9 langkah ini membuat Aku bebas dari hutang hampir 1 Milyar


source by google

Diputer, dijilat, dicelupin!

Begitulah kira kira jatuh bangun berdarahnya mau melunasi hutang atas nama Allah. Bukannya apa apa, takut dihisab amalan gak cukup buat dianggarkan di kampung akhirat nanti.. Naudzubillah..


Euforia Tahun Baru.

Saatnya mulai libur rada panjang buat sebahagian orang. Rata –rata  timeline media sosial penggunanya memamerkan perjalanan liburan. Ramai yang bikin story di Instagram lagi piknik di pantai, lagi mandi- mandi di waterboom, lagi di taman bunga, bahkan ke luar negeri. Senang melihatnya. Namun, kelihatannya tak cukup baik buat segelintir netizen pembaca berita. Terlebih buat orang orang yang memberikan piutang khususnya hutang secara pribadi... fiuhhh..  Ini gak mudah. Melihat orang yang hutangnya belum diselesaikan tapi mengunggah perjalanan holiday sakitnya tuh disini (pegang jempol kaki) hahahha..
Terus terang tulisan ini tidak hendak menyindir siapapun. Malas melakukan aksi sindir menyindir, bukan gue banget. Cuma melihat ramainya unggahan soal “yang boleh jalan jalan hanya yang gak punya hutang” ini membuatku tergelitik ingin berbagi tips berdasarkan pengalamanku menyelesaikan hutang. Siapa tahu ada cara yang bisa dicopi paste oleh orang lain. Karena aku sungguh gak suka berhutang. Kayak ada yang ngeganjel.  Cerita ini juga bukan untuk mengumbar kehebatan atau aib keluarga, murni sekedar berbagi cerita saja. Harapannya ada manfaat dari cerita tak hebat ini. Sekali lagi aku  tidak menyalahkan orang punya hutang. Cuma jika boleh mengingatkan, hendaknya disesuaikan kemampuan menyelesaikannya dan bertanggung jawab, itu aja. Karena orang lain, pun punya kebutuhan. Setiap hari aku mendoakan semua orang yang pernah memberikan pinjaman kepada kami di saat saat genting dulu. Bahkan ada yang meminjamkan uangnya tanpa diminta. Buatku itu mahal harganya. Mereka percaya aku bisa mengembalikan uang mereka padahal waktu itu aku betul betul sempit. Kepercayaan orang lain itulah yang membuatku berjuang melunasi semua hutang hutang. Dibantu oleh suami yang rela menyumbangkan semua harta yang dia punya untuk mendukungku menyelesaikan kewajiban –kewajiban pada orang lain walau gak mudah.

Defenisi hutang di mataku

Hutang itu bukan kewajiban (ketika ada, bayarnya jadi kewajiban)
Hutang bukan kebutuhan
Hutang lahir karena cara orang memandang dunia dan kehidupan ini salah (salah benar masing masing orang beda)
Karena kalau bicara anjuran,  hidup itu cukup disederhanakan saja.  Karena Allah sebetulnya sudah cukupkan rezeki kita.
Tapi kan gak enak ya hidup di dunia ini lempeng aja. Haahhaa
Jadi hutang bisa terjadi karena pembentukan gaya hidup yang tidak sesuai.

Hutang terjadi karena hidup berdasarkan standar yang dibentuk orang lain.  Misal,  banyak yang bilang
"Zaman sekarang kalau gak punya hutang mana bisa." atau
"Zaman sekarang kalau gak hutang beli mobil gimana caranya?."

Tapi mungkin akan lebih baik kalau paradigma yang dibangun seperti ini :
Duit belum cukup beli mobil,  yaudah sih naik sepeda motor aja. Toh kendaraan itu fungsinya sama sekedar mengantarkan dari suatu tempat ke tempat lain.  Kalau belum mampu beli motor ya wes naik ojek online kan bisa. Yang penting gak ngutang.

Atau, duit cuma Rp. 10.000 ya sudahlah makan mie instan aja yang penting cukup gak ngutang.
Tapi kan bisa mencari pembenaran dengan bilang :  "Kasihan anak anak makannya gak bergizi."  Padahal Emak dan Bapaknya yang gak tahan melihat orang makan di restoran,  masak iya kita makan di rumah aja seumur hidup.  Hahaha... Eh, ngomong-ngomong perkara makan ini blom pernah dengar ya cerita yutuber tingkat Asia yang beken itu konon pernah makan roti sampah toko yang akan dibuang saking berusaha menyesuaikan uang yang minim dengan kebutuhan.  Pada akhirnya dia   bisa kaya juga dibuat Yang Maha Kuasa, Mungkin Tuhan  kasi setimpal dengan ibadahnya yang lebih banyak dari orang lain.

Tapi kehidupan ini gak enak kalau protagonis gitu.  Ketika semua orang naik mobil,  kita masak iya gak naik mobil juga.  Alasannya, "Anak- anak kasihan kena hujan."  hehehe..
Padahal Ayah dan Ibunya yang gak kuat sebelahan sama mobil bagus di lampu merah.
Emak sama Bapaknya yang gak kuat kalau arisan ditanyain "naik apa?"  trus jawabannya naik angkot.

Sama kayak bisnis, banyak yang bilang : "Kalau gak ngutang bisnis gak berkembang lah."
Memang Allah itu tergantung prasangka hambanya ya.  Kalau manusia mikir ngutang jalan terbaik ngembangkan bisnis ya akan di kun fa ya kun  kan seperti itu  hehehe...
Trus nanti statement ini dibantai sama orang yang pandangannya berbeda inilah itulah bla bla..  Jawaban orang akan subjektif semua tergantung kepentingan masing masing Hahaha..
Gak papa.. Kita gak sedang UAS, jadi gak ada salah benar. Yang ada kau begitu aku begini. Sama saja... Kayak lagu Broery Marantika. Eh pada kenal gak yah hahaha.

Sebahagian orang memang terlalu sibuk membentuk nilai harga diri sesuai standart orang lain.
Ada juga yang sangat mendewakan hawa nafsu. Hidup sederhana itu memang tak gampang makanya pahalanya besar.  Padahal ketika itu semua dilepas hidup jadi lebih mudah. Eniwei, gaya hidup memang jauh lebih mahal dibandingkan biaya hidup
Maka waspadalah..


Kenapa Aku bisa jadi "kolektor"  hutang?
Aku adalah orang yang tidak bergaya hidup  berlebihan. Dibilang sangat hemat juga enggak sih. Lebih kepada menyesuaikan kebutuhan dengan isi kantong sebagaimana diajarkan almarhum ibuku.
Ibu kami meninggal dunia tahun 2006 akibat kanker stadium lanjut. Sebelum meninggal, beliau dirawat di Rumah Sakit Dharmais Jakarta selama 6 bulan. Menjalani 24 kali kemoterapi dan berkali kali masuk ICU. Beberapa kali saat di Medan, Mama, begitu kami sehari-hari memanggilnya dirawat di RS. Santa Elizabeth Medan. Walaupun ditanggung oleh perusahaan BUMN tempat beliau bekerja, namun kami tidak memungkiri, berkali kali berobat di dalam dan luar negeri, naik pesawat, menginap di hotel, sewa apartemen, bayar perawat khusus disaat aku dan adikku pergi bekerja, diapers, dan lain lain nya tak heran membuat hutang kami jadi membengkak. Namun, aku dan adikku bekerja keras untuk upaya  penyelamatan. Kami berdua bahu membahu demi kesembuhan Mama. Hingga Akhirnya tahun 2006 November, Mama berpulang.
Sejak itu Papa stress. Disaat Mama dipanggil yang Maha Kuasa, Papa memasuki usia pensiun. Kondisi kami tak lagi sama. Kami yang dulunya kemana- mana pergi ber- empat, seakan patah sayap. Terlebih kemudian aku menikah sesuai wasiat Mama di hari- hari terakhirnya, Papa semakin merasa kesepian walau kami masih tinggal bersama. Setahun lebih tujuh bulan kondisi ini berjalan tubuh Papa tiba- tiba menguning, aku menganjurkan Papa memeriksakan diri ke dokter. Tak puas dengan hasil pemeriksaan di satu dokter, kami mencari second opinion. Hingga terjawab teka- teki penyakit Papa. Beliau divonis mengidap kanker pankreas stadium lanjut. Kehilangan soulmate, pensiun, kesepian tak mudah pastinya. Dokter bilang, stress tingkat tinggi dipercaya menjadi pemicunya. Tiga minggu kesana kemari berobat, masuk ICU, operasi pengangkatan kanker, dan segala rangkaian tahapannya, akhirnya Papa menyerah. Qadarullah papa menghembuskan nafas terakhirnya di RS. Haji tahun 2008.
Kesulitan kami tak hanya  sampai disitu. Kami yang kebetulan juga merawat nenek yang sudah stroke harus berlapang dada ketika tiga bulan kemudian Nenek kami, Ibu dari Papa meninggal dunia. Habis sudah keluarga kecil ini. Punah. Tinggal aku berdua dengan adikku yang saat itu belum menikah. Kondisi tak mudah ini pun akhirnya menitipkan penyakit lupus pada adikku. Cerita lengkapnya sudah pernah aku tuliskan di blogku. Silahkan baca cerita ini https://www.siskahasibuan.com/2019/01/10-tahun-bersama-lupus-part-5-end.html

Inilah alasan hutang itu tercipta. Dua belas tahun bersahabat dengan penyakit mematikan membuat kami terpuruk parah dulu. Bukan untuk gaya hidup. Bukan untuk kesenangan dunia. Lebih kepada kebutuhan keluarga yang harus diselesaikan bersama. Alhamdulillah Allah kasi kesempatan Aku menyelesaikan tugas ini sendiri untuk mengedukasi bahwa sebagai manusia penuh dosa, sebagai anak sulung yang hormat dan sayang pada orang tua, sebagai kakak kandung yang cinta adiknya. Aku hanya bisa mendedikasikan diri untuk menyelesaikan hutang keluarga yang tercipta dari kondisi tersebut. Jumlahnya gak terlalu banyak lah cuma hampir satu Milyar. Hahahahaha….. Plafond biaya berobat dari perusahaan tidak mencukupi untuk membayar tagihan yang ada. Belum biaya lain lain  untuk operasional, pengobatan lintas kota, lintas negara dan sebagainya. Selama proses itu, aku gak pernah berfikir mereka akan meninggal dunia semua. Yang kucita citakan adalah mereka akan hidup lebih lama bersama. That’s why aku berupaya melakukan berbagai metode penyembuhan mulai dalam kota, pergi ke ibukota sampai ke luar negara. Tapi Allah berkehendak lain. Mereka dijemput satu persatu meninggalkanku.  Aku gak bisa memberikan apa- apa buat mereka yang telah lebih dulu pergi meninggalku,  cuma bisa berupaya sekuatnya, entah tingkah lakuku di dunia bisa meringankan beban kedua orang tua dan adikku. Dimataku mereka orang- orang baik, harapannya, mereka diizinkan Allah masuk ke surga jannatunna’im. Katanya, hutang itulah yang susah pertanggungjawabannya di akhirat sana, agar hisab mereka tidak menjadi berat,  maka aku harus bekerja keras menyelesaikan hutang keluarga ratusan juta itu walaupun hampir 10 tahun.


Hutang dan Pola asuh.
Mengapa orang memilih berhutang? Rata rata orang jika diajukan pertanyaan seperti ini jawabannya karena kepepet. Kadang saya mikir. Kenapa kita mengenal kata kepepet ini? Bukankah sebagai manusia kita hanya dianjurkan untuk bersyukur, ikhlas dan sabar atas semua cobaan? Susah sih, tapi bukan berarti mustahil. Ini soal biasa dan tak biasa saja.
Menurutku, perkara hutang ini berkaitan dengan kebiasaan dan pola asuh keluarga. Karena, belakangan ini, aku mengenal cukup banyak sahabat yang hidup dengan kesederhanaan tapi tetap bahagia tanpa ingin berhutang sedikitpun. Artinya, semua manusia berpotensi hidup tanpa hutang jika mau. Masalahnya, kebanyakan dari kita cari pembenaran. “Mana ada hari gini orang hidup tanpa hutang” ini ungkapan yang paling sering diungkapkan orang. Jujur, walau dalam kesempitan, dulu kami gengsi pinjam uang dari orang lain. Bukan mau takabur, tapi memang tak terbiasa sejak kecil.
Beberapa aturan yang dulu jadi budaya di rumah kami seperti di bawah ini :
1.       Boleh punya mimpi tapi harus tahu diri.  Jadi, kami diberi kesempatan untuk membuat rencana hidup semaksimalnya, namun  disesuaikan dengan kapasitas diri.
2.       Tidak boleh saling meminjam barang walau kakak adek atau ibu anak. Bikin label kepemilikan barang. Kebiasaan ini akhirnya membuat saya tumbuh menjadi orang yang  tidak tertarik dengan hak milik orang lain.
3.       Mengembalikan sesuatu pada tempatnya. Pembiasaan hal ini menumbuhkan sikap disiplin. Akibatnya bisa merember pada hal hal lain misalnya membayar tagihan listrik tepat waktu, membuat pembukuan keuangan keluarga, sehingga akhirnya kondisi keuangan bisa dikontrol pengeluarannya. Soal ketat atau tidak, hemat atau boros, itu sih pilihan masing-masing orang.
4.       Pemahaman soal pertanggung jawaban di akhirat. Dipahamkan soal ini sejak kecil oleh orang tua akhirnya membuat kami berhati hati dalam melangkah dan mempergunakan uang.
5.       Bangga pada milik sendiri dengan bersyukur. Jangan menganggap milik orang lain lebih indah. Setiap milik kita insyaallah lebih baik karena pemberian allah.
6.       Keluarga adalah support system, bonding time harus terus menerus sepanjang hayat sehingga kesulitan yang satu menjadi kesulitan bersama sehingga berupaya cari solusi bersama.
7.       Hubungan darah bukan untuk saling membunuh melainkan untuk saling menguatkan. Dengki silahkan campakkan jauh jauh.
Setidaknya sejak aku mengenal diriku, ayah ibuku adalah orang yang sangat serius menumbuhkan nilai-nilai ini di rumah. Bahkan ditularkan juga pada anak didiknya yang cukup banyak yang menetap di rumah. Namun, pengawasan terhadap berjalan tidaknya nilai nilai ini juga sangat perlu dimonitor dan di evaluasi secara berkala. Kami secara rutin diingatkan jika ada hal hal yang terlupa. Alhamdulillah.. setidaknya, walaupun bertanggungjawab sedemikian besarnya, aku tetap menyelesaikannya dengan bahagia tanpa paksaan. Dan Allah Maha baik menghadiahkan suami yang punya frekwensi yang sama soal ini. Sehingga kewajiban ini jadi lebih ringan dilakukan bersamanya karena dia begitu lapang dada menerimanya.

Caraku melunasi hutang hampir satu milyar (akhirnya).
Aku membutuhkan waktu hampir sepuluh tahun untuk benar benar menyelesaikannya. Sebab ibarat kata orang tua, masalah kami dapat bedapat (beruntun).. hahaha… Banyak hal yang aku kerjakan dalam proses panjang itu. Sembari masalah tetap datang bertubi-tubi. Apa saja yang sku lakukan dulu? 9 hal yang aku ingat betul seperti yang aku paparkan di bawah ini :

1.       Bekerja pintar. Cari bidang yang memungkinkan mendapatkan insentif di luar gaji. Untuk ini asah kemampuan dan saya memilih divisi marketing. Susun target kerja over limit agar mendapatkan insentif di atas rata-rata. Aku dulu, sampe pernah insentifnya bisa beli sepeda motor matic secara cash. Tapi yaa berdarah-darah dulu menyelesaikan targetnya hehehe... Tapi gak papa, usaha takkan menghianati hasil. Percayalah Allah tidak tidur melihat ikhtiar hambanya. 
2.       Introspeksi, berbicara dengan diri sendiri, kenali diri dan cari passion lain yang bisa dikembangkan selain tugas utama. Setiap hari aku bersimpuh, menangis, memohon, memasrahkan diri, terserah Allah lah mau membalas dengan cara apa yang penting Allah tahu kebutuhanku itu tak kan selesai jika tidak diselesaikan-Nya.
3.       Setelah menemukan passion sebenarnya, breakdown skill lain di luar pekerjaan utama untuk memperoleh pendapatan tambahan. Jujur, aku sempat memakai tes stiffin  untuk membantu mengambil keputusan.
4.       Amati peluang pasar dan usaha yang diterima masyarakat.
5.       Saat itu aku menemukan passion ku adalah bidang industri kreatif, fashion dan kuliner.
6.     Aku menyadari bahwa skillku  antara lain menjahit, mengajar, memasak, make up, mengatur sesuatu.
7.       Mulai menyusun target yang harus dicapai setiap harinya. Bikin daily to do list dan rencana tabungan yang harus disimpan setiap hari. Jumlah hutang dibagi target hari yang dirancang akan melunasi hutang. Misalnya hutang satu juta ingin dilunasi dalam 2 bulan maka saya buat target 1.000.000 : 60 (target hari melunasi hutang) = 16.666 (kurang lebih 17.000 perhari. Maka aku harus merancang kira kira kegiatan apa yang bisa aku lakukan untuk menghasilkan uang 17.000 perhari untuk cicilan hutang (belum termasuk kebutuhan lain saat itu)
8.       Patuh pada rule yang sudah ditetapkan pada diri sendiri.
9.      Kegiatan menghasilkan uang yang kutemukan dalam diriku yang saat itu dilakukan setiap hari adalah sbb :
-    Menjual baju dari supplier di salah satu pusat belanja. Untuk bisa menjadi reseller saat itu, aku berhasil membuat Bu Jum, toke itu meminjamkan barang untuk dijual kembali padahal tidak saling kenal mulai harga Rp. 500.000 hingga 40 juta rupiah dalam satu kali transaksi tanpa modal sepeser pun. Modalnya cuma kepercayaan saja. Aku berusaha tepat  waktu dan jujur. Dulu belum berkembang bisnis online sepertisekarang sehingga cara berjualanku juga masih sangat konvensional.
-   Make up pengantin, wisuda, penerima tamu, dan lain lain (terkadang disertai dengan  merancang baju, kreasi jilbab, menjual aksesoris yang tepat dll.
-         Menjual sarapan pagi untuk orang kantoran dan bekal sekolah
-         Menjual makanan beku (nugget) dan bumbu serbaguna frozen untuk keluarga.
-         Menjual cake pesanan.
-         Menjual snackbox, kue, tumpeng dan lain lain.
-         Membuat kelas kreasi jilbab, membuat kue sederhana, membuat batik.
-         Membuat set taplak meja, kursi, tutup gallon dll.
-         Catering pesta, maulid  dan  tujuhbelasan.
-         Wedding organizer
-         Event organizer.
-         Membuat souvenir pernikahan.
-         Menjual bross.
-         Mengajar pelatihan keterampilan.

 Aku selingi usaha ini semua dengan sedekah sesuai kemampuanku,  Alhamdulillah sedikit demi sedikit semuanya selesai. Suamiku mengajarkan, konsep menabung dalam Islam ya bersedekah, bukan menumpuk harta.

Yang harus diperhatikan dalam proses ini semua adalah bagaimana memperjuangkan  penghargaan terhadap diri sendiri dan meningkatkan kekuatan mental. Kami dulu sampai tak berani datang ke arisan keluarga saking harus menjaga finansial agar tidak meleleh. Demi menjaga hati agar tetap utuh pada tempatnya. Cukup banyak bully  yang kami terima. Baik dari keluarga hingga kawan yang tidak sefrekwensi. Aku pribadi pernah dituduh kemaruk, gila dunia, dan haus uang. Tapi mereka yang komen toh gak pernah bantu seribu perakpun saat aku kesulitan. Hahaha… Ya salam.. Setidaknya, perjalanan ini semua mengajarkan aku untuk menahan mulut ketika ingin komen terhadap tingkah orang lain. Walau kadang suka belum benar juga. pinomat usaha itu ada. Menuliskan cerita ini membuat aku membayangkan sahabat -sahabatku tersayang yang memang sangat peduli terhadap kondisiku. Siang malam dalam doaku, walau kami jarang bertemu, aku dokan mereka mendapatkan berkah terbaik dari Allah. Berlimpah rezekinya sebagaimana mereka membaginya padaku tanpa diminta.

Akhirnya masa sulit itu berlalu. Intinya tekad yang kuat untuk keluar dari sebuah kondisi yang tidak nyaman dan tak sesuai hati nurani. Kata Allah : " Tidak akan berubah nasib suatu kaum jika tidak diubahnya sendiri."
Sebaik- baiknya balasan hanya dari Allah. Perjalanan ini tidaklah hebat, cuma aku berharap  semoga sahabat pembaca semua dimudahkan Allah untuk bebas dari hutang piutang di dunia dan akhirat. Amin.


 QS. Surat Al-Baqarah Ayat 155 :
"Dan kami akan benar-benar menguji kalian dengan sedikit rasa takut, kelaparan dan kekurangannya harta karena kesulitan dalam mendapatkannya atau hilang sama sekali. Dan dari jiwa dengan terjadinya kematian atau mati syahid dijalan Allah, dan dengan berkurangnya buah-buahan kurma, anggur, dan biji-bijian karena sedikitnya hasil panen atau rusak. Dan berilah kabar gembira -wahai nabi- kepada orang-orang yang bersabar dalam menghadapi persoalan ini dan persoalan-persoalan yang serupa dengan apa-apa yang membahagiakan mereka dan menyenangkan mereka berupa kesudahan yang baik di dunia dan akhirat." 
(Tafsir al-Muyassar)




8 komentar:

  1. Balasan
    1. Hihi.. Se real nya hidup kita yang tak mudah ini hehe

      Hapus
  2. Tersanjung awak. Makasi abangda mastah..

    BalasHapus
  3. MasyaAllah kak luarbiasa perjalanan yg kk lalui, makasi ilmunya ❤️

    BalasHapus
  4. itu yang membuat akhirnya biasa diluar mba zee hehehe sekarang alhamdulillah udah kembali ke rumah. hehehe makasi mba zee..

    BalasHapus
  5. Masha Allah.. Baru nemu dan baca..luar biasa ya bun. Kayak semangat baru yg hadir buat saya, krn proses melunasi hutang ini sedang saya jalan ni.. Berdarah2 pastinya.. Tapi in shaa Allah bisa kami ya bun..doakan buat kami agar segera selesai semuanya.. Terima kasih buat tulisan yg luar biasa..

    BalasHapus
  6. Masha Allah.. Baru nemu dan baca..luar biasa ya bun. Kayak semangat baru yg hadir buat saya, krn proses melunasi hutang ini sedang saya jalan ni.. Berdarah2 pastinya.. Tapi in shaa Allah bisa kami ya bun..doakan buat kami agar segera selesai semuanya.. Terima kasih buat tulisan yg luar biasa..

    BalasHapus