... Aamiin

    BalasHapus
  5. Adem bacanya kak ee, awak merasa tertampar juga, mmg yg paling sulit jd istri sholehah itu ya taat pada suami, huhu, klo gak ngaji awak, dah lah sesat. Alhamdulillah skrg jauh lbh tenang. ❤️

    BalasHapus
  6. Kadang menurut kita blm sukses, tp menurut orang udah. Dan sebaliknya. Saya kadang punya target kecil2. Jd kl dah di capai brarti sukses unt hal tsb hehe

    BalasHapus