Strategi dan Tips Mempersiapkan Masa Pensiun (Dini) ala Eks Banker.


          

KLBK, Kerja Lama Berulang Kembali hehehe...


Diundang Sharing Session di Program Pelatihan dan Keterampilan Polda Sumut bersama Bank BTPN, program yang ikut mendewasakan pikiran saya.

Terima kasih kesempatannya, bank BTPN

Seorang sahabat lama di tempat saya bekerja, yang dulunya adalah tim saya, menghubungi via chat whatsapp Dia meminta saya untuk bersedia menjadi narasumber dalam kegiatan Latram, Pelatihan dan Keterampilan Persiapan Memasuki Masa Pensiun, Jajaran Polda Sumut 19 November 2019 kemarin. Program ini adalah program yang saya handle selama 5 tahun terakhir masa kerja saya. Dulu, saya yang mengawal program ini untuk wilayah Sumatera Utara, dan membantu tim saya se-Sumatera dari awal program di rencanakan hingga selesai. Tugas saya selain narasumber internal mewakili perusahaan, juga melakukan koordinasi dengan seluruh Polda Se-Sumatera dibantu tim saya yang sangat solid dan semuanya lelaki itu. Hehehe.. Saya serasa jadi perempuan di sarang penyamun. Hahaha…
Sesungguhnya, ini permintaannya yang kesekian. Dari kemarin, saya menganggapnya cuma canda dan olok olok. Namun, melihat kesungguhannya menghubungi, saya akhirnya memutuskan menerima tawarannya. Saya fikir, saya senior dong dibanding bapak polisi itu. Mereka masih pensiun 3 tahun lagi, sementara saya sudah melakukannya dua tahun lalu. Akhirnya saya bersedia sharing apa yang saya lakukan menjelang masa pensiun (dini) saya.
Pagi itu saya tiba di Polda Sumut pukul 07.00 wib bersama Hen Ramot Sinaga, tim kerja saya dulu, Clarita, sekretaris saya dan Bang Ari, driver di Bank BTPN. Sesampainya di Polda, Saya menyempatkan diri say hello dengan beberapa Bapak dan Ibu Polisi yang masih mengenali saya. Di pintu masuk Aula Tri Brata Polda Sumut, saya bertemu  dan menyempatkan diri foto bersama Coach Qodrisyah Siregar, pakar persuatriks, salah satu mentor di komunitas Tangan Di Atas (TDA) yang menjadi motivator utama perhelatan besar ini.

Acara dimulai setelah Bapak Wakapolda, Karo SDM Polda Sumut, dan petinggi lainnya tiba di ruangan untuk menyampaikan sambutan dan membuka secara resmi acara tersebut.
Sebelum dimulai, di dalam aula saya kembali menyempatkan foto bersama bapak-bapak para senior di Bank BTPN

Setelah acara di buka, seluruh peserta yang hadir sejumlah kurang lebih sekitar tiga ratus orang calon purnabakti di jajaran Polda Sumut dan para mitra undangan menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama sama. Satu demi satu sambutan selesai disampaikan, kemudian sesi pagi ditutup penyampaian materi motivasi oleh Coach Qodrisyah yang luar biasa menghidupkan suasana.

Giliran saya "manggung" setelah ishoma (istirahat, sholat, makan siang). Ini merupakan jam gawat. Setelah kenyang, biasanya peserta rentan mengantuk. Saya harus mengerahkan kemampuan mengolah dinamika suara agar audiens tetap "terjaga" selama saya berbicara. hahaha.. Jadilah saya semi stand up comedy . Dikacangin itu pahit gan! hahaha..
Reuni with Polda Sumut
Bismillahirrahmanirrahim, saya berusaha menuturkan materi saya dengan baik semaksimal kemampuan saya. Setidaknya saya ingin, reuni ini berakhir happy ending. 


Makna pensiun di mata saya.
Pensiun menurut  KBBI adalah : tidak bekerja lagi karena masa tugasnya sudah selesai.
Pertanyaannya, kapan sesungguhnya sebuah tugas dianggap selesai? Jawabannya hampir pasti tidak pernah selesai. Hehehe. Dalam Undang Undang no. 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan, tidak diatur kapan saatnya pensiun dan berapa Batas Usia Pensiun (BUP) untuk pekerja sektor swasta.  Sama halnya dengan Undang Undang No. 11 tahun 1992 tentang Dana Pensiun yang menyebutkan bahwa hak atas manfaat pensiun dengan catatan batas usia normal adalah 55 tahun dan batas usia pensiun wajib maksimum 60 tahun. Lagi lagi, ketentuan tersebut akhirnya dianalogikan sebagai batas usia pensiun bagi pekerja (swasta). Namun dalam Perjanjian Kerja Bersama Perusahaan tempat saya bertugas dulu, ditentukan masa tugas karyawan secara normal berakhir pada usia 55 tahun. Bagi karyawan berprestasi yang memiliki skill khusus yang tidak dimiliki karyawan lain, atau dengan kata lain kemampuannya masih dibutuhkan perusahaan memungkinkan diperpanjang masa kerjanya sesuai kesepakatan. Dan itu terjadi pada beberapa pejabat penting.

Lain halnya dengan Aparatur Sipil Negara (ASN) masing masing golongan telah diatur Batas Usia Pensiun (BUP) nya sebagai berikut :
1.     PNS Umum sesuai pasal 3 ayat 2 PP No. 32 tahun 1979 tentang pemberhentian Pegawai Negeri Sipil, yang diubah menjadi PP No. 65 tahun 2008 disebutkan BUP 56 tahun.
2.     Untuk ahli peneliti dan peneliti, pasal 1 PP No. 65 tahun 2008, usia 65 tahun.
3.   Guru Besar/ Professor dan Dosen sesuai pasal 67 ayat 5 UU No. 4 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah usia 65 tahun.
4.     Guru, merujuk pasal 40 ayat 4 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen adalah usia 60 tahun.
5.      POLRI, berdasarkan pasal 30 ayat 2 UU No. 2 tahun 2002 tentang Kepolisian Negara RI, BUP nya di usia 58 tahun, berbeda dengan POLRI dengan keahlian khusus, menurut UU yang sama BUP nya adalah 60 tahun. 2 tahun lebih lama dari biasanya.
6.   Perwira TNI sesuai pasal 75 UU no. 34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia adalah 58 tahun.
7.      Bintara dan Tantama, sesuai UU yang sama dengan poin 6 di atas BUP nya 53 tahun.
8.    Jaksa sebagaimana pasal 12  UU No. 16 tahun 2004 tentang Kejaksaaan Republik Indonesia adalah  62 tahun.
9.  Eselon I dan II dalam jabatan structural berdasarkan Pasal 1 PP nomer 65 tahun 2008 tentang Perubahan kedua atas PP no. 32 tahun 1979 tentang Pemberhentian Pegawai Negeri Sipil adalah 60 tahun, sedangkan Eselon I dalam jabatan strategis adalah 62 tahun.
10.  Sementara itu, pasal yang sama dengan poin 9 di atas, Pengawas Sekolah BUP nya 60 tahun, Hakim  Mahkamah Pelayanan 58 tahun dan jabatan lain yang ditentukan Presiden juga 58 tahun.
11.  Sedangkan menurut pasal 154 UU No. 13 tentang Tenaga kerja untuk pekerja / buruh diatur oleh PK, PP dan PKB masing masing perusahaan.
(Sumber : Gajimu.com)

Dalam QS. Al Ahqaf ayat 15, Allah menyebutkan bahwa manusia disebut dewasa dan matang ketika sudah mencapai usia 40 tahun. Selain itu, Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW yang dikutip oleh Imam Al Ghazali disebutkan bahwa manusia dengan usia 40 tahun dinilai memiliki kematangan dan menggunakan akalnya dengan baik, oleh karenanya, usia 40  dianggap sebagai titik balik seseorang melakukan evaluasi. Kata Rasul, Jika pada usia ini kebaikan tak melebihi keburukannya, maka bersiaplah manusia itu untuk berhadapan dengan api neraka.

Berbekal ayat dan hadist ini ditambah  materi kajian di berbagai majlis ilmu, akhirnya saya bertekad dalam hati untuk memutuskan pensiun di usia 40 tahun. Saya ingin hijrah kepada kehidupan yang lebih baik. Di mata saya, pensiun artinya, bersiap menuju karir tahap dua, tahap di mana diri saya terus terperbaiki secara lahir dan batin dengan kemerdekaan melakukan hal hal sesuai passion yang menyenangkan diri sendiri.

Mengapa memutuskan pensiun dan kembali ke rumah?
Sebagai Regional Sumatera Customer Experience sebuah bank swasta cukup besar di negri ini di akhir karir, saya memiliki tanggung jawab memonitor pekerjaan 4 orang tim di bawah saya yang tersebar di seluruh wilayah Sumatera. Walau saya mencintai pekerjaan saya dan maksimal dalam melaksanakannya, namun, keluar kota setiap hari kadang pulang pergi dalam sehari kadang pernah menginap hingga 14 hari, tak menutup kemungkinan menjadi pemicu saya mengambil keputusan besar ini lebih cepat. Benar suami dan anak saya mendukung, mereka tak pernah komplain, semua berada di bawah kendali saya. Tapi, seiring berjalannya waktu, anak saya semakin mendekati usia akil baligh, akhirnya saya menyerah pada sinyal sinyal dan petunjuk yang dikirimkan Sang Maha pembolak balik hati. Entah kenapa, kebersamaan dengan anak dan suami semakin menghiasi mimpi mimpi saya dalam tidur di bandara, pesawat, bahkan bus di perjalanan dari satu kota ke kota lainnya.
Beberapa kali keputusan ini saya ungkapkan pada atasan saya yang sungguh baik hati, namun beberapa kali berakhir pada penolakan. Tapi, saya tetap meneruskan upaya memperkuat kuda kuda menghadapi saat dimana saya disebut “pensiunan” atau eks banker dalam aksi nyata dan doa sekuatnya. Hingga saatnya tiba, Saat dimana saya benar benar tak bisa lagi perang dan  membohongi keyakinan saya.

Ibu yang bahagia, sumber keluarga bahagia.
Apakah pensiun menjamin kebahagian keluarga? Belum tentu. Tergantung pada seberapa baik kita mempersiapkan kehidupan tahap kedua ini. Namun, dengan berbagai persiapan yang pernah saya lakukan, saya berani mengklaim bahwa betapa saya bahagia dengan keputusan saya yang sudah lama saya mimpikan dan persiapkan ini. Qadarullah, akhirnya saya pensiun  di usia 38 tahun, tepat dua tahun sebelum usia 40.  Dan saya, merasakan kemerdekaan dalam segala hal di usia dewasa saya.
Kenapa saya sangat concern  dengan kebahagiaan saya lebih dahulu? Karena dari berbagai literatur yang saya baca, ibu yang bahagia sesungguhnya adalah sumber bahagianya sebuah keluarga. Berapa banyak kasus kriminal yang terjadi baik pada suami maupun pada anak anak terjadi karena ibu yang stress?? Dan Naudzubillahimindzalik, saya tak mau itu terjadi pada keluarga tercinta saya.
Sekali lagi bukan juga karena saya stress menghadapi pekerjaan saya walau berat, namun, ibu memang tetaplah ibu, walau terlambat menjadi madrasatul ula (madrasah pertama) bagi anak saya, setidaknya saya sudah mencoba memperbaikinya semampu saya.

Strategi dan Persiapan Menjelang Pensiun.
Mendengar saya (akhirnya)  keluar dari pekerjaan saya, banyak keluarga dan teman sekantor, para pejabat divisi lain yang menyayangkan. Di sisi lain, kawan- kawan se- frekwensi di komunitas dan lingkungan baru benar benar menyambut baik “kehadiran” saya. Tak sedikit pula, sahabat perempuan yang bercita- cita “ingin berhenti” walau tak kunjung pergi juga banyak mendatangi saya untuk berdiskusi, meminta pendapat bagaimana memperkuat keputusan diri.
Pada beberapa kawan sudah sering saya sampaikan, tapi hingga tulisan ini saya buat, sampai kemarin masih ada sahabat perempuan saya yang galau habis ingin keluar dari pekerjaan saat ini dan bingung mau memulai dari mana.
Tulisan ini, saya dedikasikan buat mereka.

Ada 11 langkah yang saya upayakan dalam persiapan pensiun saya, sebagai berikut :
1.  Melunasi hutang piutang.
Saya akan ceritakan soal hutang hutang keluarga dan bagaimana saya   menyelesaikannya pada tulisan lain ya.. karena ini bisa jadi satu Bab sendiri hahaha.. Proses ini berjalan selama 10 tahun. Saya harus melunasi hutang hingga hampir 1 Milyar. Praktis semua uang yang saya dapat harus saya gunakan untuk menutup seluruh hutang terlebih dahulu. Jangankan main bola, membaca saja aku sulit. Eh... 

2.  Menyiapkan dana cadangan.
Dana ini adalah total pengeluaran perbulan saat itu dikalikan 6. Misalnya pengeluaran 5 juta sebulan x 6 maka Dana cadangan yang harus dipersiapkan adalah 30 juta rupiah.

Saya memang mencatat seluruh pemasukan dan pengeluaran keluarga sejak saya mengenal diri saya. Karena saya memang ditugaskan ibu saya sebagai “Mbok Mban” di rumah. Yang berfungsi ngatur ngatur duit rumah. Budaya ini akhirnya terbawa sampai menikah. Dulu suami saya risih meoihat saya mencatat uang keluar dan uang masuk dalam buku kas. Namun, seiring berjalannya waktu beliau mulai terbiasa. Saya bilang padanya : “Tugas istri menjaga harta suaminya. Dan ini adalah upaya saya untuk itu.
Kembali ke laptop, kenapa harus mempersiapkan dana untuk 6 bulan, saya asumsikan, dalam 6 bulan saya sudah bisa mengembalikan penghasilan saya yang berkurang akibat pensiun. Besaran ini tergantung kesiapan masing masing keluarga. Boleh juga jika dirasa 6 bulan tidak cukup, ditambah saja sesuai kemampuan masing masing. Sebaliknya, kalau teman teman merasa yakin dalam dua bulan sudah bisa seimbang kehidupan keuangannya, monggo menabung dana cadangan untuk dua bulan saja. Ini sekedar pilihan. Tapi menurut saya cukup ideal lah dalam implementasinya.

3.  Mempersiapkan mental diri sendiri, mental anak, mental suami dan keluarga besar.
Sesungguhnya, persiapan mental relatif lebih sulit dilakukan dibandingkan menabung. Saat menabung, kita hanya berhadapan dengan nafsu, sedangkan untuk poin nomer tiga ini, selain berhadapan dengan ego pribadi, juga kadang perang dengan pendapat orang, budaya dan norma masyarakat, kelas sosial hingga pandangan masyarakat. Jika kurang kuat bentengnya, potensi gagal terbesar justru dalam proses ini. Berkali kali saya meyakinkan diri bahwa apapun jenis pekerjaan saya, itu hanya “cara mencari uang”. Harusnya prestise tidak menjadi bagian dari “cara” itu tadi. Saya sampai mengganti merk alat make up setahun sebelum pensiun, agar kulit saya pun ikut menyesuaikan.
Saya beruntung akhirnya saya bisa percaya diri mengatakan saya mending hidup tetap berpengasilan daripada berpenghasilan tetap. Kapan kayanya??? Kapan merdeka nya? Bukankah 9 dari 10 pintu rezeki adalah berniaga? Ketika saya sudah “siap”, pihak lain yang saya perlu siapkan juga adalah anak anak saya. Mereka harus bersiap bahwa saya kemudian, adalah saya yang tidak lagi pulang dengan sogokan seplastik jajanan dari supermarket atau setimbun donat merk luar negeri.
Namun, yang menguras air mata saya justru jawaban anak anak dalam pelukan saya sambil bilang : “Kami gak butuh jajan ma, kami butuhnya mama…..” So sweet… Juragan kembar saya ini memang paling pandai menaikkan kuping saya sampai kadang hilang dari tempatnya.

Bagaimana mempersiapkan keluarga besar tentang keluarnya saya dari pekerjaan? Saya gak bosan deklarasi. Saya mensosialisasikan mimpi saya, planning saya kepada mertua, saudara ipar, adik kandung saya dan beberapa sahabat baik saya. Dukungan mereka turut menguatkan saya menghadapi bully. 
Yang terakhir saya siapkan adalah suami saya. Beliau awalnya tidak yakin saya mampu melewati masa masa sulit. Dia meragukan kewarasan saya kalau saya pensiun. Karena menurutnya, workaholic adalah nama kedua saya. Saya cuma bilang : “Saya hanya berhenti bekerja di luar rumah, tapi saya sudah merancang pekerjaan saya di dalam rumah.”
Beliau mendukung, walau dengan wajah bagai emoticon confused. Hehehe.. tak apa.. Saya tak butuh pengakuan, saya hanya butuh sandaran eakkkkk…
Kami pun mengganti visi misi keluarga kami, merencanakan kegiatan bersama ketika saya sudah di rumah, menyatakan komitmen untuk "mengaji" bersama, hingga berbagi peran mengelola "rumah" kami karena saya sempat menghentikan asisten rumah tangga dalam rangka adaptasi finansial.

4.  Menentukan passion, mengganti visi dan misi hidup
Tahap ini dijalani cukup lama. Karena saya harus berpuasa Senin Kamis, melakukan rangkaian sholat hajat, meminta petunjuk berbulan bulan untuk menetapkan hati ingin melakukan apa setelah pensiun. Gak mudah, tapi nikmat karena saya menikmati prosesnya. Oh iya visi dan misi ini harus ditentukan bersama keluarga. Saya meminta suami dan anak anak untuk terlibat untuk meningkatkan bonding  dan sense of belonging.

5.  Mengganti komunitas banker to be baker
Untuk mendukung penguatan mental saya, saya harus rela berdamai dengan diri sendiri untuk beradaptasi mencari komunitas baru yang frekwensinya sama. Saya berharap vibrasi dari mereka ikut menguatkan saya. Menurut saya ini sah saja dilakukan. Manusia adalah makhluk sosial yang butuh orang lain. Kata almarhum ayah saya, “jika kau ingin wangi bertemanlah dengan tukang minyak wangi”.
Karena saya berencana akan serius di bisnis kuliner, saya mencari komunitas baking emak emak deez kitchen. Saya ingat betul, saat saya ikut kelas mba Diah Lestari, saya meminta muka saya dikasi emoticon kalau foto sebab seringnya kelas diadakan di hari kerja, walau seizin bos saya, dan dilakukan setelah pekerjaan saya selesai, tapi saya tetap berusaha menjaga nama baik perusahaan. Semoga Allah mengampuni korupsi waktu jam kerja saya.
Kemudian, sebagai calon pengusaha, saya bergabung dengan komunitas TDA, komunitas pengusaha yang skalanya Nasional. Disini, saya berkesempatan belajar dengan mentor mentor bisnis yang canggih.
Selain itu, karena saya ingin memperkuat fungsi “ke-ibuan” saya, saya juga bergabung dengan Kelas Ibu Mengajar, dan saya mendaulat Umi Kurniasari Mulia, founder LPPA dan Gerakan Ibu Mengajar sebagai penasehat spiritual saya. Beliaulah, salah satu saksi hidup air mata kesulitan masa masa titik terendah dalam hidup saya.

6.  Menghadiri berbagai majlis ilmu dan memperbanyak sedekah.
Masyaallah tabarakallah, sungguh kita dimudahkan oleh zaman ini bahwa berbagai masjid dan tempat sudah sangat mudah diakses, dan banyak sekali tersedia kajian yang dapat dinikmati. Tinggal memilih yang sesuai dengan keyakinan. Ini sangat perlu untuk memperkuat dan mempertajam mata hati untuk melihat sesuatu yang benar tetaplah menjadi benar.
Bersedekah, mewakafkan ilmu yang dimiliki buat anak anak dan perempuan kurang beruntung saya percaya dapat membantu membuka jalan jalan rezeki.

7.  Mengikuti berbagai sertifikasi terkait bidang yang ingin digeluti selanjutnya.
Saya mengambil aneka sertifikasi di bidang kuliner, dan kewirausahaan untuk mendukung langkah langkah kedepan.

8.  Menambah Skill dan kompetensi.
Sebagai Antropreneur yang menyukai dunia pendidikan, saya tak ingin, mengajar hanya bermodalkan ijazah S1 dan S2 saja. Saya kembali mengambil kursus- kursus singkat, workshop bidang kuliner, seminar  dan training di bidang pendidikan dalam rangka meng-upgrade wacana berfikir saya.

9.  (Tak bosan) mencari referensi
Untuk melengkapi informasi, saya mengakses youtube dan membaca banyak buku buku. Sambil mengedukasi anak anak saya, kami juga berkegiatan di Perpustakaan Daerah.

10.Menyusun rencana usaha
Apa usaha yang mau saya pilih. Kenapa saya memilih itu? Alasan pertama saya menentukan usaha selain melihat peluang yang ada, saya juga ingin usaha ini berangkat dari hobi. Logikanya kalau usaha yang digeluti sesuai passion, saya tetap bahagia dan tidak merasa tertekan melakukan upaya upaya besar untulk ,mencapai target target saya. Walau Bang Roma marah Ani begadang, saya tetap bisa melek dua hari dua malam meyiapkan orderan. Asal hasilnya jutaan..Hahaha..

11. Mencicil Perlengkapan Usaha
Selain perlengkapan saya juga menyiapkan logo usaha, kartunama dan kemasan yang baik untuk produk yang akan saya hasilkan. Jadi dari awal saya sudah menuliskan kira kira siapa calon customer saya dan seperti apa produk saya ingin dikemas.
Untuk mencicil perlengkapan Usaha ini, jujur saya mulai dari modal Rp. 200.000 di tahun 2010. Sampai akhirnya usaha saya ada di titik ini, murni tidak ada pinjaman dari pihak eksternal. Usaha ini membesarkan dirinya sendiri dari keuntungan sedikit demi sedikit yang saya kumpulkan.

Menurut kawan kawan pembaca apakah langkah langkah di atas mudah dilakukan? Tergantung tekad. Jika sudah ingin dan menggebu-gebu, biasanya orang tak akan merasa kesulitan. Talk Less Do More. Yang penting gak bacrit (banyak crita).  Jujur, memikirnya lebih lelah daripada melakukannya. Maka memang sebaiknya lakukan yang sudah dirancang, dan rancanglah yang diimpikan. Biar gak apa kali brow..
Saya ingat suami saya pernah bilang ketika saya ketakutan menghadapi sebuah uji kompetensi : “ketakutan cuma ada di fikiran saja, bukan di kenyataan”
Dan akhirnya saya memilih menghadapi kenyataan.  Hari ini, tepat dua tahun saya merdeka secara finansial. Tidak lagi bergantung dari “gaji bulanan” saya bisa menciptakan “uang” kapanpun saya mau atas izin Allah. Karena, saya yakin, berapapun uang yang kita punya hari ini, bukan karena kita pintar mencarinya, bukan karena kita hebat mengumpulkan, tapi karena Allah, Sang pemilik langit dan bumi, Sang Maha pemberi rezeki, memutuskan sesuatu itu berada dalam genggaman kita sekarang. Sebaliknya, jika Dia tak ingin, dalam sekali “kun faa yakun” Dia akan habiskan semuanya tanpa kita kuasa menolaknya. Sebagai hamba kita bisa apa???? Kata Allah, “Aku tergantung prasangka hambaku” ya kalau kita mau baik baik saja, mintalah pada-Nya. Udah itu aja. Yang lain lainnya hanya ikhtiar. Jangan kerjakan pekerjaan Tuhan kalau kau tak mau dilaknat oleh dunia. “Kejarlah akhiratmu, maka dunia akan mengikut”
Tak cukupkah janji Allah itu? Kalau menurutmu tak cukup, sesungguhnya aku meragukan keimananmu. Hehee…

Bukannya sok beriman gaesss… Apapun, semoga bacaan ini ada manfaatnya bagi kawan kawan yang merasa senasiph dengan saya kemarin. Semoga tulisan ini bisa menjadi alat bergandengan tangan yang cukup bisa dirasa walau tak dapat diraba.
Selamat  mengambil keputusan dan menerima konsekwensinya ya.. Sudah siap pensiun besok?

Sesuatu dikatakan berhasil jika ada barang buktinya hahaha...


15 komentar:

  1. Ruarrrr biasa..

    Ada temen yang resign dari kantor nya karena ingin fokus mengasuh anak.
    Tapi dia tok mengasuh. Begitu kehidupan berbalik 180 derajat dia stress apalagi ppas buka timeline sosmed. Ngeliat si A begini, si B begitu. Envy menghantui.
    Trus sharing ke awak.
    Trus awak bilang aja..

    "SSemua orang di sosmed itu, hanya menampakkan beranda rumahnya, gak ada yang menyajikan dapur ataupun belakang rumahnya yang berantakan. Jadi kita lihat si A prestasinya begini begitu, kelihatan enak. Bisa jadi ia sedang menyimpan duka, banyaklah.. entah rindu kehadiran anak, entah rindu pengen punya sandaran hidup, entah rindu pengen sesuatu yang Justru adanya di kamu. Jadi, hidup yang kita tangisi, terkadang adalah hidup yang orang lain impikan"

    Setelah itu, Alhamdulillah dia udah punya kegiatan bermanfaat.

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah.. itulah kadang ya Cha benteng dari dalam lebih Penting. Karena hati kita Kita yang benahi.bukan orang lain.. semoga kawan icha senantiasa dimudahkan hari hatinya oleh Allah yaaaa

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Keren sekali. Terimakasih sudah mau berbagi pengalaman yang luar biasa cantik 👏👏

    BalasHapus
  5. Menginspirasi sekali kak siska. Memang keluarga itu penting banget dan harus diutamakan. Apalagi anak2 pastinya selalu butuh sosok ibu kan di rumahnya

    BalasHapus
  6. Wuah keren banget. Terima kasih tipsnya. Sebenarnya bagi saya sendiri mengatur keuangan itu enggak mudah.

    BalasHapus
  7. Walaupun dosen BUP nya 65 tahun, wallahua'lam yaa,, klpun dikasih usia yg panjang sm Allah, keknya capek x lah tua² pun masuk kelas ngadapin mhsw selevel cucu awak. Wkwk. Palagi si abang ytc nawarin jelong² aja berdua, umroh bolak-balik, ngunjungi anak-menantu dan cucu. Hihi...

    Nice share, Kak Siska... Like it

    BalasHapus
  8. Sepertinya aku juga akan memasuki masa pensiun itu nanti....hmmm.

    BalasHapus
  9. Mantap dah buk dosen dan enterpreneur satu ini, makasih banyak ulasannya kak. Seperti kami yang pegawai swasta perlu memikirkan masa pensiun dari sekarang. bukan hanya soal materi tapi juga tentang hidup yang bermanfaat.

    BalasHapus
  10. Wah, keren kakak, jadi Nara sumber. Ilmunya menambah wawasan. Thanks ya sudah berbagi

    BalasHapus
  11. Setelah baca artikel dari BukDos ini, Jadi pengen pensiun cepat cepat, kak. Langkah pertama yang diterapkan itu, yang soal utang. Hahahah

    Keren kali BukDos ini. Pengusaha, motivator, penulis. Ah pokoknya paket lengkaplah. Mantul

    BalasHapus
  12. Wah senang banget dengan artikel ini kak, apalagi menjelang pensiun nanti maka menyiapkan usaha adalah lebih baik ya kk.

    BalasHapus
  13. Kapan nge-podcast lagi kita? Hahahaa

    BalasHapus
  14. Artikel yang sangat menarik mbak. Kebetulan saya juga lagi prepare pensiun dini ini. Dibutuhkan kesiapan mental dan kesiapan finansial. Baca ini langsung terpacu. Thankyou

    BalasHapus
  15. Luar biasa kak siska, alhamdulillah saya dapat insight baru nih apa saja yang harus saya lakukan di masa pensiun nanti meski saya hanya IRT dan blogger saja :)

    BalasHapus