10 Tahun Bersama Lupus- Part 3


 Bahkan sehelai daun kering tak kan jatuh ke bumi jika tak Allah kehendaki.


Berbaik sangkalah dengan takdir Allah. 

Sudah pernah baca QS.Al-Waqi’ah kan?

Disana jelas tertulis kekuasaan Allah yang mungkin kadang tak terjangkau akal sehat manusia. Bagaimana benih manusia itu diciptakan? Siapa yang mengaturnya? Benih benih tanaman, siapa yang memerintahkannya tumbuh? Kita atau Allah? Pernah memperhatikan air yang kita minum? Siapa yang menurunkannya? Bahkan menjadikannya asin jika Allah berkehendak.

Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua sudah diatur sesuai janji masing masing kepada pencipta-Nya. Langkah, rezeki, maut, termasuk di dalamnya sakit, penyakit, terkondisi merawat orang sakit, semua berjalan sesuai kehendak-Nya. Apa karena Allah tak sayang? Apa karena Allah benci?
Sama sekali tidak. Berbaik sangkalah. Yang jelas, ini bukan kutukan, Allah kasi karena Allah anggap mampu. Allah kasi ya karena kita butuh walau tak ingin. Mungkin kalau cuma sehat sehat aja, kita akan jalan di muka bumi ini dengan sombong, kurang mendekatkan diri sama Allah, atau melakukan hal hal mudharat lain. Ingat, Allah tak suka diduakan dan dinomor duakan. Lah dia Maha Besar kok, malah kita mengadu pada hal hal yang kecil.. Plis deeeu.

Penyebab Fenty mengidap Lupus, dalam ukuran akal manusia.

Kami mengenal nama Dr. Gyno Tan sebetulnya sudah lama sekali. Jauh sebelum Fenty divonis resmi menyandang gelar Odapus*. Sekitar tahun 1990-an, beliau sudah merawat salah seorang sepupu jauh kami yang menderita leukemia bawaan lahir. Semasa kecilnya bertahun tahun tak boleh bersentuhan sinar matahari dan akhirnya dia tumbuh tak seperti anak anak biasa. Hidupnya harus luar biasa steril dan teratur, tak macam kami yang kerap main becek. Hahaha.. Tapi Arif, kini tumbuh menjadi laki laki ganteng dan sehat. Dari referensi dokter di Malaysia, berbekal informasi dari neneknya Arif, kami memberanikan diri mendatangi praktek dokter Gyno Tan di jalan Mongonsidi no. 45 Medan.

“Kalau mau datang pagi ya ka, kalau siang dokter Gyno dah visit pasien ke rumah sakit.” kata Nek Ocik, begitu kami memanggilnya. Nek Ocik, neneknya Arif adalah sepupu almarhum nenekku dari  pihak ibu. Beliau mantan perawat di zamannya.

Pukul 08.00 pagi, kami sudah tiba di praktek dokter Gyno, Bu Emmy, nama yang tertera di seragam penerima tamu di meja registrasi menyambut kami dengan ramah. “Namanya siapa? Konsul dulu ya… Mohon ditunggu sebentar.” Sapa beliau.

Kami duduk di ruang tunggu yang bersih, wangi, rapih, minimalis dan dingin. Akhirnya kami dipanggil masuk ke ruangan dokter. Kami datang membawa hasil laboratorium dari Malaysia, menjelaskan duduk perkara, Fenty diminta naik ke tempat tidur yang ada diruangan itu. Kemudian dokter memeriksa lidahnya, mengambil senter, ngecek kedua matanya, ngambil stetoskop, memeriksa dada dan menekan -nekan perutnya. Selanjutnya Fenty diminta duduk, Dokter mulai ngecek tulang belakang hingga pinggang.

“HB* nya rendah. Tapi kita harus melakukan pemeriksaan sedikit lagi di laboratorium saya. Oke?”
Tak ada pilihan lain selain jawab iyes dok. Hahaha.. 
Berhadapan dengan dokter, aku angkat bicara : “Maaf ni dok, saya penasaran, Lupus itu apa ya dok?”
Kemudian dokter menjelaskan soal ini panjang kali lebar, termasuk kemungkinan terburuk yang akan dialami pasien pada titik tertentu. (lengkapnya saya sudah share di part 1)
Kami ngobrol. Dokter mengeksplore tentang latar belakang kehidupan kami, dari A sampai Z. Aku ceritakan apa adanya saja tak ada yang ditutupi. 

Hingga akhirnya aku sampai pada pertanyaan : “Penyebabnya kira kira apa ya dok?”
Dokter bilang waktu itu : “Depresi berlebihan. Perasaan tidak terima dengan keadaan, merasa sendirian dalam hidup, terbuang, sebatang kara karena Fenty  ini modelnya memang memendam perasaan.”

Makjleb!!!!!!  Itu pukulan buat aku. Sebagai kakak aku merasa jahat dan tak berguna. Mungkin aku terlalu sibuk dengan pekerjaan, keluargaku sediri dan hal hal lain sehingga dia merasa ditinggalkan.

Kalau aku evaluasi, kejadian demi kejadian yang kami alami saat itu memang cukup lumayan menguras tenaga. Kami berdua merawat mama sakit kanker stadium lanjut  selama 6 bulan dibantu ibu, adek mama yang kini juga  sudah tiada akibat penyakit yang sama. Mama menjalani 24 x kemoterapi dan beberapa kali masuk ICU. Bolak balik muntah darah, sedot paru,  bolak balik ke RS Dharmais Jakarta, akhirnya mama meninggal dunia tahun 2006 setelah beberapa saat mengalami koma di RS. Santa Elizabeth Medan.  
Setelah mama meninggal, aku menikah, Fenty lebih banyak berkomunikasi dengan papa. Akibat stress juga, merasa sendirian, gak ada lagi pendukung utama belakang layarnya,  masuk masa pensiun, akhirnya papa menderita kanker pankreas stadium lanjut dan meninggal dunia di tahun 2008. Persis 1 tahun 7 bulan setelah kepergian mama. Fenty gadis, saat itu harus membagi pikirannya antara kantor dan papa. Mendampingi masa masa endoskopi, menunggui operasi pembersihan usus dari sumbatan sumbatan daging dan rangkaian proses lain. Sampai tak tidur tidur menunggu papa di ruang ICU Rumah Sakit Haji Medan sesuai permintaan papa terakhir saat itu, ingin dirawat di Rumah Sakit tersebut.

Aku? Sudah punya suami saat itu,kalaupun ngerih kali penderitaan hidup ini aku orangnya memang suka stel gilak*. Aku gak mau memendam perasaan. Trauma aku sama penyakit kanker ini. 
Karena salah satu Professor yang merawat mama dulu pernah mengingatkan, “kalian berdua anak perempuannya bu Aida, jangan pernah stress ya, Ibu kalian ini banyak kali yang mau dipikirkannya dalam hidup ini jadi gak kuat otak sama badannya. Jangan kalian ulangi ya..”

Sayangnya Fenty punya karakter yang sama dengan Mama.. Mau makan buah pir aja dia pening*, gegara banyak anak anak miskin gak bisa makan buah pir, akhirnya sebelum dia makan pir, kami harus beli puluhan kg buah pir untuk disedekahkan, baru dia tenang makan buah pir. Allahu Akbar. Ada orang seperti  adekku ini… Belom lagi mikirkan anak orang putus sekolah, gak bisa makan ayam goreng dan lain lain. Sampe diasuhnya beberapa anak kurang mampu di salah satu SMP di Medan luar biasa ini sampe besar. Kalo ini aku sih nyantai aja.. Cuma, kalau udah gak tidur tidur memikirkan nasib orang lain itu bikin pening yang nengok* agaknya. 

Satu lagi yang paling fatal, Fenty tak terbiasa menerima perlakuan kasar sejak  kecil, jadi kalau di luar rumah ada orang yang cakap gak pake pikiran, menusuk perasaan, mengandung hinaan, hujatan, yang sifatnya merendahkan, itu membuat dia nangis berhari hari sampai demam. Kebetulan, saat itu, adalah beberapa orang dalam hidup kami yang menekan kami seperti itu. Aku sih masa bodoh, Gak penting orang orang kekgitu. Dalam kepalaku, orang orang bengak*  semacam itu  gendangnya dua, kalau enggak kurang agama, ya karena busuk hati. Kadang orang sekolah tinggi dan kaya raya malah berpotensi memperlakukan orang demikian. Cuma Fenty gak bisa menerima dibegitukan.
Huft.. 
Tapi, sesungguhnya itulah indahnya ciptaan Allah. Kita memang terlahir berbeda beda sifat, supaya berwarna dunia ini.
Karena penasaran aku nanya : “Bisa sembuh dok? “
Dokter bilang gini : “Pernah baca Al-Qur’an kan? Di kitab suci kalau gak salah ada ditulis kita cuma bisa ikhtiar, kalau kesembuhan ya serahkan aja pada yang maha kuasa.”

Gubrakkkk!!!!!!
Dua kali kenak tampar cyiin  dalam beberapa jam saja. Malu guek.. (tepok jidad)
Intinya diluar keyakinan akan takdir Allah, penyebab lupus Fenty salah satunya bisa karena depresi berlebihan dan tekanan mental.

Patuh pada aturan dokter Gyno, mulai menjalani seluruh rangkaian pengobatan.
Setelah bertemu dokter Gyno, bertanya, mendapat jawaban, menerima briefing singkat soal Lupus dan tetek bengeknya, mencari informasi soal biaya yang diperlukan, akhirnya kami berdua sepakat Fenty akan menjalani pengobatan Lupus dalam pengawasan Dr. Gyno Tan secara penuh. Di Awal, untuk mendukung proses lanjutan, kami melakukan serangkaian tes yang dibutuhkan dokter di Laboratoriumnya sendiri. Biaya pemeriksaan darah di awal dulu sekitar 2,8 juta rupiah. 
Selain Fenty harus mengkonsumsi obat obatan Lupus,  akhirnya dokter harus mengambil tindakan imunoterapi, sebuah metode pengobatan yang bekerja dengan melatih sistem imun untuk berhenti bereaksi secara berlebihan agar tidak berdampak secara meluas terhadap organ tubuh yang lain. Tindakan ini, dengan cara menyuntikkan cairan kedalam tubuh pasien dan dilakukan dalam pengawasan dokter. Cairan ini sendiri bermacam macam tipenya juga harganya. Saat itu, Fenty harus disuntikkan cairan bernama mabtera yang harganya sekitar 18 juta rupiah per ampul. Sesuai arahan dokter, Fenty harus melakukan mabtera sebanyak dua kali. Maka, diluar biaya ruang rawat, dokter dan lain lain, kami harus menyediakan biaya 36 juta rupiah saat itu juga. Semua rangkaian proses ini tidak di cover BPJS sodara sodara hahaha… Jadilah aku memutar otak bikin list  barang apa di rumah yang bisa dijual cepat.
Dokter Gyno pernah bilang : “kalau sakit ini terjadi pada anak anak usia maksimal 11 tahun, kemungkinan sembuhnya besar. Tapi kalau terjadi pada orang dewasa, ya susah sembuh, secara pasien harus nyari biaya sendiri…” hiks.. dibawa gelik* aja udah hahaha memang bener soalnya.
Total biaya yang kami butuhkan sampai keluar dari Rumah Sakit waktu itu sekitar 60 juta rupiah. Suamiku, kupaksa pulang ke Medan. Satu satunya benda yang gampang dijual saat itu mobil peninggalan papa. Gutbai lah si ehem itu.

“Kak, maaf ya gegara aku peninggalan papa dijual…” gitu pulak  lah katanya saat itu.

Aku malas cakap banyak banyak, cuma aku bilang : “ Gosah* ko pikirkan soal itu, kita tinggal berdua dek, hidup mati kau tanggung jawab aku. Nantik, kalau ko punya lakik*, baru pindah tanggung jawabnya. Ko fokus aja sama kesehatan kau, jadikan si lupus ini sahabat, jangan dilawan, apa maunya kasi, apa gak suka dia jangan kasi, jadi gak diserangnya kau. Soal biaya, semua pun dijual gak papa, tinggal berdua kita, apa yang dicari ya buat dihabiskan la kalo disimpan nanti belalat*.” Aku berusaha bercanda sambil menguatkan, tapi dia malah menangis… itu aja kerjanya sering nangis.
Selesai sudah soal jual menjual, selesai pula urusan mabtera, kisaran beberapa minggu Fenty mulai kembali cerah, sehat, bekerja seperti biasa, kehidupan kami normal tapi tetap setiap bulan melakukan pemeriksaan darah rutin di dokter, menjaga pantangan makan, menghindari matahari, menghindari kelelahan, dan tetap mengkonsumsi obat rutin hingga dia punya keranjang obat sendiri berwarna pink di atas meja riasnya.

Bergabung dengan komunitas cinta kupu
Fenty mulai berdamai dan menerima lupus. Langkah terasa lebih ringan. Awalnya aku tidak boleh menceritakan penyakit ini kepada siapapun. Dia malu. Katanya nanti orang orang pikir aku pesakitan yang tinggal nunggu ajal. Capedeeee  gak siap siap hidup ini kalau mikirkan kata orang. Aku memang lebih sulit melakukan penataan mindset dan memberikan motivasi untuk bangkit dan tak usah memperdulikan orang lain dari pada nyuruh minum obat sekeranjang sama si Fenty ini.

Suatu kali, pernah kami eceknya bersilaturahim ke rumah salah seorang saudara jauh kami, disana, ibu itu bilang gini : “ Eh, klen hati hati sama si anu itu (menyebutkan sodara kami yang lain) udah diceritainnya klen kemana mana dibilangnya si Fenty kena penyakit kutukan, karena sejak ditinggal emak ayah klen, klen jadi anak tak beradab. Katanya klen kenak karma..”
Mendengar ini Fenty menangis dua hari sambil nanya nanya : “apalah salah kita ya kak… kok gitu kali orang tu bikinkan kita.. “ Waktu itu kubilang sama dia : “ Ko jangan bodoh, ngapain menyiksa diri gegara orang kayak gitu aja. Nanti kita tengok aja matinya cemana. Udahlah.. ladang pahala sama kau itu..”
Aku sok menasehati aja. Padahal sampai detik ini, kalau melihat muka orangnya aku sendiri nyumpah nyumpah dalam hati. Hahahah…. Jadi pengen datang kalo dia meninggal, penasaran macam mana cara dia meninggal dibuat Allah, mana tau dia meninggal lebih dulu, tapi kalau aku duluan, berarti gak rezeki.. hahahah…. Astaghfirullah…..

Kami tetap mencari dan belajar soal Lupus. Dokter mengenalkan dengan kakak kakak cantik mantan odapus yang survive hingga kini. Beliau founder komunitas lupus di Medan. Akhirnya Fenty menjadi member komunitas cinta kupu. Ssstt… bocorannya, kalau punya kartu member cinta kupu, odapus bisa dapet diskon berobat lo.. Lumayan la..Masuk komunitas ini jadi banyak belajar, bisa dapat referensi tempat beli obat Lupus murah dimana. Salah satunya kenalan dengan Apotek Bandung di jalan KH. Zainul Arifin Medan. Kebanyakan obat Lupus sulit ditemukan di apotek  lain, tapi biasanya di Bandung ada.  Trus, kalau ada temen sesama odapus sudah remisi obat (stop konsumsi obat akibat Lupus sudah stabil sesuai pemeriksaan dokter) rasanya Fenty termotivasi buat lebih tegar. Memang bergabung di komunitas itu kalau kita mengambil hal positif, ya banyak positifnya. Walaupun akibat kesibukan bekerja Fenty tak bisa terlalu aktif di komunitas, namun mereka tetap bersilaturahim. Aku yang bukan odapus aja, selalu pergi menemani Fenty kemanapun ada aktifitas komunitas saat dia berkesempatan hadir. Nambahin ilmu, Alhamdulillah.

Sepanjang 10 tahun dengan Lupus, 6 kali kolaps dan kembali stabil.

Terhitung setidaknya Fenty mengalami kolaps sebanyak 6 kali selama ini. Penyebabnya bermacam macam, pernah termakan makanan yang mengandung tepung terigu, pernah kepanasan, pernah juga stress akibat tekanan emosional dari salah seorang oknum yang gak perlu dibeberkan namanya karena gak penting kali. Hahaha…
Sudah mahfum bahwa menjadi odapus, tidak hanya harus siap secara mental dan spiritual, tapi juga duit harus tebal. Hahaha.. Alhamdulillah, ada saja dikasi Allah jalan untuk meringankan beban. Kolaps kedua, kami menjual satu persatu perhiasan peninggalan almarhumah mama hingga habis tak bersisa. Hingga pernah pada suatu titik, suamiku pernah menjual mobilnya karena kami kekurangan dana  tagihan Rumah Sakit sebesar sekian puluh juta cuma menjalani daycare imunoterapi dexa selama dua hari satu malam di sebuah rumah sakit ternama. Pernah juga kami ikut melego sepeda motor suamiku pada kolaps berikutnya. Hahahha. Tapi Allah maha baik. Kami dikelilingi orang orang yang helpful dan sayang walau terlihat kaku.
Pernah ya, pada kolaps ke tiga kalau aku tak salah ingat, Fenty udah merasa kalau ada yang gak beres pada tubuhnya. Sebelum kenapa napa, kami memutuskan langsung menghubungi dokter dan segera ke rumah sakit untuk imunoterapi. Tindakan perawatan dilakukan, seperti biasa, untuk menghemat, kami hanya menginap satu malam untuk menerima suntikan saja, paginya aku bergegas ke kasir untuk ngecek tagihan. Uang kami hanya 12 juta saja di tabungan. Sampai di kasir, aku menerima invoive sebesar 22 juta rupiah. Gemetar mamak saat itu juga. Agak hoyong karena udah gak ide nyari uang 10 juta dalam hitungan jam macam mana. Biasanya, ada aja dikirim Allah customer melakukan pemesanan kue dalam jumlah besar atau job apaa gitu. Tapi kutunggu hingga jam 10.00 pagi orderan gak kunjung masuk. Pasien baru harus segera masuk ke kamar yang ditempati Fenty. Kami mlipir ke ruangan lain yang bukan kamar rawat di rumah sakit itu menunggu keajaiban. 
Karena urusan sudah selesai diproses. Tinggal pembayaran. Aku pamit sama Fenty mau sholat Dhuha. “Bentar ya dek. Aku mau sholat. Kita pulang setelah aku siap sholat ya….” Dia ngangguk lemas. Dia gak tau uang kami kurang 10 juta. Hahaha.. 
Aku gengsilah.. Gak mungkin la preman jalan jemadi nangis kebingungan kurang uang di hadapan pasien. Padahal sepanjang jalan awak pening mikirkannya. 
Selesai sholat, aku pergi ke lobby rumah sakit. Lemas, selonjoran, habis kamus. Tiba tiba, seorang Bapak, yang kami kenal dengan baik, bukan keluarga, tak ada hubungan darah, datang dengan tujuan menjenguk Fenty. Bawa amplop tebal katanya itu titipan istrinya, yang baru dapat rezeki dalam jumlah besar, berniat menyerahkan 2.5 % hasil penjualan  dalam bisnisnya itu ke Fenty. Ya allah… ya allah… aku speechless  tapi berusaha tidak menunjukkan kehebohan. Aku cuma bilang “Alhamdulillah pak, terima kasih banyak perhatiannya, salam buat ibu ya Pak…”
Amplop belum dibuka, sepulang bapak itu, aku langsung menuju kasir, mau melunasi tagihan. Saat kubuka, masyaallah, uangnya berjumlah 15 juta. Jika digabungkan dengan uang yang ada di tabunganku, jumlahnya lebih dari tagihan yang tertera. Setelah melakukan pelunasan, aku langsung menemui Fenty, sambil bilang : “Eh, bapak anu datang, ko dapat hadiah uang tunai dari istrinya,  ini sisanya 5 juta pegang aja. Tadi uang kita kurang 10 juta padahal.. Alhamdulillah ya dek…” aku berupaya tetap bercanda.. tapi akhirnya pertahanannya jebol juga.. Di lantai 7 rumah sakit itu, kami udah macam bintang filem India yang tangis tangisan gak berguna…halah…
Tapi Allah sungguh Maha Kuasa dan Maha Pemurah.


Dalam QS. Ali Imran ayat 27 tertulis :
Engkau masukkan malam ke dalam siang dan engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan engkau keluarkan yang mati dari hidup. Dan engkau beri rezeki siapa yang Engkau kehendaki tanpa hisab (batas).



To be continued Part 4…..
Keputusan menikah, dan kolaps terparah.    

Gak bosen aku ngingetin buat saudara saudara yang lagi sakit, terutama keluarga yang merawat :
  1. Mengertilah bahwa orang yang sakit itu, sudah berjuang keras menghandle sakit dan perasaanya, kalau bisa, janganlah penonton memperburuk kondisi dengan menyampaikan hal hal yang bisa mengganggu fikirannya. Kalau kita gak bisa mengurangi sakitnya minimal jangan memperparah. Karena ketika membahagiakan orang lain, Allah akan membuat bahagia hidup kita, ketika kita mempermudah orang lain, Allah akan jauhkan kita dari kesulitan.
  2. Tawakkal, jangan takut miskin. Uang yang dihabiskan dalam keadaan ikhlas untuk kepentingan yang baik, insyaallah akan diganti Allah dengan rezeki yang lebih baik, bisa berbentuk uang, bisa juga berbentuk rezeki lain misalnya hidayah, jalan hijrah, atau kebaikan-kebaikan lain yang bermanfaat gak didunia ini saja mungkin.
  3. Berkomunitaslah, agar tahu bahwa kita gak sendiri, mungkin orang lain punya penderitaan melebihi kita tapi kita pula yang lebih rajin mengeluh, malu dong sama kucing ..meoooow…. Hahahha
  4. Fikiran dan tenaga jangan terlalu diforsir, menurunkan standart kepedulian terhadap hal hal gak terlalu penting mungkin baik juga untuk dilatih. Prioritaskan diri sendiri dulu.

*Daftar Istilah
1. Stel gilak : Bahasa Medan yang berarti masa bodoh terhadap sesuatu hal.
2. Pening : pusing.
3. Nengok : melihat.
4. Odapus : Orang DengAn luPUS (sebutan bagi penderita Lupus).
5. HB : Haemoglobine (sel sel darah merah).
6. Bengak : bodoh.
7. Gelik : lucu.
8. Gosah : tidak perlu.
9. Lakik : suami.
10. Belalat : dikerubungi lalat, mengisyaratkan tidak terpakai dan akhirnya menjadi mubazir.


15 komentar:

  1. Masya Allah ikutan mewek....😭😭
    Kuat dan semangat terus kakak2 hebat....

    BalasHapus
  2. Ya Allah.. Sabar ya kak. Semoga Fenty cepat sembuh. Yakin aja kak. Semangat buat Fenty.

    Tulisannya buat aku nangis. Buat aku terbawa ke dalam tulisan. Sekali lagi, semoga Allah angkat penyakit Fenty. Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasi doanya bro alfi.. terima kasih sudah berbagi ilmu dan mensupport sehingga blog ini aktif kembali... barakallah yaaa

      Hapus
  3. ditunggul part 4 nya sis....hehehe

    BalasHapus
  4. Insyaallah buk len... makasi sudah komen yaaa

    BalasHapus
  5. Kakak baru sempat baca ka...masya Allah...di bag ini nggk sanggup kk ka...cuma bisa menumpah saja airbmada sama doa...semoga ika sama fenty kuatvterus

    BalasHapus
  6. Baru tau kalau lupus itu ada pengaruhnya sama Depresi berlebihan. Wah, sebagai kakak salut sama pengorbanan mbak, tetap kuat ya mbak Fenty dan mbak Siska. Kompak selalu :)

    BalasHapus
  7. Speechless lagi-lagi kak

    Saluuuut

    BalasHapus
  8. Awak baca tulisan ni, sebentar ketawak, sebentar nangis...
    Lakik awak dah liatin awak aja dari tadi

    BalasHapus
  9. masyaAllah tabarkallah....ah gk tau mau ngomentarinya gmn. nice share. selain tau ceritanya, awak yang baca bisa belajar juga.

    BalasHapus
  10. ayo.. lanjutin kk. awak dah selesai sampe part 4 minggu lalu

    BalasHapus
  11. Agak nyesek tiap bacanya... tapi nunggu lanjutannya

    BalasHapus
  12. Semangat kak. Semua pasti ada jalannya dan akan dipermudah. Semoga cepat sembuh untuk Fenty ya. Salam dari Gacil 😍😍

    BalasHapus
  13. ya allah.. aq jg pernah mengalami kondisi gitu kak..ada aja dikirim.org ngasi bantuan .. nangis kita ya kan.. semoga kehidupan kakak dan kak fenti bahagia sampai akhir hayat. aq jg gk kebayang klo gk ada ortu tu hanya sodara kandung kita yg kita jaga ya kan..

    BalasHapus