Weekend Berkualitas Ala Emak Emak Rumahan Anti Daster

Bersama Peserta Kelas Daur Ulang Kain Perca

Hari Sabtu dan Minggu adalah waktu yang cukup menyenangkan buat banyak orang. Di akhir Minggu seperti inilah biasanya orang –orang pada umumnya beristirahat, atau mungkin liburan bersama keluarga sebelum akhirnya kembali bertemu Hari Senin kembali.
Keluarga kami sendiri tidak melulu menikmati weekend dengan tamasya atau tiduran saja. Kadang-kadang, para juragan mengisi weekend dengan olahraga bersama, main tenis, ngejamz, atau buka praktek pertukangan di rumah. Benerin kursi lapuk, menyelesaikan pesanan meja handmade permintaanku, atau ngecat angklung hahaha.
Sejauh ini suasana akhir minggu kami selalu diupayakan bernilai manfaat. Minggu kemarin, aku berkesempatan kembali diundang untuk menjadi narasumber pelatihan wirausaha praktek memberdayakan sampah kain menjadi barang siap jual. Kegiatan dilakukan di Panti Asuhan Putri Aisiyah yang beralamat di Jl. Santun Medan.

Support kegiatan TDA Peduli             
Komunitas TDA dibangun atas dasar kepedulian terhadap kondisi perekonomian bangsa. Sebagai salah satu pengurus Komunitas TDA Medan 6.0, jauh dari lubuk hati yang terdalam aku pribadi sangat ingin berkontribusi lebih dengan segala keterbatasanku. Seluruh kawan kawan di komunitas ini memberikan kontribusi terbaiknya dibidang keahlian masing –masing. Intinya, semua  berupaya menebarkan manfaat tidak hanya untuk usaha diri sendiri tapi juga untuk kemaslahatan umat dan perbaikan di masyarakat. Tujuan ini diusung oleh setiap bidang yang menjadi bagian komunitas tersebut. Di komunitas TDA (Tangan Di Atas) ada program yang diberi nama TDA peduli. Saat ini TDA peduli digawangi Kak Hidayati, Senior di komunitas pengusaha besar di Indonesia yang anggotanya mencapai ribuan orang yang tersebar di 7 negara. TDA peduli ini mengurusi kegiatan sosial komunitas. Pernah, untuk kegiatan TDA Peduli ini, komunitas bekerjasama dengan ACT, Opick, dan artis lain melaksanakan pengumpulan dana untuk disumbangkan ke Palestina.  Pernah juga memberikan bantuan ke Sinabung berupa bahan pangan. Sebelum membuat program tahun 2020 ini TDA  Peduli juga melakukan serangkaian panjang selama setahun di komunitas tukang  becak di lingkungan  Masjid Taqwa Polonia. Kegiatan nya selain pengajian, keterampilan memasak, motivasi bisnis selama 1 tahun kepada 28 orang lebih tukang becak. Diharapkan dilakukan setahun kegiatan sosial dan berbagi secara nyata ini membuahkan hasil terutama kehidupan tukang becak di lokasi tersebut yang secara penghasilan jauh berkurang sejak kehadiran ojek online. 
Kak Hidayati sebagai keeper bidang ini membuat program tahunan sebagai berikut :


No
Bulan
Kegiatan
Materi
1
Desember 2019
Kelas Motivasi
Memulai Usaha
2
Januari 2020
Kelas Ketrampilan
Membuat bros dari bahan kain perca
3
Februari 2020
Kelas Menulis
Belajar menulis blog
4
Maret 2020
Kelas memasak
Membuat nugget pisang
5
April 2020
Kelas Tausiyah
Pengenalan diri sebagai muslimah
6
Mei 2020
LIBURAN LEBARAN
7
Juni 2020
Kelas Ketrampilan
Membuat kreasi  dari bahan planel
8
Juli 2020
Kelas Memasak
Membuat bronis kukus
9
Agustus 2020
Kelas Ketrampilan
Membuat kreasi  dari bahan daur ulang
10
September 2020
Kelas Memasak
Membuat kreasi  dari martabak mini manis
11
Oktober 2020
Kelas Ketrampilan
Membuat kreasi  dari pita
12
November 2020
Kelas Ketrampilan
Merajut
13
Desember 2020
Kelas Coaching
Manajemen usaha


Tahun ini, TDA Peduli mengundangku untuk menjadi narasumber pelatihan handycraft guna memanfaatkan kain perca bekas jahit buat anak yatim piatu di Panti Asuhan Putri Aisiyah Jl. Santun. Sudah dua kali kami bersama Kak Hidayati mampir kesana memberikan pelatihan membuat bross dari kain. Mungkin jika Allah meridhoi, aku juga akan membantu Kak Hidayati menyelesaikan program ini setahun kedepan.

Apa dan Dimana Panti Asuhan Puteri Aisiyah itu?
Panti asuhan Aisiyah tempat kami setahun ini melakukan kegiatan pengabdian terletak di jalan Santun No. 17 Sudirejo I, Medan. Panti ini milik Organisasi Aisiyah yang berada di bawah naungan Pimpinan Daerah Muhammadiyah. Di Medan sendiri ada 5 panti asuhan milik organisasi Muhammadiyah yang tersebar di seluruh kota Medan. Di Panti ini tak kurang dari seratus orang anak perempuan yatim piatu dan terlantar dirawat dan dididik  mulai usia pra-Sekolah Dasar hingga jenjang perkuliahan. Panti Asuhan Aisiyah  Medan memenuhi seluruh kebutuhan anak anak yang tinggal disini mulai dari makanan hingga sekolahnya. Panti ini sangat terbuka dengan bantuan bantuan adri pihak eksternal. Saya pribadi bersama keluarga yang kebetulan merupakan pengurus di salah satu ranting organisasi ini melihat potensi yang besar jika anak-anak disini diedukasi dengan baik. TDA Peduli juga memliki pemikiran yang sama. Niat tulus dari TDA ingin setidaknya dengan menjalankan program pemberdayaan selama satu tahun disini dapat melahirkan pengusaha diakhir programnya. Setiap bulan di minggu kedua kami datang membawa ilmu berbeda beda. Setidaknya, dari sekian banyak anak yang menetap disini dan ikut hadir di Minggu kedua setiap bulannya mereka dapat menemukan passion nya masing masing untuk mengembangkan dirinya lebih lagi ditambah ilmu yang didapat dari sekolah.
Ngapain Aja  Kegiatan Mumubutikue bersama  TDA Peduli di Panti Asuhan tersebut?
Sesi tahun 2020 ini sudah kami mulai pemanasan di bulan Desember 2019 kemarin. Di akhir tahun kemarin kami meberikan sesi motivasi bagi anak anak panti tersebut. Di dalam sesi motivasi wirausaha kami meminta mereka menemukan visi dan misi hidupnya di dunia ini. Menurutku, tanpa visi dan misi tentu seseorang akan sulit menetapkan strategi yang akan dia ambil dalam menjalani hari hari dalam kehidupannya. Setelah mereka menemukan tujuan hidupnya, kami mulai memberikan rangkaian kegiatan selama setahun dengan variasi bentuk dan bidang agar dapat memenuhi kebutuhan masing masing minat dan bakat. Tentunya kami menyesuaikan dengan kapasitas diri kami dibantu kawan kawan lain yang sudah sukses lebih dahulu. Di pertemuan kedua kami memberikan mereka kelas membuat bross kain tingkat dasar. Kelas ini dimulai pukul 10.00 WIB. Seperti biasa acara dibuka oleh ibu Zubaidah, kepala Panti Asuhan. Sekitar 40 anak perempuan sudah datang untuk belajar memanfaatkan kain perca. Rentang usianya tidak sama. Ada yang masih kelas 1 SD ada juga yang sudah menginjak bangku SMA. Aku berusaha menyesuaikan gaya bahasa dan cara menyampaikan materi pelatihan. Tentu cara berfikir lintas usia itu tak sama. Tingkat antusiasme mereka juga berbeda. Ada yang semangat sekali ingin belajar, ada yang kurang berminat namun terpaksa mengikuti karena tidak ada pilihan. Aku berusaha memahami mereka. Gesture nya memberikan informasi yang sangat penting. Aku memutuskan fokus pada yang serius saja agar kelas ini tidak terpengaruh secara keseluruhan.
Fokus pada yang antusias
Akhirnya kelas tersebut aku bagi dalam 3 kelompok besar dengan anggota yang dicampur secara usia. Harapannya agar mereka saling mem-backup satu sama lain. Dibantu Yola, timku di mumubutikue, kami mulai mebagikan peralatan dan bahan untuk membuat bross. Kak Hidayati membantu membagikan kain perca. Mereka berebutan. Hahahaha. Ini menambah cairnya suasana sehingga tidak terlalu kaku. Aku senang mereka bisa menikmati kegiatan ini. Aku memang menyukai kelas yang interaktif, santai tapi tetap fokus. Langkah demi langkah membuat bross mulai dilakukan. Sesekali aku mendatangi masing masing kelompok untuk mengecek hasil kerja mereka. Beberapa kali mereka bertanya tentang tehnik menjahit, tehnik melipat kelopak dan lain-lain. Banyak bertanya itu biasa. Artinya ada proses pembelajaran dalam bertanya itu. Mereka memang jarang berinteraksi dengan alat –alat yang kubawa kemarin.  Bahkan ada yang itu pertama kalinya mereka memegang jarum jahit.  
Kelas berjalan terus, “Kak pinjam guntinglah..” kata si kecil.  Di kelompok lainnya mereka sibuk memilih kain yang akan dipakai untuk bros. Sekelompok lagi malah sibuk menempel manik manik ke kain sebagaimana yang sudah diajarkan.

 
Peluang Usaha Baru untuk Anak Panti
Harapan terhadap kelas ini
Limbah kain cukup berbahaya bagi lingkungan. Pernah saya baca di http://www.jktdalang.blogspot.com bahwa karakteristik limbah kain sebagai berikut :
·         Sulit menyatu kembali dengan lingkungan alam
Limbah garmen yang berupa sisa potongan kain akan sulit hancur meskipun sudah bertahun-tahun lamanya tertimbun didalam tanah, terlebih lagi jika kain itu terbuat dari bahan serat sintetis dan bukan serat alami.
·         Dapat merusak biota yang ada didalam tanah dalam jangka waktu tertentu
Akibat dari tidak dapat terurainya limbah garmen seiring berjalannya waktu maka hal ini dapat membawa dampak berupa rusaknya biota tanah dimana limbah garmen itu dibuang.
·         Apabila dibakar asapnya bisa mencemari udara
Pembakaran limbah garmen dalam jumlah yang besar akan berdampak pada lingkungan udara disekitarnya. Asap dan bau yang ditimbulkannya bisa mengganggu pernafasan dan iritasi mata.
·         Bisa menjadi media berkembangnya bibit penyakit
Gumpalan-gumpalan limbah garmen yang bercampur dengan jenis sampah lainnya merupakan media yang baik bagi berkembangnya bibit-bibit penyakit.
·         Bisa menyumbat saluran-saluran air yang pada akhirnya bisa menimbulkan banjir
Limbah garmen yang menggumpal bersama tanah dan sampah plastik bisa menyumbat selokan-selokan dan saluran air lainnya, sehingga pada akhirnya bisa menimbulkan banjir.
·         Membutuhkan lahan yang luas sebagai tempat pembuangannya
Limbah dari industri garmen ada dalam volume yang besar sehingga penanganannya membutuhkan lahan yang luas pula. Hal ini akan menjadi kesulitan tersendiri jika industri garmen penghasil limbah itu berada pada daerah yang padat penduduknya, dimana tidak tersedia lagi lahan yang cukup untuk penimbunan limbah tersebut.

Satu – satunya solusi agar limbah sisa penjahit ini bisa mengurangi dampak buruk bagi lingkungan adalah dengan memanfaatkannya menjadi produk layak jual. Kenapa memilih ide daur ulang kain? Karena aku bersama mumubutikue_craft sudah membuktikan usaha ini bisa berkembang.  Modalnya juga murah. Aku dulu memulainya dengan modal tak lebih dari Rp. 200.000,-

Peralatan dan bahan yang dibutuhkan untuk memulai usaha ini cukup sederhana yaitu :
1.      Lem tembak dan isinya
2.      Gunting
3.      Jarum jahit dan benang jahit.
4.      Kain perca
5.      Jika sudah berkembang bisa menambahnya dengan aplikasi lain untuk mempercantik.
 
Produk yang mereka hasilkan dari kelas ini
Akhirnya kelas ini berakhir sudah setelah beberapa jam kami belajar bersama membuat produk. Jika ada kesempatan lain kita akan membuka pelatihan advanced untuk aktivitas ini. Besar sekali harapanku, dari kelas singkat yang berskala kecil di Panti Asuhan menghasilkan pengusaha atau handycrafter baru yang akan mewarnai kancah penjualan aksesoris daur ulang di Indonesia.
Semoga kedepannya aku bisa memanfaatkan weekend dengan aktivitas lain yang jauh lebih bermanfaat lagi. Kalau Emak pembaca atau Ayah?  aktivitas weekend seperti apa yang suka dikerjakan? Sharing yuk..





0 comments:

Posting Komentar