Yuk Nulis, Biar Bisa Jadi Duit... Hahaha


logo mumubutikue

*catatan perjalanan seorang penggiat usaha (baca: tukang kue) yang doyan nulis status

Miskin Ide

Sampai kemarin saya tak tau materi tulisan apa yang mau dituangkan dalam buku penuh komitmen ini. Mood yang tak kunjung datang, ide yang tak menghampiri, membuat tangan tak tergerak ingin menari di atas keyboard. Hingga hari Sabtu, hari ke enam bulan Oktober ini datang telepon dari seorang ibu yang aku kenal sejak lama. Durasi pertemuan yang tak sering membuat aku sebenarnya kaget akan telepon beliau.

“Ka, bisa bikin kue rasidah buat besok sore jam 5 gak?” Tanya beliau gujug gujug. Rupanya beliau juga sedang dikejar jawaban dari pemberi tugas negara ini. “Rasidah ya bu? Hmmmmm…” (aku mendadak galau, karena di saat yang bersamaan aku dan tim usahaku juga sedang berjuang mempersiapkan pameran di perhelatan akbar MTQ Nasional di salah satu stadion besar di Medan).

“Bisa aja ya. Please..Ini buat disuguhkan ke Bapak Presiden loh. Ibu pernah baca di salah satu tulisan ika di media sosial bahwa ika bisa bikin kue rasidah.”

Ups… betapa hebatnya sebuah tulisan, saya bisa jadi pembuat kue rasidah buat Presiden dari tulisan ..


Tentang Kue Rasidah yang akhirnya viral di kalangan terbatas
Kue Rasidah merupakan Kue khas Etnis Melayu. Puak Melayu di Sumatera Utara pada acara Nasi Hadap Hadapan di majelis perkawinan, akan menghidangkan berpuluh juadah; salah satunya adalah Kue Rasidah. Kue ini juga dibawa saat acara Mebat bagi perkahwinan kaum bangsawan.
(TM. Muhar Omtatok- puakmelayu.blogspot.com)

Konon dahulu,  kue ini dihidangkan di istana Melayu sebagai simbol khusus, yang dipercayai membawa makna berpandai-pandai dalam hidup, memohon petunjuk, menangkal hasad dengki, dan dilambangkan sebagai adat resam dan Islam yang berpadu dalam etnis Melayu tiada boleh terpisah.

Kue Rasidah ini kadang  disebut juga Hasidah, Lasidah, dan Asidah, yang dikenal pada masyarakat Melayu Sumatera Timur, Riau, Kepulauan Riau, Borneo Barat, atau agaknya yang lain. Provinsi Aceh mengenal kue ini, di wilayah etnis Melayu yang seresam Sumatera Timur, yaitu wilayah Perlak dan Tamiang. Namun kue ini bukan untuk santapan harian. Hanya dibuat untuk acara acara adat penting mengingat maknanya.
Di kota Medan dan sekitarnya, tidak ada orang Melayu yang tidak mengenal kue yang bertabur bawang goreng ini. Bahkan ini juga dikenal dan disukai etnis lain. Termasuk saya, walau bukan berasal dari etnis Melayu, namun hamper setiap minggu saya berkesempatan menyediakan kue ini untuk keperluan acara adat Melayu nasi hadap hadapan. Tak banyak lagi orang pandai dan sabar membuat kue ini.
Dipercaya membuat kue ini untuk Mr. Presiden, bagi seorang tukang kue rumahan seperti saya adalah kesempatan langka dan membanggakan. Hebatnya, saya dapat hadiah ini dari Allah melalui tulisan saya di media sosial entah kapan tahun yang saya bahkan hampir lupa.

Cerita lain dibalik tulisan
Kue rasidah dan mister Presiden cerita teranyar yang saya alami efek dari tulisan sederhana yang saya diposting di media sosial. Banyak pengalaman batin lain yang saya dapatkan saat tulisan saya dibaca teman teman saya.
Suatu kali ada sahabat soleha saya yang mengaku terinspirasi  untuk mencoba berdamai dengan mertuanya ketika membaca tulisan alay saya tentang bagaimana hubungan mertua dan menantu selayaknya seperti apa, base on pengalaman pribadi saya memperlakukan mertua saya, juga kedekatan kami bagai ibu dan anak begitu juga dengan iparku yang lain.
Kali lain, ada teman yang mengaku sedang berupaya memperbaiki caranya berhijab ketika saya menuliskan pandangan saya soal prinsip menutup aurat yang disyariatkan dalam Kitab.
Tak hanya teman, beberapa customer usaha saya juga beberapa kali menyampaikan bahwa semangat mereka membersamai buah hati, mencoba menyediakan sajian makanan bervariasi setiap hari di rumah meningkat ketika membaca tulisan tulisan saya tentang bekal sekolah dan cerita menu harian yang saya sajikan di rumah.
Bahkan, hari ini saya dipercaya menjadi pengajar tetap di salah satu  lembaga vokasi ternama di negeri ini, awalnya juga inspirasi dari salah seorang kepala program pendidikannya yang sering secara tak sengaja membaca tulisan di media sosial saya terkait usaha yang saya rintis.

Saya dapati informasi ini dari pengakuan tulus para pembaca. Ternyata, ketika kita berupaya melakukan hal positif untuk diri sendiri, yang kemudian disampaikan dalam bentuk tulisan, dibaca oleh orang lain dan kemudian diadopsi sehingga melahirkan dampak yang positif yang mengandung perbaikan, disitu saya merasa bahwa menulis bukanlah hal sederhana sebagaimana yang selama ini saya fikirkan.
Tulisan saya kadang hanya pandangan pandangan sederhana, pendapat pendapat yang mungkin bagi sebahagian orang tidak penting, tapi nyatanya bagi sebahagian orang bisa menjadi manfaat, ada momentum yang menggugah, ada inspirasi yang memotivasi tidak hanya bagi pembaca, tapi juga saya secara pribadi dan perkembangan usaha saya pada umumnya.

Pada akhirnya, saya berharap, tulisan tulisan saya tak hanya sekedar numpang lewat di media sosial tanpa makna. Saya merasa penting mewariskan sesuatu yang dapat dijadikan  pembelajaran oleh  anak cucu saya kelak, dalam sebuah buku, yang isinya adalah tulisan saya.

So, jangan gampang sinis, mulailah menulis!




Medan, 8 Oktober 2018
Siska hasibuan

4 komentar: